SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
MEMBAWANYA PERGI


__ADS_3

Pintu ruangan rawat terbuka, Isel menatap seorang pria yang sedang duduk bersandar di atas ranjang.


"Besok kita akan meninggalkan negara ini, dan Kakak harus benar-benar menghilang." Isel memberikan paspor baru, melangkah keluar dari ruangan.


Tangan gemetaran menyentuh paspor, menutup kembali matanya setelah melihat catatan pernikahan Lea dan Juan, juga acara lamaran Aira dan Dean.


Perlahan infus dilepaskan, berjalan ke arah jendela melihat langit malam yang sangat dingin.


Air mata mengalir di antara pelipis mata, tangan menyentuh dada yang terasa sesak karena luka bekas operasi yang belum pulih sepenuhnya.


Suara langkah kaki Isel berhenti di ruangan Isel, melihat Aira masih tidur ditemani oleh Lea dan Dean.


"Maafkan Isel Kak Ai, aku akan membawa Kak Angga pergi bersamaku. Lanjutkan hubungan kalian yang sejak awal sudah saling menyakiti." Isel meninggalkan rumah sakit tanpa sepengetahuan siapapun.


Isel membawa keperluannya untuk pergi, hanya kedua orangtuanya yang tahu jika Isel akan pergi jauh untuk melanjutkan pendidikannya.


"Kamu yakin Sel? Mama ingin yang terbaik untuk kamu,"


"Ini yang terbaik Mama,"


"Bagaimana dengan luka di wajah kamu?"


"Aku baik-baik saja, aku yang membantai Kak Ai, bukan dia. Kak Ai yang perlu dikhawatirkan. Ma, jika bisa nasihat Uncle untuk memilih bahagia bukan untuk membahagiakan orang lain." Isel memeluk Diana yang tersenyum lembut.


Tahun depan Isel akan berusia tujuh belas tahun, dia harus menjadi wanita yang kuat untuk melewati proses hidupnya.


"Pulanglah, saat perayaan ulang tahun yang ketujuh belas, Mama akan melepaskan kamu di usia tujuh belas." Di mengecup kening Putrinya.


"Apa boleh Isel menikah jika menginjak usia tujuh belas tahun?"


"Tidak boleh, minimal dua puluh tahun." Gemal menatap tajam Putrinya yang pastinya memiliki rahasia besar karena itu sikapnya berubah.


"Lama sekali Pa, bagaimana jika delapan belas?"


"Dua puluh Ghiselin,"


"Oke oke, kita ambil jalan tengah sembilan belas tahun." Kedua tangan Isel memohon kepada Papanya sebagai permintaan terakhir sebelum Isel melanjutkan pendidikannya.


"Baiklah, jika kamu berhasil lulus di usia delapan belas tahun, dan berhasil mengalahkan Ian di ujian akhir." Gemal mengulurkan tangannya menantang Putrinya, Gemal akan menyetujui siapapun lelaki yang Isel pilih.

__ADS_1


Senyuman Isel terlihat, menyambut tangan Papanya. Di hati Isel mengumpat, melawan kakaknya Ian sama saja bunuh diri.


Tidak ingin debat panjang bersama Papanya, akhirnya Isel menyetujui mode pasrah. Dia harus menunggu lama untuk menikah, sedangkan hatinya sedang dalam keadaan tidak baik.


***


Pagi-pagi Dean membuka ruangan Isel, ranjang tidurnya sudah rapi. Dean menghubungi Kakaknya menanyakan keberadaan Isel.


Diana menjelaskan jika Isel sudah pulang, dia menolak dirawat di rumah sakit karena lukanya ringan. Dan benturan di kepalanya hanya menyebabkan gegar otak ringan.


"Di mana Isel?" Aira berjalan masuk.


"Dia sudah pulang tadi malam, dan tidak mengabari kita. Ai apa penyebab kalian bertengkar?"


Aira langsung keluar, dia juga ingin segera pulang. Ai tidak memberitahu siapapun penyebab pertengkarannya.


"Jika kamu ingin tahu tanyakan langsung kepada Isel, dia tahu segalanya karena dia yang memukul lebih dulu." Ai meminta Lea mengurus kepulangannya.


Rasa penasaran Dean sangat besar, bergegas pulang untuk menemui Isel yang tidak ingin berbicara apapun kepadanya.


"Ai, kamu ingin ikut aku tidak?"


Langkah Dean dan Aira berlawanan, Dean bergegas pulang untuk tahu penyebab kemarahan Isel yang hampir membuat Ai lumpuh.


Sesampainya di rumah, Dean bergegas masuk hanya menemukan Diana yang ingin pergi bekerja.


"Di mana Isel Kak?"


"Sementara waktu kita tidak akan bertemu dia, Isel sudah terbang ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya." Diana tersenyum menatap Dean yang kaget.


Tidak biasanya Isel mengambil keputusan tanpa mengatakan apapun kepadanya, Dean tidak percaya Isel pergi begitu saja.


"Kenapa tidak mengatakan apapun kepada Dean?"


"Dia pergi membawa amarah, Kak Di tidak bisa memahami Isel yang sekarang. Dia berubah sejak Black meninggal." Air mata Diana menetes kembali.


"Negara mana dia pergi? Dean akan mengawasi dia,"


Diana menggelengkan kepalanya, dia meminta Isel menemui kakeknya di luar negeri, tapi langsung ditolak.

__ADS_1


Isel memilih sendiri ke mana dia harus pergi, Diana tidak bisa menghentikannya karena akan membuat putrinya semakin menderita.


"Kak Diana tidak tahu, Isel belum dewasa Kak. Dia juga seorang wanita, ini tidak pantas." Suara Dean meninggi meminta Diana menghubungi Isel.


"Kak Di juga khawatir, tapi kamu bisa lihat sendiri apa yang dia lakukan? biarkan Isel menenangkan diri." Kepala Diana tertunduk, hanya bisa pasrah dengan akhir dari perjalanan putrinya.


Dean tidak setuju, dia sangat menyayangi Isel. Hanya karena Black hidup Isel berantakan, Dean akan menemukan keberadaan Isel dan membawanya kembali.


"Ke mana kamu mencarinya? kita semua tahu jika Isel memutuskan keluar rumah sulit ditemukan." Gemal menepuk pundak Dean untuk membiarkan Isel menenangkan diri.


Pernikahan Juan akan segera diadakan, tidak seharusnya mereka sibuk dengan masalah lain.


"Kamu juga harus fokus kepada kasus kemarin, selesaikan secepatnya. Kak Gemal ini tahu hasil akhirnya, dan kita biarkan Isel sementara waktu." Gemal memberikan berkas untuk Dean.


"Di bandara mana dia penerbangan?"


"Dean,"


"Kalian tidak ingin memberitahu, aku mencarinya sendiri." Dean langsung melangkah pergi tidak menghiraukan ucapan Diana dan Gemal yang menghalanginya.


Mobil Juan melaju pergi menuju bandara, mencoba menghubungi Isel. Nomor Isel tidak aktif lagi, dia mematikan komunikasi dengan siapapun.


"Apa Isel marah karena aku mendorongnya sampai terbentur?" Dean menghela napasnya, membela Aira salah, menyalahkan Isel juga salah.


Dean menyalahkan Black, dia tidak masalah jika Ai bersama Black. Berkorban sesekali bukan masalah besar, tapi kehilangan Black lenyap juga kebahagiaan keluarga mereka.


"Maafkan Uncle Sel, Uncle sudah berusaha menjaga kamu untuk melupakan Kak Black. Apa yang membuat kalian bertengkar?" mobil Juan berhenti di bandara, menunjukkan identitasnya untuk menemukan penerbang Ghiselin.


Tidak ada satupun penerbangan atas nama Isel, Dean berkali-kali meminta bantuan untuk menghubungi bandara lain namun nama Isel tidak tercatat sebagai penumpang.


"Di mana Isel? tidak mungkin dia menggunakan identitas lain." Dean mengumpat kasar melewati seorang wanita yang berjalan di sampingnya.


Senyuman Isel terlihat, menatap punggung Dean. Tidak akan ada yang bisa menemukan Isel, sekalipun Dean.


"Maafkan Isel Uncle, tidak kuat melihat Uncle tersakiti lebih tanpa komunikasi. Isel ingin mengejar mimpi, dan kembali pada waktunya. Uncle jaga diri meskipun Isel tahu kalian tidak akan bahagia." Air mata Isel menetes, membalikan badannya saat Dean menatap ke belakang.


Di ruang tunggu Dean melewati seseorang yang tangan gemetaran, sesekali memegang dadanya yang terasa sakit.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2