
Rasa penasaran Dean sangat besar, apa yang Bian inginkan dari Weni sampai wanita bar-bar menolaknya, meksipun hanya sekedar membantu.
"Sayang, memangnya apa yang Bian inginkan?"
"Abi jangan tahu, ini rahasia perempuan." Jari telunjuk Isel berada di bibirnya.
"Memangnya Bian itu perempuan?" ekpresi Dean kesal karena menunggu Weni yang bersembunyi di kamar karena menolak untuk pergi.
Ketukan tangan Isel terdengar, meminta Weni berbelas kasihan kepada Bian yang sedang terluka hatinya.
Suara pintu terbuka dari luar terdengar, kepala Dean dan Isel menoleh secara bersamaan melihat Ren yang baru kembali.
"Dean, Ghiselin, kenapa kalian berdua ada di sini?" Ren menatap binggung.
"Kamu ngapain di sini, jangan jadikan alasan saudara?" Dean meminta Ren duduk.
"Hanya berkunjung saja, soalnya aneh beberapa bulan ini Bian tidak muncul lagi setelah hampir ribut." Ren menyiapkan makanan yang dibelinya.
"Apa yang Bian inginkan dari Weni?"
"Dia menginginkan menikah, tapi menolak memiliki anak atau kebalikannya, intinya seperti itu."
Kedua mata Dean melotot besar, tidak berkedip sama sekali melihat Ren yang binggung dengan tatapan mata Dean.
Rasa penasaran Dean akhirnya terjawab, ternyata tidak jauh dari hubungan orang dewasa.
"Kenapa Weni menolak?"
"Seandainya itu kamu, apa akan menerima?" pertanyaan Ren kembali membuat Dean terdiam.
"Lalu apa yang Weni inginkan?"
Helaan napas Ren terdengar, tidak banyak yang diinginkan oleh seorang wanita melainkan ingin dicintai. Pernikahan tidak akan bahagia tanpa cinta, dan hadirnya seorang anak juga harus didasari oleh cinta.
Alasan Bian ingin menikah seperti pemaksaan, dia tidak membutuhkan cinta paling penting Weni menerimanya.
"Aku mendengar kabar jika Bian mencari seseorang, dia mengerahkan banyak orang untuk menemukannya, tapi sepertinya sulit karena orang yang dicari hilang tiga puluh lima tahun yang lalu," ucap Ren mencoba menceritakan apa yang didengarnya dari banyak orang.
"Dia mencari ibunya, seorang putra pasti akan mencari sosok ibu meksipun hanya menemukan tumpukan tanah."
__ADS_1
"Benar juga, lalu bagaimana kabarnya?"
Dean tidak tahu pasti detailnya, Bian berhasil menemukan ibunya yang sudah masuk rumah sakit jiwa selama puluhan tahun, mungkin dia juga orang pertama yang datang di tempat penampungan hingga menjadi rumah sakit besar.
Bukan hanya menerima kenyataan sosok ibu mengalami kegilaan, Bian harus terima kebenaran jika Ibunya mengindap tumor ganas.
"Tumor ganas, apa sudah ditangani?"
"Ya, cuman kesempatan hidupnya sangat kecil," balas Dean yang turut prihatin.
Suara pertengkaran Isel dan Weni terdengar, Weni masih sibuk mengurus pekerjaan karena sudah tenang setelah Bian tidak muncul lagi.
"Apa Weni mencintai lelaki lain, apa kalian berdua memiliki hubungan?" Dean celingak-celinguk melihat Weni dan Ren.
"Gila, itu tidak mungkin. Aku menganggapnya seperti adik, tidak mungkin ada rasa lebih."
"Bagaimana jika Weni yang menyukai kamu?"
"Pak Dean sejak kapan mulai kepo dengan hubungan orang?"
Senyuman Dean terlihat, memang ada yang aneh dari dirinya sejak menikahi Isel ada banyak hal aneh yang terjadi bahkan kontrol diri sering lepas.
"Sel, ayo kita pulang sudah larut malam," teriakkan Dean terdengar kencang.
"Suami kamu minta pulang." Weni mendorong kursi Isel agar segera menjauh.
"Membawa Dean sama saja membawa bayi ada saja suaranya merengek minta pulang." Isel mendekati Weni masih belum menyerah.
Bicara baik tidak bisa, jurus terakhir memelas berharap sahabatnya sedikit perihatin dengan kondisi Bian.
"Sel, aku masih muda dan tujuan aku masih panjang, seburuk-buruk aku mengiginkan pasangan yang baik, bukan bajingan seperti Bian." Tatapan mata Weni tajam meminta Isel pulang dan tidak membahas Bian lagi.
"Apa kamu mencintai lelaki lain?"
Kepala Weni menggeleng, dirinya tidak tertarik untuk jatuh cinta karena ada banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan.
Helaan napas Isel terdengar, akhirnya menyerah dan menerima keputusan Weni untuk tidak pernah menemui Bian lagi.
Tidak tahu masalah apa yang terjadi sehingga Weni terlihat tidak menyukai Bian, bahkan menyebut namanya saja enggan.
__ADS_1
"Aku merasa bersalah kepala Laura, tapi sempat keluar kata-kata untuk menunda, tapi Laura terlalu terburu-buru hingga kejadian ini. Brayen terlihat sangat baik, setia dan selalu ada, tapi satu kekurangannya dia belum puas karena hidup dalam kesulitan. Berbeda dengan Bian, dia tahu memiliki segalanya, tahu rasanya jatuh bangun, dan tahu baik dan buruknya tindakan hingga bisa memperkirakan resiko. Aku tidak ingin ikut campur Wen, tapi sebagai seorang anak aku terluka melihat Bian yang menangis sesenggukan di depan mamanya." Isel berdiri dari duduknya untuk pamit pulang.
"Kamu bicara terlalu panjang, apa bedanya Bian dan aku. Kita sama-sama tidak memiliki orang tua. Aku berada di sini bertahan dengan dua kaki karena apa? Alasan aku tidak memiliki orang tua Sel," ujar Weni meminta Isel memahami kondisinya yang tidak kalah menyedihkan dari Bian.
Tidak ada jawaban lagi, perlahan Isel menutup ruangan kamar Weni menatap suaminya yang sudah menunggu.
Senyuman kecil Ren terlihat, menawarkan makanan kepada Isel yang nampak kecewa misinya gagal.
"Sayang, aku sudah tahu alasan Weni menolak Bian. Bian ingin menikah tanpa anak, dan Bian ingin anak tanpa menikah, antara dua itu dan Weni sudah benar untuk menolaknya." Senyuman Dean terlihat merangkul istrinya untuk pulang.
Sampai di depan lift, Isel melihat ke arah pintu. Berjalan masuk bersama dengan Dean yang memperhatikan wajah Isel.
"Itu hanya alasan saja, masalah lainnya bukan itu."
"Ada yang lain lagi?"
"Ya, tujuan Bian datang ke kota ini melenyapkan seluruh keturunan keluarga Weni, tapi dikarenakan Weni keras dia mampu bertahan. Bian ingin menikahinya sebagai ganti sudah melenyapkan keluarga Weni, meksipun kejadian sudah lama, tetap saja Weni tidak mungkin menerima lelaki yang melenyapkan keluarganya," jelas Isel alasan pertama Weni menolak.
"Jika begitu lalu apa alasan kamu memaksa Weni, sudah pasti itu hal yang menyakitkan."
"Sakit jika tidak bisa memaafkan, tapi Weni bisa." Isel melangkah keluar dari lift.
Tangan Dean merangkul pinggang, berjalan cepat agar Isel tidak berjoget jika mendengar musik.
"Bi," panggil Isel.
"Sudah ayo pulang, kamu dipecat jadi Mak comblang. Keduanya tidak boleh bersama karena akan saling menyakiti." Dean membuka pintu mobil meminta Isel masuk.
Kepala Isel mendongak ke atas melihat Weni berdiri di balkon lantai atas, terlihat sekali wanita nakal yang begitu profesional.
"Kenapa pakaian Weni begitu, mirip hantu." Dean masuk mobil melaju pergi.
Tangan Weni melambai melihat Isel berjalan pulang, Ren juga berdiri di samping Weni melihat mobil Isel pergi.
"Kakak tahu kamu masih belum bisa menerima, tapi Bian bisa baik jika diperlakukan baik, tidak ada namanya orang jahat jika dia diperlakukan layaknya manusia." Ren menepuk pundak adik perempuannya yang pernah menyelamatkan hidupnya.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1