SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
TERLAMBAT TAHU


__ADS_3

Di kantor Dean sedang sibuk setelah menyelesaikan satu kasus yang menguras otaknya, pulang ke rumah menjadi solusi terbaik baginya agar bisa mengembalikan pikiran jernih.


"Apa Isel masih di rumah sakit?" Dean mengambil ponselnya untuk menghubungi istrinya.


Tiga kali panggilan tidak memberikan jawaban, Dean bisa memaklumi kemungkinan besar istrinya sibuk.


"Padahal aku sedang kangen, tidur di dalam pelukan sepertinya enak," gumam Dean pelan memikirkan Isel yang belum juga menghubunginya.


Cepat Dean keluar dari ruangannya untuk pulang ke rumah, kepalanya sudah pusing karena selama satu minggu menyelesaikan kasus yang harus ditangani kejaksaan.


Di depan pintu keluar, Dean melihat seseorang yang tidak dia harapkan muncul dihadapannya.


"Dean, bisa kita bicara?"


"Kenapa, kamu ada kasus baru lagi?" Dean tetap berjalan ke arah parkiran mobil, sedangkan Bian mengikutinya.


Tangan Bian menarik lengan Dean, dia tidak ingin ribut apalagi mencoba bermasalah dengan Dean kembali.


Sesuai apa yang pernah Bian katakan jika dirinya tidak akan menjadi orang jahat karena sejak awal dirinya tidak meminta para wanita datang, tapi mereka yang secara sukarela menghampiri.


"Aku tahu kamu berhenti mengurus kasus ini karena tahu aku tidak sepenuhnya salah, cinta aku tulus Dean," ujar Bian meminta Dean mendengarkannya sebentar saja.


"Sebenarnya aku tidak peduli, sekalipun kamu merasa apa yang kamu lakukan pantas, tetap saja itu namanya kejahatan." Dean meminta Bian memikirkan orang-orang yang kemungkinan dirugikan olehnya.


Lirikan mata Dean tajam mendengar Bian meminta maaf karena dirinya tidak bisa melepaskan Isel, kecuali Dean bisa membuatnya mundur.


"Apa yang sebenarnya kamu inginkan, kenapa mengusik rumah tangga orang? aku sangat mencintai Isel, lebih dari diri sendiri. Jika kamu masih keras kepala maka langkahi aku." Dean tahu jika lelaki dihadapannya bukan anak kecil lagi, sudah paham apa yang harus dia lakukan untuk menyelesaikan masalah.


Senyuman Bian terlihat dia memang sepuluh tahu lebih tua dari Dean, tidak pantas mencintai Isel yang masih sangat muda, tapi perasaannya tidak bisa dikendalikan.


"Jauhi Isel, jika masih nekat, maka terpaksa aku akan membuat kamu lenyap selamanya," ancam Dean serius tidak main-main jika dia masih memegang kartu as untuk menghancurkan Bian.


"Aku akan mundur, jika kamu bisa membuktikan jika Isel memang istri kamu," pinta Bian yang cukup mengejutkan Dean.


Tanpa alasan Bian mencurigai jika hubungan Dean dan Isel hanya kebohongan, apalagi Isel memanggil Uncle.


"Isel istri aku bodoh," kesal Dean yang ingin tertawa.

__ADS_1


"Bukannya kamu adiknya Alina?"


"Alina, siapa dia?" Dean tidak mengenal baik siapa wanita yang Bian sebutkan karena sejak kecil dia tidak ikut campur soal masa lalu siapapun.


"Menantunya keluarga Leondra." Bian mencoba menjelaskan jika Alina yang dimaksud Diana.


Kepala Dean mengangguk pelan, dia baru ingat jika Kakaknya dulu meminta nama Alina sehingga dia memiliki kembaran bernama Aliya.


Dean tahu Kakaknya hanya anak angkat, tapi baginya Diana Kakak perempuan terbaik yang dimiliknya.


"Ya, dia memang Kakakku. Kamu mengenal Kak Di?"


"Aku tidak mengenal Di, tapi Alina." Tatapan Bian tajam jika benar Dean dan Alina bersaudara,.


Dean tidak akan menjelaskan hubungannya dengan Diana ataupun Alina, bagi Dean sampai kapanpun mereka tetap bersaudara meskipun ada hubungan yang membingungkan.


Melihat ekspresi Bian tawa Dean langsung terdengar, alasan Bian berpikir dirinya dan Isel hanya berpura-pura menikah karena hubungan Dean dan Diana Kakak beradik.


"Aku dan Isel sah suami istri, jika kamu berpikir Diana kakakku itu benar, dan soal Isel Putrinya Kak Di juga benar," jelas Dean.


Langkah kaki Bian langsung mundur kaget mendengar ucapan Dean yang benar jika Isel anaknya Alina. Wanita yang dirinya cintai, Putri dari wanita yang sangat dihormati.


"Kamu tidak harus memikirkannya, intinya aku dan Isel tidak berpura-pura, kami saling mencintai dan sudah sah sebagai suami istri tanpa merusak hubungan aku dan Kak Di." Dean langsung pamit menuju mobil, Bian masih menahan pundak Dean secara paksa.


"Bohong, tidak mungkin Isel Putrinya Alina, kamu hanya mencoba mempermainkan aku." Mata melotot berwarna merah, Bian seakan tidak terima dengan candaan Dean yang main-main.


"Jawaban apa yang sebenarnya kamu inginkan?" amarah Dean juga terpancing karena kesal melihat Bian yang semakin nampak gila.


Kepala Bian menggeleng, tidak percaya dengan ucapan Dean. Dia sangat yakin jika Dean hanya berbohong tidak mungkin Alina dan Isel memiliki hubungan darah.


"Kenapa kalian menikah padahal kamu dan Alina bersaudara?"


"Aku tidak harus menjawabnya, berhentilah mengusik rumah tangga kamu," ancam Dean karena dia tidak ingin berurusan dengan Bian lagi.


"Aku tahu kamu bohong, tidak mungkin Isel putrinya Alina. Meksipun benar maka pernikahan kalian yang palsu, soal kehamilan Isel juga palsu. Kalian mencoba mengecoh aku." Tawa Bian terdengar, dia tidak akan percaya dengan ucapan Dean, harapannya hubungan Alina dan Isel benar sehingga pernikahan Dean yang palsu.


Tangan Dean gemetaran memegang pintu mobil, terdengar jelas ucapan Bian jika Isel sedang hamil. Masalahnya kenapa harus orang luar yang tahu, sedangkan dirinya sebagai suami tidak tahu.

__ADS_1


Dada Dean terasa sesak, setidaknya Isel harus bicara dengannya bukan menghindar. Alasan Isel menghindari hampir satu bulan karena menutupi kehamilan.


"Apa-apa ini, kenapa aku tidak berhak tahu?" Dean mengepalkan tangannya karena merasakan sakit hatinya melihat Bian tahu soal kehamilan istrinya, tapi dirinya tidak tahu apapun.


Panggilan dari Isel masuk, Dean langsung menjawab mendengar suara lembut Isel yang ingin bertemu dan memberikan hadiah kecil.


"Uncle di mana?"


"Kenapa harus orang luar yang tahu, sedangkan aku tidak?" Dean menatap Bian yang mengerutkan keningnya.


"Kamu tidak tahu jika Isel hamil, kamu tidak tahu padahal katanya kalian saling mencintai. Sudah aku katakan jika kalian berdua tidak pantas bersama." Tawa Bian terdengar meminta Dean sadar jika hubungan dan Isel tidak akan bertahan lama.


Suara Isel berteriak terdengar, meminta Dean mendengarkan penjelasan. Isel berani bersumpah jika dirinya tidak pernah memberitahu siapapun.


"Uncle, tolong jangan salah paham dulu, Isel tidak merahasiakannya." Isel kaget melihat ponselnya mati.


Dengan terburu-buru, Isel berlari membawa kotak kecil untuk menunjukkan kepada Dean jika dirinya ingin memberikan kejutan.


Dari seberang jalan, Isel melihat Dean dan Bian sudah bertengkar. Air mata Isel menetes paham dengan kekecewaan Dean.


"Uncle hentikan," teriak Isel kuat langsung berlari kencang ke arah jalan.


"Jangan berlari Sel," pinta Dean yang melepaskan Bian.


Dari jauh Glora melihat keributan yang disebabkan oleh Bian, melajukan mobilnya ke arah Isel yang berlari memeluk Dean erat.


"Kenapa kamu berlari, jika terjadi sesuatu bagaimana?" Dean nampak panik menatap Isel yang menangis sesenggukan.


"Mati saja kalian berdua." Glora melajukan mobilnya ke arah Isel dan Dean yang masih berdebat.


Bian yang menyadari ada mobil ke arah Isel dan Dean berteriak kuat meminta keduanya menyingkir.


"Isel," panggil Bian bangun dari duduknya karena pukulan Dean.


Suara benturan kuat terdengar, Dean terlempar langsung membuka matanya mencari keberadaan Isel yang juga terlempar bersaamaan dengan Bian yang terpental lebih jauh.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2