SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
KETAHUAN


__ADS_3

Lari Isel kencang, tidak menyangka jika waktu sangat cepat berlalu, jika Dean banyak tanya habis sudah dirinya.


Pintu apartemen terbuka, Isel bernapas lega karena lampu masih mati semua, berarti suaminya belum pulang.


"Ye, Uncle belum pulang." Isel menghidupkan lampu langsung teriak kuat melihat Dean berdiri melipat dada di depan pintu kamar.


Tatapan mata Dean tajam, menunjuk Isel yang garuk-garuk kepala melihat suaminya sudah lama pulang.


"Dari mana kamu, jadwal pulang seharusnya lima jam yang lalu, dari mana Nona?" Dean memicingkan mata melihat istrinya yang tersenyum kecil.


"Isel dari tempatnya Vio," jawab Isel melangkah mendekat.


"Bohong, Vio dan teman kamu si Wendo itu tidak ada di hotel. Kalian di mana?"


Di dalam hati Isel mengumpat kasar, dia takut terus berbohong karena jika ketahuan maka akan ada keributan besar.


"Ayang, Isel boleh tidak mandi dulu?"


"Boleh, sana mandi. Lima menit selesai." Dean masuk ke dalam kamar menunggu Isel mandi.


Di dalam kamar mandi Isel lompat-lompat panik, Isel sangat yakin jika suaminya tahu di mana dirinya berada.


"Isel, cepat," teriak Dean yang sudah tahu jika Isel mencari cara untuk mengelak.


"Isel pakai baju dulu." Bibir Isel manyun cepat ganti baju duduk di samping Dean yang menatapnya tajam sambil bersandar di ranjang.


Kedua tangan Isel memeluk, mengecup pipi. Dean menghindar karena dia tahu jika Isel sedang menghindarinya.


Tarikan tangan Isel kuat, mengecup bibir Dean yang tidak terpancing sama sekali masih tetap ingin tahu Isel dari mana.


Rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa nafsunya, Dean sangat yakin dengan pikirannya dan mengenal baik siapa Isel.


"Di mana Ren kalian sembunyikan?" Dean menarik telinga Isel agar berhenti mengecup lehernya sehingga meninggalkan bekas merah yang dipertanyakan banyak orang.


"Siapa Ren?"


"Sel, jangan paksa aku untuk mencari tahu sendiri. Kita suami istri dan jangan sampai berlawanan." Dean memberikan peringatan kepada istrinya agar tidak berbohong.

__ADS_1


Terpaksa Isel akhirnya mengakui jika memng dirinya yang menyamar bersama teman-temannya untuk menyelamatkan Ren.


Jika Ren sampai tertangkap maka bagus untuk Bian, tugas Dean saat ini bukan mencari Ren, tapi membuktikan keterlibatan Bian.


"Kamu belum menerima berita barunya jika Bian menyerahkan diri kepada kepolisian secara sukarela?" tanya Dean yang menghela napas karena orang yang dijadikan target saat ini Alika.


Jika keberadaan Ren diketahui dia bisa menjadi saksi yang akan membebaskan Bian karena segala kesalahan diarahkan kepada Alika.


Mendengar ucapan Dean sungguh mengejutkan tidak menyangka jika Bian muncul dengan menyerahkan diri. Selama Alika belum ditemukan dia akan dijadikan tahanan.


Perjuangan Alika sungguh sia-sia karena pada akhirnya dia yang dijadikan kambing hitam, sedangkan Bian hanya menumpang istirahat di kantor polisi.


"Pengacara yaang membela Bian juga sudah ada enam, mereka menuntut kepolisian untuk membebaskan karena segala bukti kemungkinan-kemungkinan besar permainan Alika." Dean masih menahan dengan segala cara agar Bian lebih lama lagi di penjara.


"Ternyata Bian sangat jenius, Isel juga tidak terpikirkan dengan rencana dia. Aku pikir Ren ternyata itu hanya untuk mengecoh saja?" Kepala Isel geleng-geleng karena Alika akan segera lenyap karena dia sampah dan tidak dibutuhkan lagi.


"Bagaimana kondisi Ren?"


"Dia mungkin aman bersama Weni, tidak perlu diamankan karena menyembunyikannya jauh lebih baik." Isel memohon kepada Dean agar tidak menghukum Ren, hidupnya sudah kacau sehingga dibuat semakin kacau oleh orang yang tidak bertanggung jawab.


Semakin banyak orang kuat, maka terus bertambah juga orang jahat, sedangkan mereka tidak bisa hanya fokus pada satu hal.


"Kak Dean akan melepaskan kasus Bian?"


"Tidak, tapi kasusnya akan ditutup setelah Alika tertangkap." Dean yakin Bian akan bebas, sementara waktu dia pasti akan memilih tenang hingga keadaan stabil.


"Keberadaan Alika sudah diketahui?"


"Iya, tapi masih belum tertangkap hanya bawahan saja yang satu-persatu ditemukan, dan mereka semua memberikan informasi jika yang memerintahkan Alika." Tidak ada bukti yang mengarahkan kepada Bian kecuali ada korban yang dinyatakan sehat bisa memberikan ketenangan.


Wanita Terakhir yang menjadi korban Bian sudah memberikan keterangan, namun tidak dinyatakan sah karena dia ternyata mengkonsumsi obat terlarang yang bisa saja mengalami halusinasi.


"Uncle tidak masalah Bian bebas?"


"Mau gimana lagi, kita hidup di dunia hukum, suatu hari dia pasti akan menunjukkan taring yang sesungguhnya." Dean tidak ingin memiliki obsesi berlebihan dengan memejamkan Bian padahal dia tidak memiliki satupun cara atau bukti.


Dean juga ingin menjalankan kehidupannya tidak ingin berlama-lama dengan kasus Bian yang tidak berkesudahan.

__ADS_1


"Tujuan aku menemukan korban dan juga Irin, mereka sudah diselamatkan meskipun aku harus menelan pil pahit sebuah kegagalan." Tangan Dean memeluk Isel karena mereka tidak akan lama lagi bisa pulang.


Senyuman Isel terlihat, dia sangat bahagia jika secepatnya mereka kembali, Isel bisa segera kumpul dengan keluarga recehnya.


"Tidurlah, sudah malam." Dean menarik selimut karena dia juga ingin tidur.


"Uncle, Isel belum makan dari pagi hanya nyemil roti karena kita dadakan dapat informasi keberadaan Ren." Isel beranjak dari tempat tidur ingin masak.


"Jangan dihancurkan dapurnya lakukan segalanya secara perlahan dan pelan-pelan." Dean meengikuti Isel karena dia tidak ingin menjadi babu yang membersihkan bekas kekacauan Isel.


Senyuman manis Isel terlihat, melihat Dean yang mengajarinya cara masak yang rapi bukan dengan bergaya chef padahal belum ahli.


"Ye Isel Bisa." Kedua tangan Isel bertepuk menatap telur masak dengan matang.


"Oke pintar, letakkan di wadah perlahan." Dean menatap sinis karena telur sudah jatuh di lantai.


"Uncle telat kasih tahu." Isel menyalahkan Dean yang menatap kesal.


"Sudah aku ingatkan pelan-pelan, buat apa kamu membawa telur keliling dapur." Nada Dean meninggi karena lantai penuh minyak.


Penggorengan langsung Isel banting , wajan yang ada di kompor juga dipegang dengan tangan langsung dihempaskan.


"Hanya karena dapur saja marah, Isel tidak akan masuk dapur lagi," teriak Isel kuat menendang telur yang jatuh.


"Kenapa kamu berteriak, dinasehati hal baik marah, jadi perempuan keras kepala sekali." Dean menendang wajan sampai minyak penuh di segala tempat.


Keduanya sama-sama marah, Dean memilih masuk ke ruang kerjanya dan Isel banting pintu masuk kamar.


Selimut ditarik, air mata Isel menetes merasakan perutnya lapar. Pintu kamar terbuka kembali Dean meminta Isel bangun agar mereka bisa makan di luar.


"Bangun, kita makan ke bawah, jangan menangis." Dean menarik tangan Isel yang tetap menolak.


Bagaimanpun Dean membujuk tidak menurunkan amarah Isel dia lebih pilih mati kelaparan daripada menerima tawaran Dean.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2