
Akhirnya Lea tenang sesekali melirik dua anak kecil yang masih bermain pedang, keduanya sama-sama pendendam.
"Mereka sebenarnya tidak nakal, tapi sedikit nakal." Mami Al memijit pelipisnya melihat kedua cucunya.
"Kenapa ada anak nakal model mereka?"
"Tentu ada. Mami Mora wanita gila yang selalu bertengkar sejak kecil, sedangkan Mamanya Mira sama gilanya." Senyuman Aliya terlihat, sehingga itu keluarga mereka stop anak perempuan karena takut.
"Nenda." Suara Hasan dan Husein terdengar membuat Lea mengangkat kedua kakinya ketakutan.
Tawa Aira terdengar, duduk di samping Lea yang nampak takut. Keduanya memeluk Aliya dengan nada merayu meminta izin.
"Mereka tidak punya pengasuh?"
"Kamu ingin mencobanya?" Ai menawarkan gaji besar.
"Tidak akan pernah. Aku bisa mati muda karena mereka, apalagi anaknya model kembar beda rahim." Lea langsung merinding dia benar-benar ketakutan.
Suara tangisan terdengar, Mira terhentak jatuh sampai kepalanya terbentur. Lea spontan berdiri langsung melangkah mendekati Mira yang tidak bisa berdiri lagi.
"Kenapa saling menyakiti? ini Mira atau Mora, ayo bangun Aunty lihat kepala kamu." Lea menatap ke arah tempat duduk, tidak ada satupun yang berdiri mendengar Mira menangis.
"Sakit kepala Mira, Mora jahat tidak ingin berteman lagi. Mama Papa sakit." Mira langsung berlari pulang.
"Mira, kita hanya bermain. Mora tidak sengaja, maafin." Tangisan Mora terdengar, membawa dua pedang berlari pulang.
Kepala Lea celingak-celinguk dia binggung dengan dua anak kecil yang main pukul, tidak ada satupun yang mencemaskan mereka.
"Siapa nama kamu? coba lihat di jendela kemungkinan mereka sudah akur." Mami Al menujuk ke arah jendela.
Terlalu penasaran, Lea langsung mengintip melihat salah satu dari merangkul dan mengusap kepala. Pulang bersama saling genggam tangan.
"Mereka sudah akur?"
Tawa Aira dan Dean terdengar, mereka sudah biasa melihat keduanya bertengkar dan berbaikan. Sama seperti kedua orangtuanya yang selalu bertengkar sampai babak belur, nanti juga baikan lagi.
__ADS_1
Mami meminta Juan menunjukkan kamar untuk Lea, membiarkannya menginap di rumah mereka sementara untuk menenangkan pikiran.
"Tunggu, aku rasa bukan tenang, tapi gila." Kepala Lea menggeleng baru menyadari jika wanita cantik yang membantunya dari Mira dan Mora ternyata Maminya Juan dan Aira.
"Mi, Lea di kamar Aira saja. Besok Ai juga tidak ada shooting." Ai menatap Blackat yang pamitan untuk pulang begitupun dengan Juan dan Dean.
"Tunggu, kenapa kalian berdua juga pulang?" Al menatap Juan yang tidak menganggap rumahnya sendiri, Dean juga yang rumahnya hanya beberapa langkah.
Juan memberikan alasan jika dirinya ada perkejaan penting sedangkan Dean ada banyak urusan persidangan.
"Bagaimana dengan kamu Blackat?"
"Black ada shooting iklan, dan beberapa pemotretan. Mungkin selesainya cukup lama,"
"Berhati-hatilah terutama dengan artis yang bernama Silvia, dan juga kembaran Lea. Kamu incaran pertama untuk hancur, perasaan Mami sedikit tidak enak soal kamu." Mami meminta Black pergi dan mengurus pekerjaan.
Senyuman Blackat terlihat, mengucapkan terima kasih karena sudah memperingatinya dan akan berhati-hati dalam pekerjaannya.
Black mengusap kepala Lea, saat Black dalam pelarian rumah keluarga Rahendra memang paling nyaman. Hati Black jauh lebih tenang, juga banyak melihat orang luar biasa di dalamnya.
"Iya, hubungi Kak Black jika butuh sesuatu." Black langsung melangkah pergi bersama Juan dan Dean.
Mulut Aliya tergagap, dia baru ingat jika Lea wanita yang bawa putranya di tempat umum. Kehidupan Lea ternyata tidak cukup baik, dia gadis muda yang memiliki banyak penderitaan.
"Kenapa putraku mencintai wanita seperti ini?"
Aira menerima panggilan pamitan kepada Maminya dan Lea karena ada urusan bersama Blackat. Staf yang menangani Ai baru saja mengkonfirmasi.
Di rumah hanya ada Lea dan Mami Al, sedangkan Papi Alt ada di luar kota urusan pekerjaan.
"Kamu bisa masak tidak, sore ini Papi Alt pulang,"
"Dia suami Tante, kenapa harus Lea yang masak?"
"Saya tidak bisa, jika kamu bisa ya bantuin." Aliya menatap kesal berjalan ke dapur, asisnten rumah tangga banyak, tapi Aliya inisiatif masak sendiri.
__ADS_1
Lea mengikuti, membantu mengiris bawang sampai air matanya menetes. Asisten rumah tangga Aliya menahan tawa.
"Ais sialan!" Al melangkah mundur saat api memakan panci.
"Anjing, tidak bisa masak diam saja Tante, nanti kita mati kebakaran di sini!" Lea melempar bawang langsung berlari menyelamatkan dirinya sendiri.
Asisten rumah tangga marah kepada Aliya yang selalu membuat kacau dapur, mengusir Al dan Lea yang sama-sama tidak bisa masak.
Keduanya duduk diam di ruang makan, tidak berani ke dapur lagi. Lea menahan tawa melihat nyonya rumah dimarah oleh maid.
"Kenapa aku tidak bisa masak?"
"Tenang saja Aunty, Lea juga tidak bisa. Papi mengatakan memasak bukan prioritas utama seorang wanita, jika memang tulus mencintai tidak akan menuntut untuk terlihat sempurna." Lea langsung tertunduk menahan sedih karena kedua orangtuanya pergi begitu saja.
Tidak ada lagi orang yang akan menganggap Lea sempurna, selalu salah di mata orang dan menuntut terus untuk terlihat baik. Hanya orang tuanya yang tetap tersenyum meskipun Lea melakukan kesalahan.
"Kamu sudah cukup dewasa untuk merasakan luka, tapi Mami dan kembaran Mami terluka sejak kecil sehingga kita berpisah." Al mengingat kembali masa kelam kehidupan menceritakan kepada Lea yang sangat terkejut dan merasa perjalanan hidup Aliya dan Diana mimpi buruk.
"Mama, Mami, Bunda, Mommy, jujur aku dan Alina ingin memanggil sosok ibu seperti itu, tapi kami tidak bisa. Wanita yang melahirkan kami berbeda,"
"Mami jangan diceritakan jika itu menyakitkan,"
"Itu bukan hal yang menyakitkan, semuanya sudah lewat. Baik aku maupun Alina hidup bahagia, kamu memiliki Putra dan Putri juga suami dan keluarga yang luar biasa. Lea, kamu juga mampu melewatinya meksipun prosesnya tidak mudah dan menyakitkan." Al ingin Lea mempertahankan saudaranya, menunjukkan jalan kebenaran. Bukan salah Lea lagi jika suatu hati saudaranya memiliki jalan salah.
Jangan membenci apa yang dilakukan, tidak ada yang tahu sesulit apa kehidupan Imel. Dulu Aliya mengaggap Diana sangat jahat dan kejam, dirinya korban yang paling tersakiti, tapi fakta tidaklah benar.
Kehidupan Alina juga sama menakutkan, dia harus bertahan hidup berpuluh tahun dengan hantaman luka.
"Lea, Mami ingin kamu menjadi kami sebagai contoh, jangan ikuti perintah dia, tapi pertahankan juga keyakinan kamu jika bisa mengubah dia." Al mengenggam tangan Lea yang pasti berat berdiri sendiri setelah kehilangan dua orang paling berarti.
Percuma Aliya meminta Lea kuat, hanya Lea sendiri yang mampu membangkitkan dirinya sendiri.
"Jika kamu takut maka sembunyi, tapi jika berani lawan takdir hidup kamu baik dan buruknya." Al tersenyum manis menatap wanita di hadapannya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira