
Tangan Lea ditarik paksa oleh Black yang ingin menghentikannya. Sikap kasar dan keras kepala Lea keluar, emosinya yang memuncak sulit dikendalikan.
"Lea cukup!"
"Apa? ini semua gara-gara kamu yang udah diperingatkan untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun, tapi dengan mudahnya jatuh cinta dengan wanita rendah seperti dia." Lea menepis tangan Blackat, meminta segera kembali dan tidak mengurusi soal Silvi.
Siapapun yang memuat Lea marah dia akan menyingkirkannya, menghancurkan karirnya dan membuatnya tidak pernah bisa kembali ke dunia maya.
"Sampai detik ini kita belum bisa membuktikan siapa yang mencelakai ibu dan Anggrek, tetapi aku peringatkan kamu untuk berhati-hati dengan Aira." Black menatap serius.
"Kenapa aku harus berhati-hati, Aira bukan lawan aku. Kamu yang harus berhati-hati jika sampai jatuh cinta kepadanya." Senyuman sinis Lea terlihat, matanya bisa menembak jika Blackat sedang berubah pikiran.
Selama beberapa tahun, Black hanya mengejar karirnya, bahkan sempat menyerah untuk membuktikan siapa pelaku yang merusak keluarga mereka. Lea bahkan harus turun tangan menemui Aira yang berada di luar Negari demi membuktikannya.
Apapun yang Lea lakukan tidak mengembalikan ingatan Aira soal kejadian yang menimpa Anggrek.
Keputusan Aira kembali memang di luar rencana Aira, tapi munculnya Blackat juga tidak pernah diduga.
"Kak, keluarga kita sudah berantakan sejak lama. Semua itu gara-gara Papa, dia memisahkan aku dan Anggrek." Tawa Lea terdengar, langsung melangkah pergi.
Kepala Blackat tertunduk, dirinya juga tidak tahu jika Aira juga kembali, dan mengkhawatirkan soal siaran langsung Aira yang akan mengungkap hubungan Black dan Aira di masa lampau.
Apa lagi menyangkut-pautkan tentang ibunya, meskipun tidak ada yang tahu jika Anggrek sudah tiada. Seseorang yang dilihat banyak orang menjadi dua nama yang hidup pada satu orang.
"Aku tidak tahu apa yaang kita lakukan ini sebenarnya ingin menyalahkan Aira, atau sebaliknya ingin menjaganya. Jika ingi menjaga aku rasa tidak harus, dia memiliki banyak penjaga yang selalu mengawasinya." Black menarik napas panjang, hanya bisa mengikuti jalan takdir.
Harapan Black kasus kematian ibu dan adiknya menemukan pelakunya. Kasus yang langsung ditutup dengan berita bunuh diri dan pembantai, sedangkan Blackat juga sekarat.
"Maafkan kakak Rek, kamu meninggal tanpa mendapatkan keadilan, seseorang yang kmu anggap sahabat menyelamatkan dirinya sendiri, hidup normal dan penuh kebahagiaan." Air mata Black menetes, langsung cepat di hapus.
Dari jauh Gilang menunggu Black, melangkah bersamanya untuk kembali. Dari kejauhan, Black melihat Aira tersenyum lebar dan tertawa memeluk Lea.
__ADS_1
Ekspresi Lea juga terlihat langsung berubah, awalnya dia terlihat sangat marah, namun melihat aira langsung happy juga terlihat baik-baik saja.
"Kamu dari mana saja? temani aku jalan-jalan sebentar ke pantai mencari kerang. Ini hari terakhir kita ada di sini, entah kapan kita akan kembali lagi." Ai memeluk lengan Lea berjalan berdua ke arah pantai.
"Kulit kamu bisa gosong, ingat jadwal kita padat. Perusahan juga akan mengadakan jumpa fans, kamu bisa menyapa mereka secara langsung." Senyuman Lea terlihat, merangkul Ai yang terlihat malas-malasan.
"Kenapa harus jumpa fans, kita bisa melakukan siaran langsung saja untuk menyapa. Kamu tahu aku tidak suka menunjukkan senyuman. Gigi aku bisa kering karena tersenyum terus." Bibir Ai monyong, meminta Lea tidak melakukan hal yang tidak dia sukai.
Dengan penuh kesabaran Lea mengingatkan Aira jika mereka melakukan tidak setiap saat. Bertemu hanya beberapa waktu, Ai hanya perlu senyum manis.
Lagian Aira memang belum bertemu secara resmi dengan fansnya yang membludak, Lea yakin pasti akan sangat ramai.
"Baiklah aku akan melakukannya. Kenapa jadwalnya padat sekali? ada konferensi pers, jumpa fans, foto shoot, shooting iklan dan banyak lainnya." Kepala Aira pusing, menjadi artis ternyata sangat menyebalkan.
"Itu baru awal, aku sedang melihat daftar film baru kamu. Kita akan segera terbang tinggi bersama-sama." Lea menatap banyaknya burung di pinggir pantai.
"Jangan terburu-buru Lea, aku melakukan ini hanya untuk bersenang-senang." Ai melirik sekilas, menatap Lea yang mengerutkan keningnya.
Lea langsung menahan Aira agar tidak menariknya ke air. Lea sudah kelelahan, langsung terduduk di lantai.
"Kamu masih sama seperti dulu sangat mudah lelah?"
"Maaf, aku tidak sekuat kamu." Wajah sedih Lea terlihat sambil mengerutkan keningnya.
"Tenang saja, aku ada di sini nanti gedong kamu." Aira memukul pundaknya.
Kepala Lea mengangguk, meminta Aira duduk bersamanya. Menatap jauh ke depan, melihat indahnya pantai.
Lama keduanya diam dalam keheningan, Lea menatap wajah Aira yang tenang. Matanya juga terpejam, menolak untuk membuka.
"Lea, apa yang membuat orang iri kepadaku? harta milik orang tuaku, aku hanya terlahir dari keluarga berada. Sejak kecil aku dijauhi banyak orang, dianggap berbeda. Padahal aku sama seperti mereka." Ai mengepal tangannya, hanya karena dirinya anak orang kaya langsung dicap menjadi seseorang yang sombong.
__ADS_1
Sejak kecil Aira selalu mendekati banyak orang lalu ditinggalkan, mencoba bersikap baik namun direndahkan, saat dirinya jahat langsung dianggap seperti pembunuh.
Tangan Lea merangkul pundak Aira, masa lalu Ai memang kesepian. Dia hanya bisa bergaul bersama saudaranya juga Adik kakaknya. Aira tidak memiliki satupun teman kecuali Anggrek.
"Aduh, kenapa jadinya sedih?" Ai mengipas wajahnya.
"Aku juga sama, tidak ada yang ingin berteman denganku. Aku menghabiskan banyak waktu di rumah sakit, tidak punya waktu untuk pergi sekolah." Lea menatap ke arah lain mencoba melepaskan beban hatinya.
Di dalam lubuk hati Lea paling dalam, dia menyimpan amarah kepada seseorang. Setelah melewati bertahun-tahun di rumah sakit, Lea memiliki kesempatan untuk menjenguk orangtuanya, tapi sayang hanya jasad yang dia temukan.
"Lea, kenapa kamu melamun? sudah jangan terlalu dibawa pusing. Itu semua hanya masa lalu, sekarang aku menjadi idola yang dicintainya banyak orang." Dengan bangga Aira memuji dirinya sendiri yang sangat hebat.
Bahkan dia bisa berdiri tanpa membawa keluarganya, Aira ingin membuktikan kepada teman sekolahnya jika dirinya bisa sukses tanpa nama keluarga juga hartanya.
"Kamu memang tidak menghisap uang orang tua kamu, tapi menghisap uang aku." Mata Lea menatap sinis melihat Aira tertawa lepas.
Aira berjanji akan bekerja keras, saat uangnya sudah banyak. Aira akan membelikan Lea rumah mewah, mobil, bahkan suami sekalipun.
"Aku bisa mencari suami sendiri,"
"Kamu tidak pandai menilai lelaki, aku yang akan memilihkan, dan dia harus pria terhormat, kaya raya, dan yang paling penting dia mencintai aku." Tawa Aira terdengar menutup mulutnya yang salah ucap.
"Masa itu masih lama Aira, kita harus terluka dulu agar bisa bahagia." Lea menatap mata Aira, jika sampai terbukti Aira bersalah, dan keluarganya terlibat dalam kasus Ibunya. Lea pastikan mereka hanya akan melihat Aira hancur.
***
follow Ig Vhiaazaira
***
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
vote hadiahnya