
"Senyuman Hairin terlihat menatap Dean yang nampak begitu mencemaskan Isel, dia belum tahu jika keduanya sudah menikah apalagi Dean banyak cerita soal Isel yang selalu membuatnya kerepotan, tapi Dean sangat menyayangi Isel melebihi dirinya sendiri.
"Rin apa yang terjadi di sini?" tanya Dean yang mentap wajah Irin hancur sebelah.
Satu tangan Irin menyentuh wajahnya yang buruk merasa malu karena ditatap Dean begitu tajam.
"Jangan malu, jika kamu saja tidak bisa menerima rupa kamu, lalu bagaimana orang?" Dean melangkah mendekat mengambil kain dari meja menutupi kepala Hairin agar bisa menutupi wajahnya.
"Terimakasih Kak Dean, Hairin akan segera memberikan laporan kepada kantor soal kondisi di sini." Senyuman Hairin terlihat merasa senang karena Dean memperhatikannya.
Kepala Dean mengangguk, dia akan mendampingi Hairin untuk memberikan laporan detail soal apa yang terjadi.
"Brayen, kamu bawa Isel kembali ke apartemen." Dean turun ke lantai satu diikui oleh Hairin.
Brayen mendekati Isel yang memonyongkan bibirnya merasa kesal karena Dean begitu perhatian kepada Hairin.
"Sudah, jangan cemburu. Mereka hanya melakukan pekerjaan saja, kita balik sekarang." Brayen merangkul Isel yang jalan sambil menghentakkan kakinya.
Di lantai satu seluruh penjaga, dokter serta perawat dikumpulkan semua untuk diminta keterangan.
Kepolisian tidak berhasil menemukan keberadaan Bian karena sudah berhasil melarikan diri dengaan bantuan Alika.
"Bukannya dia Hairin?" Vio menatap Irin sinis.
"Apa kabar Vio, aku kakak kamu dan salah satu polisi yang merekrut kamu ...."
"Penjahat, kamu sadar tidak jika kamu penjahat? Segala sesuatu ini terjadi karena kamu." Vio menyalahkan Irin karena sebagai seorang polisi dia tidak bisa menjaga keamanan siapapun bahkan dirinyaa sendiri.
__ADS_1
Dean menegur Vio agar tidak menyudutkan siapapun, apalagi memperkeruh keadaan. Target yang mereka kejar belum usai.
Lirikan mata Vio masih tajam karena tidak ada yang salah dari tuduhannya, jika Irin mempertahankan identitasnya maka keadaan tidak akan buruk dengan masuknya Irin palsu.
"Kamu bukan hanya penjahat, tapi penipu. Aku akan mengundurkan diri dari kepolisian jika wanita bodoh seperti kamu masih bekerja sebagai aparat kepolisian." Vio meminta Hairin bertanggung jawab dan tidak menyulitkan orang lain karena ulahnya memberikan ruang untuk Alika mengacau dan membantu Bian melakukan bisnis ilegal serta penculikan.
"Vio cukup, sudah aku katakan sekarang bukan waktunya menyudutkan orang lain. Keadaan sedang kacau karena Bian dan Alika lolos." Dean meneriaki Vio untuk keluar dari Tim jika dia tidak bisa bekerja sama.
"Salah ucapan aku apa? Berapa banyak polisi yang dipecat karena Irin, memakai hanya mengikuti perintah dan menjalankan tugasnya atas perintah atasan dan itu Irin." Vio menantang Dean jika kerugian anggota disebabkan oleh Hairin yang membuat kesalahan karena lalai.
Bisa menjadi polisi tidak mudah, selain kehilangan banyak waktu juga mencoba setia kepada negara, tapi secepat kilat oang yang menyalahgunakan kekuasan menyebabkan kehancuran.
"Apa kamu sebagai Jaksa yang bertanggung jawab bisa mengembalikan reputasi mereka? Tidak bisa Dean kamu melakukan ini hanya demi Hairin dan lupa jika kamu sudah memiliki seseorang yang sah." Vio melepaskan tanda pengenal mengundurkan diri dari tugasnya karena malas melihat wajah Irin.
Dean tidak menimpali, dia tetap meminta seluruh saksi di mintai keterangan sejujurnya, korban yang mengalami gangguan jiwa ulah penyiksaan akan dibawa secara terpisah untuk di selidiki identitasnya
Hairin lihat ke arah Vio yang melangkah pergi dengan perasaan kesal. Ucapan Vio tidak salah, dirinya memang lalai menjalankan tugas, berniat menyelamatkan adiknya, tapi ternyata dia terjebak di dalam kekuasan Bian dan tidak berani melarikan diri karena jika dirinya pergi banyak yang akan mati.
"Ini salah aku Dean, seharusnya aku tidak percaya begitu saja kepada Alika. Aku pikir dia korban Bian, aku ingin menyelamatkannya dan membuat wajah aku buruk agar Bian jijik ternyata aku salah." Irin terlambat tahu jika hubungan Bian dan Alika partner kerja karena sejak kecil Bian orang yang membesarkan Alika, bukan wanita yang dijadikan istri tersembunyi.
Kepala Dean mengangguk dia tahu bagaimana perasaan Hairin yang pastinya sangat terkejut dengan kebenaran yang baru dia ketahui.
"Kita kembali ke apartemen terlebih dahulu agar kamu bisa beristirahat. Tenangkan dulu diri kamu, kasus ini memang masih panjang, tapi setidaknya semua korban aman karena kamu." Dean tersenyum meminta Vio mengikutinya.
Ren melirik Vio yang nampak tidak asing baginya meskipun wajah Hairin hancur sebelah.
Seorang polisi yang sangat baik hatinya, dikagumi banyak orang karena keahlian dalam mengejar penjahat.
__ADS_1
Melihat wajah Irin membuatnya iba karena satu lagi aparat yang hebat hancur identitasnya.
"Ren, kamu juga ikut aku, kita bicarakan hal ini di apartemen setidaknya korban dan saksi dalam keadaan terlindung" Dean membukakan pintu mobil meminta Hairin masuk.
Kepala Ren mengangguk langsung masuk mengikuti Dean yang meminta Ren mencatat detail apa yang sudah mereka temukan.
"Pak Dean, di mana Kak Vio?"
"Biarkan saja dia , posisi ugal-ugalan yang sudah tidak bisa diatur, mungkin dia sudah berpesta." Dean terpikirkan dengan Isel yang kemungkian ikut-ikutan, tapi Dean tidak punya waktu untuk bertengkar dengan Isel.
"Apa yang Vio katakan benar, meskipun dia polisi nakal namun kerjanya sungguh luar biasa, kamu pasti posisi baru harus banyak belajar dari Vio," ucap Irin dengan senyuman lembutnya.
"Baik." Ren memberikan hormat kepaada Irin yang menatap Ren lembut bahkan mata Irin sangat menenangkan.
Dean menerima panggilan soal Hairin yang melarikan diri dan lolos dari kejaran polisi, kemungkian besar dia sudah berada di negara tempat Dean berada.
"Uncle Yandi, namanya Alika, dia sudah melarikan diri bersama Bian ...." Dean menatap Hairin yang langsung teriak-teriak memanggil papanya sambil menangis memberikan hormat kepada papanya.
"Pa, maafkan Irin, Papa baik-baik saja, bagaimana kondisi mama? Maafkan Irin Pa." Tangisan Hairin terdengar merindukan Papanya yang sudah lama tidak dilihat matanya, lelaki hebat yang menyayangi dirinya layaknya anak kandung dan selalu memanjakannya.
Panggilan mati begitu saja tanpa jawaban, Dean hanya tarik napas panjang karena kasihan melihat Irin yang terguncang karena membahayakan kedua orangtuanya karena ulahnya.
Dean ingin menenangkan Irin, tapi dirinya tidak bisa melakukannya karena bagaimanpun Dean harus menghormati pernikahannya tidak bisa seperti dahulu lagi yang bisa bercanda dengan Hairin.
"Kak Dean katakan kepada Papa aku akan bertanggung jawab," ujar Hairin memohon agar dirinya saja yang dihukum jangan papanya.
"Kenapa kamu harus bertanggung jawab dengan sesuatu yng tidak kamu lakukan?" Dean menggeleng karena tidak akan membiarkan Hairin dihukum oleh kesalahan Alika.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira