SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
SALAH PAHAM


__ADS_3

Satu bulan pernikahan Black dan Aira berpisah karena ada bisnis dan urusan masing-masing, keduanya hana bertemu di hari libur.


Tatapan Aira tajam melihat ke depan lapangan yang kosong hanya ada tetesan air hujan yang sangat deras.


"Kenapa kamu Aira, ada masalah rumah tangga?" tanya Manager Aira yang memperhatikan mimik wajahnya dengan begitu serius.


Kepala Ai menggeleng pelan, meminta waktu sendiri tidak ingin diganggu. Persiapan pesta sudah 80%, tetapi Angga memilih sibuk shooting dan pemotretan.


"Sulit dihubungi, tidak ingin membahas soal pesta, apa yang dia inginkan? Apa aku terlalu baik sehingga pria sattu ini bisa semena-mena." Ai mengepalkan tangannya, mulai habis kesabaran menghadapi sikap cuek Angga.


Setiap bertemu Angga memutuskan tidur lebih dulu alasannya lelah, dan saat bangun sibuk dengan ponselnya juga urusan perusahaan.


"Ais sialan, bukan pernikahan seperti ini yang aku harapkan," batin Aira dengan perasaan kecewa.


Ai membatalkan shooting, memilih pulang ke rumah orangtuanya. Ai menolak panggilan Angga yang bicaranya hanya perusahaan membuat Aira muak.


Mobil yang Aira kemudikan kebut-kebutan di jalan, hatinya sedang dalam keadaan tidak baik.


Gerbang perumahan terbuka, bersamaan dengan mobil Dean yang juga sampai, keduanya keluar dari mobil secara bersamaan.


"Di mana Kak Angga, Ai?"


"Aku tidak tahu, dan tidak ingin tahu," balas Aira dengan nada yang sangat dingin.


Tangan Aira ditahan, Dean menatap mata Aira yang terlihat banyak masalah, pastinya urusan rumah tangganya.


Bukan maksudnya Den ikut campur namun keduanya baru saja menikah, wanginya bunga pengantin belum hilang.


"Bicaralah dengan kepala dingin, jangan ambil keputusan apalagi mengikuti emosi yang bisa berakibat fatal." Peringatan Dean tulus sebagai saudara ipar.


"Aku juga binggung Dean, masalah apa yang menganggu pikiran Angga, dia sibuk, dan nampak tidak perduli dengan persiapan pesta pernikahan." Ai meremas rambutnya merasa marah.


Perubahan Angga sangat terlihat sejak dia mengambil alih perusahaan Lea, dia hanya sibuk dengan popularitasnya juga kemajuan perusahaan, lupa dengan kewajibannya sebagai suami.


"Kita jarang bertemu, dan saat bertemu dia sangat dingin," ujar Aira yang menahan kesedihannya.


"Bukannya itu resiko menikah dengan seorang yang terkenal, apalagi kesibukannya bertambah.Seharusnyaa kamu sudah tahu ini akaan terjadi, bukan Kak Angga yang berubah, kamu yang baru mengikuti kehidupannya." Den menghela napasnya melihat Aira yang beranjak pergi tidak ingin lanjut bicara karena rasanya semakin sakit.

__ADS_1


Senyuman Aira terlihat saat bertemu Mami dan Papi yang sedang membicarakan soal baju untuk pesta pernikahan Aira dan Angga yang dilakukan secra siaran langsung.


"Akhirnya pulang juga, Mami sudah mendengar kabar soal pesta mewah kalian." Al meminta putrinya duduk.


"Kurang tahu Mi, Aira berniat membatalkannya karena banyak urusan. Ai pulang ingin istirahat sebentar karena besok aku akan terbang ke luar," ujar Aira dengan tatapan matanya penuh rasa kecewa.


"Kenapa Aira, pesta hanya sisa hitungan hari. Hubungan Angga untuk pulang, gaun pengantin sudah siap belum?"


"Tidak tahu Mami, Aira tidak tahu. Pesta hanya hitungan hari, sedangkan Angga sibuk bekerja, mengabaikan Ai." Hentakan kaki Aira terdengar sangat kuat langsung menuju kamarnya, membanting pintu kuat.


Kepala Altha menggeleng, Putrinya belum dewasa sama sekali dan terlalu emosian tanpa tahu apa yang sedang suaminya lakukan juga perjuangkan.


Ketukan pintu terdengar pelan, Alt masuk ke kamar Putrinya. Terlihat di pinggir ranjang Aira duduk diam mengabaikan ponselnya yang mendapatkan panggilan dari suaminya.


"Sudah terlambat untuk menyesal Aira, jangan pernah berpikir menyesal dengan keputusan menikah. Apapun masalah rumah tangga jangan bocor keluar." Alt megusap kepala Putrinya, menenangkan Aira yang wajahnya sedih.


"Kak Angga berubah Pi?"


"Apa yang berubah?"


"Papi, Kak Angga mengabaikan Aira," teriakkan Aira terdengar meluapkan amarahnya.


Dia sibuk persiapan pesat, menghubungi Altha berkali-kali meminta bantuan Juan agar keluarganya tetap hadir dan berada di tempat paling aman.


Segalanya diurus bersama Tim, baik dekorasi, Konsumi, bahkan keamanan. Bahkan Shin dan Tika juga turun tangan membantu.


"Kamu yang sibuk tanpa peduli dengan suami, Angga menghubungi kamu ingin menjemput Aira balasnya apa?" tanya Altha.


Kepala Aira tertunduk, dia meminta Angga fokus kerja, tidak perlu mengkhawatirkannya ada banyak tim yang menangani.


Keinginan Lea menjual perusahaan dengan pindah tangan Angga lakukan agar Lea bisa fokus kepada kehamilannya.


"Bukan satu atau dia orang yang diurus, tapi Angga mencari waktu bertemu kamu. Jika dia lelah dan ketiduran apa itu salah?"


"Kenapa tidak bicara dengan Ai?"


"Kenapa Aira tidak bertanya? suami istri harus memiliki komunikasi sayang, kalian tidak boleh saling marah hanya karena waktu yang singkat." Alt mengusap air mata Putrinya yang tidak berhenti menangis.

__ADS_1


Panggilan Angga langsung Angga jawab dengan tangisannya yang semakin kuat. Kekhawatiran Angga berkali-kali lipat, membuat panik memutuskan untuk pulang.


"Hati-hati pulangnya Nak, di luar hujan," ucap Papi dari balik pangggilan yang masih terhubung.


"Siap Papi, Angga sewa supir karena lelah perjalanan lima jam," balas Angga yang langsung mematikan panggilan.


Papi meminta Aira tidur, menenangkan pikirannya yang kacau karena sikapnya yang manja dan keras kepala.


Beberapa jam perjalanan pulang Angga sampai, langsung lari keluar dari mobil tanpa perduli hujan turun kembali.


"Assalamualaikum Pi, di mana Aira?"


"Duduk dulu, Papi ingin bicara," pinta Altha pelan.


Senyuman Alt terlihat, sangat paham jika Angga sangat sibuk. Meminta menceritakan apapun kesibukan kepada Aira agar dia tidak merasa ada yang beda.


"Maaf Pi, Angga tidak bisa memberitahu dia, soalnya kejutan. Angga ingin memberikan kejutan ulang tahun untuk Aira di hari pesta pernikahan. Sengaja mengambil tanggal yang sama, tidak mungkin Angga cerita, namanya bukan kejutan?"


"Astaghfirullah Al azim, Papi sampai lupa jika sebentar lagi anak kembar Papi berulang tahun, terima kasih Angga sudah sangat memprioritaskan Ai." Papi memeluk Angga dengan sangat lembut bersyukur karena Putrinya memiliki suami yang sabar.


" Angga sama Kak Shin dan Tika sedikit khawatir jika Lea lahiran, kita sudah was-was karena waktunya tepat." Tawa Angga terdengar karena keadaan pasti gaduh.


Pembicaraan Angga dan Papi terdengar sangat akrab, Angga meminta Papi beristirahat karena sudah terlalu malam.


Angga juga kembali ke kamar melihat istrinya yang terlelap tidur, pelukan Angga lembut mengecup wajah istrinya yang terbangun.


"Kenapa rambut Basar, bersama waniat mana?"


"Hujan sayang, jangan berpikir negatif terus." Angga membuka bajunya karena lembab.


"Ayang, peluk." Ai merentangkan tangannya.


Senyuman lembut nampak di wajah Angga, memeluk istrinya mengangkat sampai sampai duduk di pangkuan.


"Waktunya pas, hujan dan butuh kehangatan." Kecupan bibir Angga mendarat.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2