SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
SERANGAN BALIK


__ADS_3

Sampai acara usai tidak ada kesedihaan sama sekali karena panik dan cemas jika tamu spesial Isel berulah.


Apa yang ditakutkan tidak terjadi apapun, Isel berhasil menjaga tamunya agar bisa tertib sampai akhir.


"Syukurlah apa yang kita cemaskan tidak terjadi, Mora Mira juga tenang karena takut dengan orang gila." Diana mengusap dada merasa bahagia.


"Di mana Isel?" tanya Dean karena kamar pengantin terkunci otomatis.


"Jangan masuk ke sana Dean, kamar itu ada racun mematikan." Aira menceritakan apa yang terjadi kepada mereka sebelum pesta sehingga Isel tidak mendengar ijab kabul.


Angga langsung kaget, menatap Putrinya yang sedang tidur karena kelelahan. Genta dan Juna juga langsung melihat ke arah Mira Mora yang memberikan jempol pertanda mereka dalam keadaan baik.


"Bagaimana kondisi Isel?" tanya Dean yang mencari keberadaan Isel.


"Uncle, kalian sudah tahu apa yang terjadi di kamar pengantin, kita langsung pulang ke rumah saja, tapi Isel ke rumah sakit dulu karena ada pasien yang tidak bisa aku tunda." Langkah kaki Isel meninggalkan hotel sambil lari-larian.


"Kita semua pulang, Kak Gem akan mencari pelakunya." Gemal mengusap punggung Dean yang ingin melihat rekaman CCTV.


Sia-sia memiliki banyak penjaga, tidak ada yang menyadari jika CCTV disadap dengan video manipulasi. Pelaku yang menginginkan Isel celaka tidak ditemukan.


Keluarga akhirnya pulang semua, setidaknya tidak ada satupun anggota keluarga yang celaka dari aksi pembunuhan asap beracun.


Alasan Isel ingin pergi ke rumah sakit hanya kebohongan belaka, dia pergi ke bar bertemu dengan teman-temannya.


"Sel, kenapa kamu di sini, bukannya kamu sedang pesta pernikahan?" tanya Weni yang bekerja di Bar.


"Ini sovenir untuk kalian berempat, aku datang bukan untuk membahas soal pernikahan, tapi bantu aku menemukan seseorang." Isel meletakan tabletnya.


Semuanya fokus kepada layar yang Isel tunjukan, hasil rekaman yaang sengaja Isel pasang di depan kamar pengantin, perasaan Isel memang sudah tidak enak sejak awal jika acara pernikahan tidak akan berjalan mulus.


"Siapa wanita ini Sel, diia pasti sangat berpengalaman?" tanya Yolan yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan besar bagian IT.


"Namanya Hairin, dia seorang polisi bagian kejahatan dan seorang pemimpin." Isel menunjukkan identitas Hairin yang harus mereka kalahkan.


"Ada banyak kasus yang lalai di tangan wanita ini dia memiliki jabatan tinggi hanya karena Ayah angkatnya sangat dihormati," ucap Vio yang bekerja di kantor polisi yang sama di divisi kejahatan, namun beda anggota.

__ADS_1


Kepala Isel mengangguk, dia tahu jika Irin bukan polisi yang baik dan itulah alasan Isel tidak ingin gegabah, dia harus menjatuhkan Irin hingga kehilangan jabatannya.


Senyuman keempat teman Isel mendengarkan dengan jelas apa yang Isel biarkan juga rencananya yang ingin menjatuhkan Irin tanpa ada yang tahu dirinya terlibat.


"Kasus terakhir yang Irin tangani tidak sepenuhnya murni, jika kamu ingin kita gunakan kasus terakhir." Vio juga sudah muak dengan Irin dan ingin melihatnya segera angkat kaki.


Yolan merinding melihat Irin yang begitu kejam kepada orang yang kurang mampu, demi naik jabatan juga mendapatkan sanjungan rela memanipulasi barang bukti.


Dia dibayar untuk menutupi sebuah kasus, menyalahkan orang yang tidak bersalah sungguh hal yang sangat memalukan.


"Malam ini kita mulai misi, aku ingin besok pagi bisa tidur dengan nyenyak," ujar Isel yang mengeluarkan senjatanya.


Lima orang meninggalkan Bar yang sedang ramai untuk menuju lokasi yang sedang menjadi incaran Hairin dan timnya untuk mengejar seorang penjahat.


Sampai di lokasi, Isel menahan pundak seorang wanita yang gemetaran ketakutan karena sedang menghindari kejaran posisi.


"Saya tidak salah, kenapa korban bisa menjadi pelaku?" seorang wania menangis sesenggukan karena merasa dipermainkan oleh hukum.


Seharusnya hukum untuk melindungi, tapi apa jadinya jika hukum berubah menjadi tempat berlindung orang-orang kaya, dan menindas orang kelas bawah.


Kepala Laura mengangguk, Vio membawa korban ke tempat aman, Yolan yang akan mengawasi kawasan mereka dengan meretas seluruh area CCTV agar seluruh teman aman.


Isel dan Weni yang akan memberikan pelajaran kepada Hairin karena sudah berani main-main kepadanya.


"Selamat bekerja teman-teman," ucap Isel yang sudah memasangkan earphone di telinga agar bisa berkomunikasi dengan yang lainnya.


Dugaan Isel benar, sekitar delapan orang berlari mengejar Laura yang menggunakan baju sama seperti target.


Laura berlari kencang menghindari kejaran polisi untuk membuat mereka tidak ada yang curiga.


"Berhenti atau mati!" Seru Irin mengarahkan senjata tepat di kepala Laura.


"Tolong ampuni saya, sungguh bukan saya pelaku yang membunuh, tapi saya saksi yang melihat dan melaporkan kepada polisi sesuai apa yang dilihat," jelas Laura sesuai arahan Isel yang masih mengawasi.


Suara tawa Hairin terdengar, dia tidak peduli siapa yang salah dan siapa pelaku juga korban, Irin hanya bekerja sesuai bayaran." Senyuman Irin terlihat mengangkat wajah wanita yang bertekuk lutut.

__ADS_1


"Aku ingin kamu tidak melihat apapun, katakan apa yang kamu lihat hanya kebohongan. Jika kamu tidak mengatakannya maka nyawa kamu akan melarang." Irin memastikan jika siapapun yang dia putuskan salah tidak boleh mendapatkan pembelaan.


"Apa yang saya lihat dan jelaskan itu fakta, kenapa saya disalahkan dan dituduh berbohong?" tanya Laura menangis, tapi dia ingin sekali menampar wajah Hairin.


Senyuman Isel terlihat, merasa puas dengan siaran langsung yang Irin lakukan, dia mengungkap sendiri semua kesalahannya dan cara pandangnya kepada kepolisian.


"Kamu memiliki keluarga, apa tidak malu?"


"Kenapa aku harus mau, mereka hanya keluarga angkat dan tidak penting untukku," jawab Irin yang melayangkan tendangan kuat


Rekaman dimatikan, Isel melepaskan tembakan di depan Irin agar tidak menyakiti Laura karena lawannya bertarung bukan Laura, tapi Isel.


"Tamat sudah hidup kamu Hairin, dasar wanita tidak berguna." Laura tertawa karena dia bukan wanita lemah yang Hairin bisa injak.


"Sudah aku katakan Irin, kamu bukan tandingan aku," ucap Isel yang udah muncul masih menggunakan baju pengantin yang sobek.


"Kamu tidak akan mampu menjatuhkan aku Isel." Tawa Hairin terdengar belum juga goyah.


Kepala Isel mengangguk, melepaskan jaket yang menutupi tubuhnya, melepaskan high heels sialan yang menghalangi jalannya.


Weni menyerahkan sepatu boots yang menjadi sepatu kesayangan Isel jika ingin bertarung.


Suara pertempuran terdengar, tim Isel menahan semua anggota Irin agar tidak bergerak karena mereka juga akan bernasib sama dengan Hairin.


Isel yang sedang tersulut emosi karena diberikan asap beracun tidak memberikan kesempatan bagi Irin untuk menyerangnya.


Tubuh Irin terpental, Isel langsung duduk di atas tubuh Irin, menginjak kedua tangannya. Apa yang orang lakukan kepadanya akan Isel balaskan.


Mulut Irin dibuka paksa, Isel memasukkan racun yang sama dengan asap hanya bedanya Irin akan dinyatakan bunuh diri, jika tidak cepat diselamatkan dia akan mati.


"Jangan ganggu aku maka aku tidak akan menganggu kalian, jika kamu ingin hidup akui semua kesalahan kamu dan ambil penawar racun di dalam laci ruang kerja kamu. Aku juga seorang psikopat, bukan mengobati, tapi mengendalikan agar semua orang sekuat aku." " Isel tersenyum manis meminta teman-temannya pergi.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2