
Sekuat tenaga Dean berlari ke arah Isel yang sudah berlumuran darah, mata Isel juga sayu melihat langit yang mulai senja.
Terasa dirinya sedang jatuh dari ketinggian sehingga matanya panas, tubuhnya sakit bahkan tidak bisa digerakkan.
"Sel, sayang bangun." Dean mengusap wajah Isel agar membuka matanya.
"Uncle, maafkan Isel. Tidak ada maksud Isel menutupi, tapi Isel takut jika tidak diterima." Tangan Isel masih menggenggam kotak kecil yang ingin dia berikan kepada Dean.
Air mata Isel menetes memberikan kepada Dean yang sudah menangis tidak kuat melihat kondisi Isel penuh darah.
"Kita ke rumah sakit dulu," ucap Dean yang mencoba mengangkat Isel, tapi kehabisan tenaga.
"Uncle, Isel ingin jadi Ibu, boleh ya?" mata Isel gelap tidak bisa melihat wajah suaminya lagi.
Hanya suara Tangisan Dean yang terdengar, anggukan kepalanya tidak terlihat oleh Isel karena sudah tidak sadarkan diri.
"Isel, bangun." Bian mendekat menyentuh wajah Isel.
"Jangan sentuh istriku!" teriak Dean menggema, memberikan ancaman jika sampai terjadi sesuatu pada istri dan anaknya Bian juga harus mati.
Suara langkah kaki berlari terdengar, Brayen menatap Isel panik langsung menggendongnya untuk dilarikan ke rumah sakit.
"Kak Dean di mana kunci mobil?" Brayen membantu Dean berdiri karena keselamatan Isel jauh lebih penting.
Tangan Brayen gemetaran, menghubungi Vio jika Isel mengalami kecelakaan bersama dengan Dean dan Bian.
Ketiga mengalami luka serius, tetapi hanya Isel yang tidak sadarkan diri. Penuh darah dari pinggang sampai kaki.
"Hubungi Dokter, Brayen," pinta Dean memeluk tubuh Isel yang berkali-kali diminta bangun, tapi tidak membuka matanya.
Tangisan Brayen juga terdengar tidak tega melihat kondisi Isel dan Dean yang sama-sama penuh darah.
Sampai di rumah sakit, Isel langsung dilarikan ke dalam ruangan rawat bersama dengan dokter yang Dean hubungi secara khusus.
"Dok, istri saya sedang hamil. Tolong selamatkan mereka berdua, tolong selamatkan anak dan istriku." Air mata Dean tidak terbendung lagi jika bisa tukar dengan nyawanya saja.
"Kita usahakan Pak Dean, kamu juga harus dirawat." Dokter meninggalkan Dean yang menunggu di depan pintu.
__ADS_1
Kedua tangan Dean saling genggam, tubuhnya penuh dengan luka bahkan darah mengalir dari kepalanya.
"Kak, sebaiknya di obati dulu. Ini lukanya juga parah, kaki Kak Dean juga robek." Brayen berjongkok melihat celana Dean sobek, baju kemeja kotor.
Tidak ada jawaban dari Dean, dia masih menggenggam tangannya kuat menatap pintu kamar rawat Isel.
"Isel hadir ke dunia ini dengan perjuangan panjang, bahkan dia hampir tidak selamat. Saat pertama melihatnya aku berjanji akan mencintai dan menjaganya dengan nyawaku tidak akan memberikan ada yang menyakiti, tapi kenyataannya aku penyebab lukanya." Dean mengusap air matanya yang tidak bisa berhenti keluar.
Brayen mengusap punggung Dean, memintanya tidak menyalakan diri sendiri. Kecelakaan yang terjadi tidak ada sangkut pautnya dengan Dean, dia tidak melakukan salah apapun.
"Sebagai suami aku tidak berguna, bahkan tidak tahu dia sedang mengandung. Aku sejahat itu." Mata Dean terpejam tidak sanggup cara menghadapi keluarga juga melihat Isel lagi.
Dean menolak untuk diobati, dia akan tetap menunggu sampai dokter keluar setelah mengobati Isel yang mengalami cendera parah.
Berjam-jam Isel di dalam ruangan, pada akhirnya dibawa ke ruangan operasi karena mengalami perdarahan hebat.
Tubuh Dean semakin lemas, dokter memintanya menandatangani persetujuan untuk menindaklanjuti Istrinya.
Tangan Dean gemetaran, terpaksa menadatangani demi keselamatan Isel yang pertama kalinya masuk rumah sakit dalam keadaan kritis.
"Dean, istri kamu mengalami keguguran. Kita prioritas ibunya karena anak kalian tidak bisa diselamatkan lagi." Dokter melangkah pergi ke ruangan operasi.
"Maafkan Uncle Isel, kamu harus bangun ya sayang." Dean mengusap wajah Isel menerima apapun konsekuensinya sekalipun Isel akan membenci dirinya.
Melihat kondisi Dean membuat Brayen menangis, tidak menyangka jika lelaki dingin ternyata bisa menangis histeris.
Di depan ruangan operasi Dean masih duduk menunggu, tidak peduli lagi dengan suara ponselnya.
"Dean," panggil Aira yang baru tiba dan mendapatkan kabar soal kecelakaan Isel.
Panggilan Aira tidak menyadarkan Dean yang masih dalam lamunan dan tangisannya. Dean yang sadar pasti jauh lebih terpukul.
"Bagaimana kondisi Isel?" Ai menatap Brayen yang berdiri di samping Dean.
"Isel ada di dalam, dia keguguran." Brayen mengusap air matanya melihat selebriti terkenal ternyata keluarga Isel.
Mendengar kabar Isel menjalankan operasi, Juan meminta izin kepada Dokter yang menangani untuk ikut masuk.
__ADS_1
Aira duduk di samping Dean, mengusap punggung adik lelakinya yang sedang diuji kesabarannya.
"Kenapa lukanya tidak diobati?" Ai tidak kuasa menahan air matanya melihat Dean penuh luka.
Kepala Brayen geleng-geleng, Dean tidak merespon sejak Isel dinyatakan keguguran setelah lebih dari empat jam didalam ruangan.
"Kapan kejadiannya?"
"Aku tidak tahu pasti, kedatangan aku ke kantor Kak Dean karena biasanya antar jemput dia kerja karena selalu tidur di mobil, tapi saat tiba kecelakaan sudah terjadi. Kita ke rumah sakit, Isel langsung dibawa Dokter lebih dari empat jam dokter menyatakan Isel keguguran dan melakukan operasi karena perdarahan hebat." Operasi sempat ditunda karena membutuhkan donor darah, dan baru dilakukan setelah pagi.
Operasi sudah berlangsung selama tiga jam, dan masih belum ada tanda-tanda dokter keluar untuk memberikan kabar baik.
Ai mencoba memanggil Dean yang ternyata sudah diam selama berjam-jam, tubuhnya yang lemas juga pikirnya yang kacau membuat Dean diam.
"Jangan seperti ini Dean, kamu harus menyemangati Isel agar dia cepat pulih dan menerima ujian dengan lapang dada." Aira memeluk Dean yang masih saja diam tidak meresponnya.
Tangisan Aira terdengar memanggil dokter untuk mengobati luka Dean, memasang infus karena tubuh Dean terlihat lemas sekali.
"Dok, bagaimana kondisi Isel?" Dean menyentuh tangan dokter memohon agar menyelamatkan istrinya.
"Dia baik-baik saja, hanya ada perdarahan sehingga harus diatasi. Pendarahan terjadi karena benturan keras diperut sehingga keguguran. Berapa usia kandungan Isel?"
Dean menggeleng, dia tidak tahu apapun bahkan tidak tahu jika istrinya hamil. Dean tidak bertanggung jawab atas anaknya yang tidak bersalah.
"Usianya empat bulan, kita hanya minta Isel dalam keadaan baik dan bisa pulih seperti sedia kala." Ai membantu dokter mengobati luka Dean yang sudah membengkak karena semalaman tidak diobati.
Pintu ruangan operasi terbuka, Dean langsung berdiri melangkah mendekat, tapi tubuhnya tersungkur.
"Dean, kenapa harus begini?" Ai panik melihat jarum infus patah sampai darah menetes.
Juan keluar dari ruangan operasi, membantu Dean untuk berdiri. Percuma Dean menemui Isel karena dia juga tidak bangun karena pengaruh obat.
"Suntikan mana?" Juan menyuntik Dean yang perlahan memejamkan matanya tidak sadarkan diri.
Kedua tangan Juan memeluk Dean, biasanya Dean yang paling kuat dan selalu menyempatkan, tapi saat terpuruk baginya bangkit saja tidak mampu.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira