SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BERTEMU


__ADS_3

Di bandara Angga kebingungan karena banyak berita soal dirinya yang masi hidup, seharusnya tidak banyak orang yang tahu karena dia tidak pernah muncul di depan banyak orang.


Keluarga Isel tidak mungkin membocorkan meskipun mereka tahu, pasti ada orang luar yang tidak menyukai Black sehingga mencemarkan namanya dengan menipu publik.


"Kenapa bisa begini?" Angga melangkah mundur membatalkan niatnya untuk pindah negara.


Kepala Angga tertunduk dalam, menghindari banyak orang bergegas untuk kembali ke apartemen yang sebelumnya dia sewa.


Tubuh Angga ditabrak, tubuhnya langsung terduduk. Tangan Angga memegang dadanya yang sakit karena benturan kuat. Wajah Angga meringis menahan sakit.


"Blackat ... kamu masih hidup?" Teriakan histeris banyak orang terdengar menatap Angga yang mencoba untuk bangkit dari jatuhnya.


Tanpa respon, Angga langsung cepat berjalan terburu-buru, ada beberapa orang yang mengejarnya ingin meminta penjelasan Angga berpura-pura meninggal.


Taksi lewat, Black langsung masuk meminta supir segera pergi. Tangan Angga penuh darah, luka di dadanya berdarah kembali.


"Tuan ingin dibawa ke rumah sakit?" tanya supir yang kasihan melihat luka berdarah kembali.


"Tidak Pak, hantarkan saya ke alamat ini," pinta Angga dengan penuh harap agar tidak banyak orang yang mencarinya.


Berita soal Black masih hidup menyebar bagaikan api yang disiram dengan bahan bakar, tidak bisa dipadamkan meskipun derasnya air hujan.


Beberapa orang yang melihat Black di bandara juga langsung di upload ke sosial media.


Banyak media yang berdatangan ke negara tempat Angga ingin menenangkan diri. Tidak Angga sangka keadaan benar-benar kacau, dia tidak bisa melangkah ke manapun karena segala tempat penuh dengan orang yang ingin menemuinya.


"Kenapa bisa terjadi? aku hanya ingin hidup tenang, tidak ingin menyakiti orang lain." Mata Angga terpejam merasa leleh dengan jalan hidupnya, begitu sulit untuk mendapatkan kedamaian.


Sesampainya di apartemen, Angga langsung masuk, kopernya saja tinggal di bandara sehingga Angga hanya bisa menunggu sampai keadaan reda.


Baju dibuka, melihat ada bercak darah. Angga melihat lukanya yang belum kering mengeluarkan darah kembali.


"Kenapa sakit hidup seperti ini?" Air mata Angga menetes teringat bayangan saat bertemu dengan Shena wanita yang melahirkannya.


Angga tidak meminta kasih sayang, apalagi ingin merusak kebahagian ibunya, Angga hanya ingin tahu alasan dirinya tidak diinginkan.

__ADS_1


Seorang Ibu biasanya memiliki hati yang lembut, penyayang dan bisa merasakan sakit anak-anaknya sehingga Angga berharap Ibunya merasakan hubungan dengannya, tapi Angga salah menduga.


Shena secara langsung mengatakan jika Angga hanyalah sampah yang tidak dia inginkan, hadirnya hanya merusak kebahagiaan siapapun, baik Shena maupun Ayah kandungnya Dimas.


Angga lahir bukan atas dasar cinta, namun dosa. Dia hanya benalu yang merugikan siapapun yang dekat dengannya.


"Maafkan Angga yang mnjadi dosa untuk kalian, sungguh tidak ada niat aku merusak siapapun. Semoga Tante Shena dan Om Dimas bahagia." Kepala Angga tertunduk bersamaan air matanya yang menetes.


Dua tahun Angga menyimpan luka karena ucapaan Shena yang menginginkan dirinya mati.


Semuanya Memang salah Angga karena berharap bisa melihat kedua orang tua kandungnya, namun tidak Angga sangka rasa penasarannya membuatnya terluka.


Angga berpikir dirinya dibuang karena kedua orang tuanya kesulitan ekonomi, namun ternyata salah dia hanya anak yang lahir dengan dosa.


"Ya Allah aku lelah, biarkan aku beristirahat dari rasa sakit tanpa harus menyakiti siapapun. Aku tidak memiliki keluarga, tidak memiliki satupun orang yang bisa menemani aku hingga ajal menjemput." Tubuh Angga langsung ambruk dia atas sofa, air mata menetes dari pelipis matanya.


Darah yang mengalir berhenti dengan sendirian, Angga tidak merasakan sakitnya karena luka di hatinya tidak memiliki obat lagi sehingga diam dan menyerah menjadi pilihannya.


"Ibu, hanya Ibu yang menerima Angga, Lihatlah Bu, anakmu sedang berada di fase paling hancur." Lengan menutupi mata, Angga tidak kuasa menahan tangisnya.


Meskipun masa kecilnya sulit, Angga tahu rasanya di sayang dan diperjuangan, tapi setelah ibunya pergi Angga kehilangan sandaran.


***


"Daddy kenapa terlihat diam?" Mommy menatap suaminya yang hanya diam sepanjang perjalanan.


"Binggung Mom, bagaimana cara Daddy bicara dengannya? Daddy bahkan lupa wajahnya meskipun bertemu langsung, meskipun di dalam tubuhnya ada darah Daddy, tidak ada sedikitpun rasa dia ada." Dimas khawatir jika hadirnya dia hanya akan menyakiti Angga lebih dalam lagi.


"Mommy yang akan bicara padanya," senyum Anggun terlihat.


"Saat ini mungkin Daddy akan mengatakan tidak ada rasa, tapi nanti jika melihatnya langsung pasti hati Daddy akan hancur karena terlambat mengetahui soal dia." Dean yang membayangkan, matanya mengandung air mata apalagi Daddy-nya yang puluhan tahun tidak tahu jika memiliki anak lain.


Kepala Anggun mengangguk membenarkan ucapan Dean, tidak mungkin ada yang sanggup menahan air mata jika bertemu dengan Angga.


Mobil tiba di apartemen, Dean berpikir apartemen tempat Angga tinggal berukuran besar ternyata hanya apartemen sederhana.

__ADS_1


"Di kamar lantai berapa Dean?" Daddy menatap apartemen yang hanya beberapa lantai.


Dean mengecek ponselnya, meminta Mommy dan Daddy mengikutinya. Di lift jantung Dimas berdegup kencang.


Ada beberapa wartawan yang kembali karena gagal menemukan keberadaan Black. Dean merasa cemas meminta bantuan penjaga untuk menjaga keamanan di apartemen.


"Mom, nanti jangan tersinggung jika Kak Black berkata kasar," ucap dean lembut.


"Jangan khawatir Dean, Mommy tahu dia anak baik, jika tujuannya buruk mungkin sudah lama dia datang menyakiti keluarga kita, tapi Angga memilih pergi menyakiti dirinya sendiri." Anggun mengusap kepala putranya.


Langkah Dean berhenti di kamar, membunyikan bel. Berkali-kali di tekan tidak menunjukkan adanya penghuni.


Dari dalam kamar, Angga terbangun dari tidurnya. Mengucek mata berjalan ke arah pintu. Angga melihat dari dalam, hanya ada seorang wanita yang berdiri sambil tertunduk.


Ketukan pintu juga pelan, Angga tidak terlalu mengenali wajah Anggun. Membuka perlahan pintu.


"Assalamualaikum Angga, boleh Mommy masuk" Anggun tersenyum melihat Angga yang membuka pintu sedikit.


"Maaf Tante cari siapa? Dan ada perlu apa?" Suara Angga sangat pelan.


Tangan Anggun mendorong pintu, melihat Angga yang terlihat sedang demam ada bercak darah di bajunya yang sudah kering.


"Boleh Mommy masuk?"


"Maaf Tante siapa? Kita tidak saling mengenal,"


Dean dan Daddy Dimas muncul, Angga terdiam melihat Anggun yang baru dia sadari jika Mommy Dean.


Dimas melihat kondisi Angga yang nampak tidak baik. Dadanya langsung terasa sesak dan hancur karena pemuda yang seharunya sedang berada di masa bahagia harus menanggung rasa sakit dari kesalahan orag tuanya.


"Ada apa kalian kesini?"


"Kita boleh masuk Kak, Mommy dan Daddy ingin bicara. Soal Tante Shena ...." Dean menatap pintu yang tertutup kuat.


Angga berdiri di balik pintu sambil meneteskan air matanya. Menggelengkan kepalanya tidak ingin membahas soal dirinya.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2