
Langkah Dean maju melihat kondisi korban yang dinyatakan meninggal bunuh diri, tidak ada bukti memojokkan Brayen karena selama Laura tidak ditemukan maka sulit diselidiki.
"Sampai detik ini Brayen masih diam, dia tidak mengeluarkan sepatah katapun." Genta berjalan ke arah Dean yang menatap tajam ke arah jenazah.
"Bagaimana soal Laura, sudah ada titik terang keberadaannya?"
Kepala Genta menggeleng, masuk kawasan rumah Laura juga sulit karena ibu Laura bukan orang baik.
Dia bos dari para wanita yang menjual diri, banyak orang yang takut padanya karena memiliki kekayaan juga kekuasaan.
"Mereka tidak ada di rumah mewah itu, Brayen sudah menjualnya." Kepala Dean menoleh ke arah Genta yang mengerutkan keningnya.
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
Suara langkah kaki seseorang terdengar, Ghion memberikan bukti kepada Genta jika Laura menjual rumahnya setelah satu bulan menikah, masalah setelah penjualan rumah tidak ada kabar soal Laura.
"Aku akan masuk ke tempat hiburan malam, tunggu saja kabarnya." Senyuman Ghion terlihat memakai kacamata masih nampak pecicilan.
Dean juga memutuskan untuk pergi ke tempat hiburan, ada banyak hal yang harus dirinya ketahui agar Brayen segera bicara.
Lirikan mata Ghion tajam, jika Isel sampai tahu suaminya pergi ke tempat wanita penghibur pasti akan menangis tujuh hari tujuh malam.
"Aku rasa kamu tidak bisa pergi Dean, istri kamu sedang sensitif. Isel bisa mendapatkan informasi keberadaan kamu," ucap Genta memberikan peringatan.
"Betul, Ghion tidak ingin urusan rumah tangga dibawa ke tempat pekerjaan. Biarkan aku saja, lagi ada orang yang akan membantu aku, mengetahui banyak hal soal wanita penghibur." Tangan Ghion melambai langsung melangkah pergi.
Di depan pintu Bian masih menunggu Ghion, melangkah bersama untuk pergi ke tempat hiburan yang dimaksud Ghion.
"Kenapa kamu meminta aku terlibat?" Bian baru saja ingin melihat dunia yang tenang sekarang Ghion mulai melibatkannya.
"Ada seseorang yang harus kita temukan keberadaannya agar adikku bisa melahirkan dengan tenang dan keluarga tidak mencemaskan banyak hal." Kepala Ghion melihat Bian yang geleng-geleng kepala.
Langkah Bian terhenti, sejak keguguran Isel yang pertama seharusnya sudah ada yang mencurigai Brayen.
Musuh terberat dalam pertarungan pastinya orang terdekat, keluarga saja bisa mengkhianati apalagi hanya sebutan sahabat ketemu besar.
"Jadi keguguran Isel kemarin ada sangkut pautnya dengan Brayen?"
"Jika tidak, mengapa dia ada di lokasi?" Bian masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Mobil melaju cepat ke arah tempat hiburan yang jauh dari pemukiman, terlihat sangat mewah dan megah.
"Tidak heran keluarga Laura hidup dengan kemewahan, ternyata ibunya memiliki bisnis luar biasa, bukan perdagangan manusia, tapi dagangan nafsu." Ghion melihat satu mobil mewah juga berhenti di parkiran untuk masuk.
Seorang wanita cantik dan seksi keluar, Bian mengerutkan keningnya saat melihat Weni sahabat Isel juga muncul bersama Vio.
"Kenapa mereka berdua ada di sini?" tanya Bian.
"Siapa wanita di samping Vio?"
"Sahabatnya Isel, apa Isel yang mengirim mereka?"
Dua wanita melepaskan mantel yang menutupi tubuh, berjalan masuk. Pintu belakang mobil terbuka, Isel keluar dengan sangat santai.
"Isel, bagaimana bisa dia ada di sini?" Ghion langsung menghubungi Dean jika Isel turun langsung mencari keberadaan Laura.
Suara keributan di dalam terdengar, Vio berjalan keluar menarik rambut seorang wanita melemparkan di hadapan Isel.
Belum sempat bicara, kali Isel sudah menginjak dada. Jika sampai berteriak meminta tolong, maka Isel pastikan mulut sobek.
"Sejak kapan Mami Rose tidak datang ke tempat ini?"
"Apa pernah melihat Laura?" Isel mencengkram rahang meminta dijawab cepat.
"Jawab, malaikat maut tidak akan menunda mencabut nyawa sampai kamu siap!" Vio memukul kepala.
"Laura tidak pernah datang ke sini sejak muda, tapi satu bulan yang lalu dia datang meminta tempat ini ditutup," jelas wanita yang gemetaran ketakutan.
Kedatangan Laura dalam keadaan pucat, wanita cantik yang selalu berpenampilan elegan hari itu datang dengan wajah pucat, lemas juga berpenampilan biasa.
Tangan Isel tergempal, tidak ada rekaman CCTV yang tersisa. Semuanya dibersihkan dengan sangat rapi.
"Apa kamu mengenal pria ini, jangan katakan tidak?" Vio menujukkan foto Brayen.
Tangan Isel hampir melepaskan pukulan, Vio menahannya karena tidak ingin bayi yang sedang Isel kandung berada dalam masalah.
"Kendalikan diri kamu, duduk saja dengan tenang. Kita akan segera menemukan Laura." Vio mengusap perut Isel agar bumil tenang.
Panggilan Vio masuk menghubungi Weni yang ada di dalam. Mencari seorang pria yang mungkin cukup kuat dan berada di samping Brayen
__ADS_1
Lelaki lemah dan tidak berguna tidak mungkin bekerja sendirian. Mami Rose bukan hanya pengusaha yang menjual cinta, tapi memiliki bisnis kapal pesiar dan beberapa hotel mewah di wilayah pulau.
"Seseorang yang menyingkirkan Mami Rose pasti ada di sini." Weni menatap seorang pria muda yang duduk di keliling banyak wanita.
Weni berjalan ke arah kursi kosong, menghisap sebatang rokok dan segelas minuman.
Minuman diminum satu kali tegukan, saat gelas diturunkan Weni melihat pria yang dikelilingi banyak wanita mendekatinya.
Mata Weni melihat baju, kalung, anting, jam tangan, sepatu bahkan celananya hanya menggunakan barang harga standar. Memang bermerek, tapi tidak fantastis sama sekali.
Pria di depan Weni meminta di temani bermalam, tapi langsung ditolak karena bukan yang dirinya cari.
Seorang wanita melangkah dengan high heels yang sangat mahal, Weni langsung mengenali high heels milik Laura, dan hanya satu-satunya.
"Siapa wanita itu?" Weni menatap seorang wanita yang duduk santai.
"Dia kekasihnya tuan Long, saat kekasihnya berada di luar negeri pasti berdagang tubuhnya di sini." Tawa pria dihadapan Weni terdengar.
"Ketemu," ucap Weni langsung tertawa lucu, melangkah keluar dan tidak sengaja melihat Bian.
Tatapan mata keduanya sama-sama tajam, Bian meminta Weni mengatakan informasi yang dirinya dapatkan.
"Tuan Bian, kamu melihat wanita di sana. Jika kamu mampu membawanya keluar, aku akan memberikan hadiah." Bibir memberikan kecupan dari jarak jauh.
Suara high heels Weni terdengar, berjalan ke arah Isel yang sudah bersama suaminya. Dean menegur Vio yang melibatkan istrinya.
"Aku menemukan seseorang yang menggunakan high heels kesayangan Laura, itu hadiah terakhir dari Papinya. Masih ingat dia hanya memiliki satu high heels di setiap pesta." Weni tidak peduli jika Dean marah karena secepat mungkin Laura harus ditemukan sebelum menjadi jasad.
"Kenapa kalian melibatkan Isel, aku bisa menemukan Laura!" tatapan Dean tajam.
"Isel yang selalu memimpin kita, bagaimana tim bisa bergerak tanpa seorang pemimpin? tidak akan ada yang bisa mencelakai Isel apalagi baby, jika itu terjadi maka aku hanya bisa nama." Senyuman manis Weni terlihat karena salah dirinya yang menjodohkan Brayen dan Laura.
"Kamu sudah siap mati Wen?" tawa Isel terdengar karena Weni tidak akan mati demi siapapun.
"Belum anjing ... ya tuhan, maafkan Aunty sayang, keceplosan." Tangan Weni mengusap perut Isel karena sangat menyayangi anak Isel.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1