SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
MENGINTIP


__ADS_3

Sudah tiga bulan sejak Angga kembali, media sudah tenang dan para penggemar melakukan acara syukuran di beberapa kota dan negara.


Angga meminta maaf kepada penggemarnya karena tidak bisa kembali secepat mungkin karena dia sedang masa pemulihan.


Rumah terasa sepi karena semua orang sudah tidur, Angga keluar dari ruamh melihat Aira yang sedang bermain bola basket sendirian.


"Aira, kenapa kamu belum tidur?"


"Lama tidak muncul, kita tinggal di rumah yang berhadapan, tapi begitu sulit untuk saling menyapa. Aku yang sibuk atau kamu yang sengaja menghindar." Ai melempar bola dengan sangat kuat.


"Kamu yang sibuk?"


Tatapan Aira langsung tajam, melangkah mendekati Angga yang menyalahkan dirinya, bahkan tidak sekalipun Angga mengirimkan pesan kepadanya.


"Kamu bahkan menolak untuk kerja sama,"


"Lea yaang menolak bukan aku." Angga menahan tawa melihat Ai yang baru kembali dari luar kota karena ada iklan yang membutuhkan waktu lama.


"Lea sialan, sampai kapan kamu akan berada di rumah?"


"Secepatnya aku keembali, maaf karena tidak menghubungi. Aku hanya ingin mengukur batas rindu,"


"Dua tahun juga kamu mampu, apalagi tiga bulan." Ai memalingkan wajahnya.


Pelukan Angga lembut dari belakang, meminta maaf kepada Aira karena tidak bisa selalu berada di sisinya.


Dua tahu bagi Angga sangat menyiksa, selain menanggung rasa sakit juga menanggung rindu. Angga akan segera kembali untuk mendampingi Aira baik nyata maupun online.


"Aira jangaan mencium aku,"


"Kenapa? Aira suka." Bibir Aira monyong tidak ingin Angga menghindarinya.


Angga menunjukkan tawaran pekerjaan untuknya, kerja sama bersama Aira namun harus mendapatkan izin dari Lea terlebih dahulu.


Tangan Angga ditarik ke rumah yang cukup jauh karena kakaknya dan Lea memilih tinggal di rumah sendiri.


"Kenapa kita di sini? sudah malam nanti mengganggu." Angga melihat ruangan yang masih kosong karena baru pindah.


"Dimana kamar mereka?" Ai berhenti di kamar yang ada suaranya.


Kedua tangan Ai menutup mulutnya, Angga juga langsung tertunduk mendengar suara dari dalam jika selama hampir lima bulan menikah Lea dan Juan tidak pernh berhubungan.


Senyuman Ai terlihat, ingin mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Terdengar suara Lea yang ketakutan karena melihat video pasangan yang bercinta sangat tidak nyaman.

__ADS_1


"Kita pergi dari sini Aira,"


"Tidak mau, Aira ingin melihat langsung." Senyuman Ai terlihat menatap Kakaknya yang duduk memangku istrinya.


Angga menarik tangan Aira untuk pergi karena tidak baik melihat orang dewasa melakukan hubungan.


"Kenapa ada suara orang?" Lea membuka pintu yang tidak tertutup rapat langsung menutup kembali karena tidak melihat satupun orang.


Juan menarik tangan istrinya, tidak ingin mendengar alasan ada orang. Lima bulan bukan waktu yang sebentar Juan menahan diri.


Tubuh lea digendong ditidurkan perlahan di atas tempat tidur. Tanpa bisa memberikan alasan kembali untuk menunda.


Kali ini Lea tidak bisa menghindari suaminya gegana ribuan alasan, Lea juga kasihan karena lelaki juga membutuhkan pemuas.


Baju Lea terbuka, hanya bisa diam saja merasakan permainan suaminya. Lea berpikir hanya Aira saja yang genit, ternyata kakaknya juga sama tidak bisa sabar.


Selama ini Juan diam karena tidak ingin bahagia atas banyaknya masalah, apalagi Lea yang cukup stres menyelesaikan pekerjaan di agensi karena kabar kembalinya Blackat membuat rusuh baik dari wartawan maupun dari penggemar.


Juan sabar menunggu sampai istrinya senggang, kesabaran juga ada batasnya. Juan ingin merasakan apa yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.


"Sayang, boleh ya?" izin Juan agar istrinya mengizinkan.


"Iya, tapi yakin aman?" Lea meremas seprai memejamkan matanya baru sebentar suara Lea mulai terdengar.


Suara Juan dan Lea terdegar secara bersamaan melepaskan apa yang selama ini keduanya tunda.


Di depan pintu, Aira masih menempelkan telinganya. Sedangkan Angga menatap tajam karena sikap jahil dan penasaran Aira sangat tinggi.


"Tidak terdengar apapun lagi, ini pintu kedap suara." Aira dan Angga melangkah pergi.


Senyuman Angga terlihat karena otaknya semakin dewasa jika berurusan dengan Aira yang tidak pernah malu dengan sikapnya.


"Jika Aira menikah, suami lama bergerak Aira yang langsung menerkamnya." Ai gemas karena kakaknya sanggup tidur dengan wanita yang tidak melayaninya.


Kepala Angga geleng-geleng melihat Aira yang ucapannya tidak disaring, Intinya hal yang enak-enak utama bagi Aira.


"Otak kamu kotor sekali Ai?"


"Memang iya, aku suka. Bukannya kita normal membutuhkan yang namanya belain." Tangan Aira membelai lehernya.


Angga langsung merinding bejalan berjauhan dengan Aira yang pikirannya sangat 18 atau 21 ke atas.


"Aku akan memikirkan kembali kontrakannya,"

__ADS_1


"Aira sudah menandatangani, mulai besok kita bisa kerja bersama, ke mana-mana bersama. Ai tidak ingin berpisah lagi, bahkan aku hampir memutuskan untuk berhenti saja, tapi Agensi tidak memiliki artis hebat." Ai berlaga sombong membuat Angga tertawa kecil karena Aira tidak salah bicara.


Nama Aira masih menjadi nomor satu, dia bukan hanya seorang selebriti namun aktris yang memiliki seribu bakat.


"Aku berharap Lea dan Juan akan bahagia?"


"Kenapa mereka, seharusnya aku yang didoakan bahagia," protes Aira yang juga ingin mendapatkan doa terbaik.


Kepala Angga gatal jika bicara dengan Aira yang selalu dirinya salah, Ai hanya mementingkan bahagianya tidak ingin peduli dengan kebahagiaan orang.


"Pulanglah istirahat, besok pagi aku jemput kamu,"


"Besok pagi kita sarapan di rumah Lea,"


"kenapa begitu?"


Tatapan mata Aira sinis, dia harus menyaksikan hasil dari pertempuran malam, jika jalan Lea tidak normal berarti Kakaknya berhasil, tapi jika tidak maka Aira harus membantu kakaknya.


Mulut Angga tergagap, dia berpikir wanita paling gila Isel, ternyata Aira sama gilanya apalagi otaknya hanya ada adegan dewasa.


Ai berjalan masuk ke rumahnya, meminta Angga juga pulang. Keduanya bertatapan karena rumah yang berhadapan.


"Bye sayang,"


"Kamu tahu ini jam berapa? Masih saja teriak-teriak." Papi meminta Aira masuk.


"Papi ingin tahu apa yang barusan lihat? Papi pasti penasaran sekali,"


"Kamu mencium Blackat lagi?"


Teriakan Aira terdengar, berlari ke depan pintu tidak melihat keberadaan Angga lagi, Aira lupa memberikan ciuman, Papinya terlambat memberitahu.


"Andriana Aira, Papi bertanya bukan untuk memastikan kamu melakukan atau tidak, Papi ingin menasihati jika tidak boleh," Altha memijit pelipisnya melihat tingkah laku putrinya yang tidak bisa menahan diri.


Tawa Aira terdengar, dia ingin di kepala Black hanya ada nama Aira. Sehingga sulit baginya melirik wanita lain.


"Siapa yang mengajari kamu seperti ini?"


"Mami, jika cinta maka kejar terus sampai janur kuning melengkung, jika tidak melengkung juga Aira paksa sampai melengkung." Tawa Aira terdengar sangat besar memeluk papinya karena hatinya sedang bahagia.


Alt hanya bisa istighfar, dia harus segera menikahkan Aira jika tidak bisa terlambat.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2