
Matahari bersinar cerah, mata Isel terbuka merasa ada cahaya masuk menyinari wajahnya. Sebelah mata terbuka melihat lelaki yang dicintainya berdiri di depan jendela menatap keluar.
Senyuman Isel terlihat sangat mengagumi dan mencintai Dean lebih dari dirinya. Rasa cinta tidak berkurang sedikitpun sejak pertama dirinya sadar jika mencintai Uncle Nya.
"Uncle," panggil Isel pelan.
Dean membalik badannya melihat ke arah Isel yang berusaha untuk duduk, tapi masih kesulitan karena perutnya keram.
"Apa aku menganggu tidur kamu?" Dean membantu Isel duduk bersandar di ranjang.
Kepala Isel tertunduk, panggilan aku kamu terasa tidak nyaman di telinga Isel, dirinya memiliki pikiran buruk jika Dean canggung.
"Bagaimana kondisi Uncle?" sekuat mungkin Isel menahan air matanya agar tidak menetes.
"Aku baik-baik saja," jawab Dean yang menatap wajah pucat Isel.
Dean duduk di pinggir ranjang, melihat tangan Isel gemetaran. Menahan kesedihannya yang sangat dalam.
"Terima kasih hadiah kecilnya, aku bahagia menerimanya. Maaf, aku tidak bisa menjaga kalian berdua, maaf karena terlambat tahu, maaf juga ...." Dean tidak bisa meneruskan ucapannya karena dadanya terasa sesak.
Tangisan Isel langsung pecah, tubuhnya terguncang mendengar ucapan suaminya yang meminta maaf.
"Isel yang minta maaf, seharusnya Isel periksa sejak awal, tidak menunda lama dan langsung memberitahu bukan menghindar, Isel salah yang tidak bisa jaga diri. Kedua tangan Isel menutup wajahnya menangis histeris.
Kedua tangan Dean langsung memeluk erat, mengusap punggung Isel dengan lembut menangis bersama.
Isel tidak mungkin menutupi kehamilan jika tidak karena ucapan Dean yang ingin menunda kehamilan.
"Tidak ada yang salah, kita berdua hanya sedang diuji, hadiah kecil yaang dititipkan diambil kembali karena memang sebagai ujian untuk kita. Insyaallah kita diberikan rezeki dan nikmat dari ujian ini. Isel jangan menyalahkan diri sendiri, Isel wanita hebat, Isel kuat dan wanita terbaik." Pelukan Dean erat, menguatkan Isel namun tidak mampu menguatkan dirinya.
"Uncle juga tidak boleh menyalahkan diri sendiri, Isel tahu apa yang Uncle lakukan demi kebahagian Isel. Maafkan Isel yang belum bisa menjadi istri dewasa, istri yang menjadi impian Uncle. Isel tidak meminta apapun, hanya ingin Uncle selalu ada di sisi Isel." Tangisan keduanya pecah saling peluk karena merasa sangat kehilangan.
Senyuman Dean terlihat mengusap wajah Isel, dia bahagia meskipun istrinya kekanakan, nakal, sulit diatur dan keras kepala.
Usapan tangan Dean lembut, mengecup pelan kening Isel penuh kasih sayang, si kecil yang sangat dicintainya.
__ADS_1
"Aku sangat mencintai kamu, bahkan aku takut jika melebihi apapun sehingga bisa gila jika kehilangan kamu. Isel pasti tidak percaya, bagaimana cara mengatakannya?"
"Isel percaya, Isel tahu Uncle mencintai Isel lebih besar dari cinta Isel. Isel tahu itu," balas Isel yang langsung memeluk leher Dean sangat erat.
Kedua tangan Dean mengecek tubuh Isel, melihat ada beberapa luka, merasa sakit melihat luka yaang sudah kering.
"Isel baik-baik saja Uncle," ujar Isel yang paham kecemasan suaminya.
"Bagaimana bisa baik, ini luka, tangan dan kaki juga luka."
Taw kecil Isel terdengar, beberapa letak luka Dean juga Isel tunjukkan jauh lebih parah dari dirinya.
Apa yang Dean cemaskan tidak sebanding dengan rasa sakit yang Dean rasakan. Isel suah terbiasa luka, sudah biasa mengalami cindera, apalagi hanya lecet hal kecil baginya.
"Uncle, jangan panggil Isel aku kamu, setiap mendengarnya Isel cemas," pinta Isel merasa tidak nyaman dengan sebutan Dean.
"Kenapa?"
"Memangnya Uncle nyaman?"
Bahu Dean terangkat, merasa biasa saja dan tidak ada yang aneh. Dirinya sudah meminta Isel memanggil dengan sebutan lain, tapi masih memanggil Uncle.
"Emh ... Apapun selain Uncle."
"Abi." Tawa lepas Isel terdengar merasa lucu tidak pernah terpikirkan akan ada panggilan Abi.
Dean juga ikutan tertawa, panggilan Abi seperti Dean ayahnya Isel karena dia masih sangat muda meskipun selisih enam tahun.
"Isel panggil Bi, terus Uncle Bun." Senyuman Isel terlihat lebar merasa lucu dengan panggilannya.
"Buntel," balas Dean diiringi tawa.
Pukulan Isel mendarat, panggilan romantisnya hancur karena sebutan Dean yang memanggil buntel padahal Isel kurus langsing seperti tiang listrik.
"Bunda Uncle, enak saja panggil Buntel." Tatapan Isel sinis karena tidak suka dianggap gendut.
__ADS_1
Tawa Dean terdengar, mengusap wajah menggemaskan Isel yang membuatnya gemes ingin menciumnya, tapi sadar jika Isel masih masa pemulihan.
"Panggil Bunda Isel." Kedua alis Isel terangkat berkali-kali menggoda suaminya.
"Siap Bun." Dean hormat di depan Isel.
Dari depan pintu Gemal berdiri mendengarkan candaan keduanya dari luar, air mata Gemal menetes langsung ditepis cepat.
Dibalik ujian hidup terkadang ada hikmah yang bisa dipetik, hubungan yang Gemal pikir akan berakhir cepat karena perbedaan sikap dan prinsip salah besar.
Masalah yang menimpa Putrinya mengajari keduanya untuk saling mengutarakan rasa, saling percaya. Masalah tidak membuat keduanya saling menyalahkan, tapi saling menguatkan.
"Papa Gem kenapa?" goda Diana yang merasa lucu dengan suaminya yang terlihat tegar padahal menahan tangis.
"Kenapa aku, hanya menunggu Dean yang sedang menemani Isel bangun." Wajah Gemal melihat ke arah lain.
"Gemal Gemal, aku mengenal kamu puluhan tahun, bagaimana mungkin aku tidak tahu pikiran kamu?" Kepala Diana geleng-geleng, keraguan suaminya sangat nampak sehingga selalu mengatakan putrinya akan cepat berpisah.
"Emh ... Aku bahagia melihat keduanya bisa akur, cinta memang aneh." Gemal tersenyum menatap wanita cantik yang selalu membuatnya jatuh cinta.
"Buang pikiran kotor kamu, ingat sudah tua. Jika Isel punya anak kamu dipanggil Kakek," sindir Diana menahan tawa melihat suaminya.
"Kenapa harus Panggil Kakek, meskipun sudah tua orang berpikir aku tiga puluh tahun lebih muda, kamu harus mengakui itu jika Gemal masih gagah perkasa."
Kepala Gemal dipukul oleh Daddy Dimas, sejak muda sampai tua Gemal masih saja dengan angkuh dan bangganya menyombongkan dirinya yang gagah perkasa padahal paling lemot dan geraknya sangat lambat. Leletnya gemal tidak ada lawannya.
Saat semua orang berlari mengejar penjahat, Gemal menyempatkan diri untuk mandi bahkan ganti baju, tidak lupa parfum bau kemenyan yang selalu dibawanya.
"Daddy tidak boleh menjelekkan Gemal, sekali saja bangga dengan kualitas Gemal biar begini kita besan." Gemal langsung lari sebelum Daddy Dimas memukulnya lagi.
"Tidak ada yang aku banggakan dari kamu, jika bukan demi putriku sudah lama kamu, aku coret dari daftar menantu." Dimas menatap ke arah kamar melihat Isel tertawa bersama Dean.
Senyuman Mommy Anggun juga terlihat, tidak terasa air matanya menetes jatuh merasa terharu melihat kemesraan kecil dari keduanya.
Diana mengusap air mata yang mengalir dari mata Mommy, tidak terbentuk sosok Dean yang luar biasa dan Isel yang kuat tanpa bimbingan dari Mommy Anggun yang sangat dibanggakan oleh Di.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira