SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BERBAUR


__ADS_3

Suasana perusahaan sudah rusuh karena jadwal pernikahan dipercepat dari target yang sudah disepakati, bahkan publik langsung gempar saat Aira dan Blackat meng-upload foto lamaran keduanya yang menggunakan cincin pertunangan.


"Uncle, sudah melihat pemberitaan belum jika publik heboh. Banyak wartawan yang mencoba mencari keberadaan Uncle dan Aira di apartemen." Isel duduk di samping Angga yang sedang duduk santai menikmati udara pagi.


"Iya tahu, staf pasti pergi subuh semua karena akan ada kegaduhan karena pernikahan yang maju." Angga tersenyum manis melihat Lea jalan pagi didampingi oleh Ajun.


Lea melangkah mendekati Angga, langsung duduk disebelahnya setelah Angga mempersilahkan.


"Bagaimana kondisi kandungan kamu Lea?" Angga hanya tersenyum tidak berani menyentuh perut adiknya.


Kepala Ajun langsung menempel di perut Lea, menceritakan jika bayi di dalam sana sedang bertarung.


"Uncle dengarkan, mereka sedang mengejek Ajun. Awas saja jika kalian lahir, Ajun tendang sampai melayang jauh." Tawa si kecil terdengar, mendengarkan kembali aktivitas bayi di dalam perut.


Lea hanya bisa tertawa kecil, Ajun tidak boleh memukul Adiknya namun harus menyayangi. Mereka juga saudara Ajun.


"Kakak Ajun, Mama mengatakan harus pulang karena kita harus sekolah." Vino berjalan mendekat, meminta Kakaknya pulang.


"Iya sabar ini masih pagi." Ajun berlari mengejar Vino langsung membanting.


"Astaghfirullah Al azim, Ajun tidak boleh seperti itu dengan adiknya." Angga langsung berlari membantu si kecil yang sudah dibanting.


"Tidak apa Uncle, Vino kuat. Kakak Ajun tidak sengaja melakuaknya," ujar Vino sambil tersenyum.


"Kamu terlalu baik Vino, sesekali kamu harus membanting Ajun agar dia jera." Isel memeluk kesayangannya yang masih menunjukkan senyuman manis.


Senyuman Angga dan Isel terlihat, duduk kembali bersama Lea yang sedang berjemur. Aktivitas Lea sudah dia hentikan sementara ingin fokus dengan kehamilannya.


"Isel dengar, baby twins lagi?" Isel mengusap perut Lea yang masuk bulan ke tujuh.


"Iya, tapi cowok semua. Kak Juan juga langsung happy karena cowok, dia akan tenang tidak ada keributan di rumahnya.


"Bagaimana jika dapatnya begitu?" Isel menujuk ke arah Mira dan Ajun yang berlari kencang lembar oleh Tika menggunakan sapu.


Dua anak beda jenis kelamin, Ajun tidak kalah nakal dari Mira, meksipun masih bisa dikendalikan.


"Ajun baik, sedikit nakal namun pengertian." Lea menutup wajahnya menggunakan tangan saat Ajun menghilang di semak-semak.


Hasan menarik rambut Adiknya agar segera pulang dan mandi, sedangkan Mira duduk santai di atas mobil. Hasan tidak akan berani menyakitinya.

__ADS_1


"Ampun Kak, Ajun tidak nakal lagi." Suara Ajun meringis kesakitan terdengar.


Suara teriakan Shin juga terdengar, Mora keluar dari rumah membawa tas sekolah dengan tatapan menyeramkan.


Teriakan Mora juga terdengar mencari Kakeknya untuk diantar sekolah, dia tidak ingin pergi bersama Adiknya.


"Uncle antar Mira dan Mora sekolah," teriak Mora kencang.


Kepala Blackat mengangguk, mengambil kunci mobilnya untuk mengantar dua kurcaci nakal yang sangat mudah marah.


"Kak Angga hati-hati, jangan sampai ada yang melihat." Lea memperingati karena banyak wartawan yang sedang mencari keberadaan Angga.


Teriakkan Aira terdengar, dia ingin ikut namun baru bangun tidur. Lea dan Isel hanya bisa geleng-geleng melihatnya. Di depan kamera saja Aira terlihat cantik dan elegan aslinya sangat jorok.


Angga membiarkan Aira ikut dengannya, Ai menatap twins beda rahim hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun.


"Tumben diam saja?" tanya Aira melihat keduanya yang menatap sinis.


"Kenapa kalian berdua?" Angga menoleh sebentar untuk melihat keduanya.


"Uncle lihat bibir Mora ada sariawannya, sakit sekali." Wajah sedih terlihat menujukkan bibirnya yang ada banyak sariawan.


"Mira juga Uncle, bibir Mira sampai bengkak begini." Air mata Mira menetes karena sakit.


Angga mengusap kepala Mira, meminta keduanya duduk tenang, mereka akan segera periksa ke rumah sakit.


"Kenapa Kak Shin dan Tika membiarkan keduanya sekolah." Ai melakukan panggilan kepada kakaknya yang membiarkan anak sakit tetap pergi sekolah.


Ekpresi Tika langsung terkejut, menepuk jidatnya meminta Angga tetap pergi ke sekolah karena si kembar beda rahim berbohong.


"Lepaskan tempelkan di bibir kalian, belum tahu nanti benar-benar sariawan sudah pintar berbohong." Ai menegur kedunya yang langsung tersenyum.


Helaan napas Mora Mira terdengar melepaskan tempelan yang mereka gunakan, sulit sekali menipu Mama Tika sehingga langsung tahu jika mereka bohong.


"Kenapa Mama bisa tahu ya, padahal acting kita sudah oke?" Mora menatap Mira yang juga terheran-heran karena Mamanya tahu segalanya.


"Bagaimana bisa kalian sariawan bisa makan nasi goreng, susu satu gelas, roti bakar ditambah lagi mengambil punya adik kalian. Acting bukan hanya ekpresi, tapi kalian harus riset dulu apa perannya." Ai gemes melihat keduanya yang sudah tertawa.


"Kita ketahuan karena banyak makan, sia-sia diam dari tadi." Mora tepuk jidat.

__ADS_1


Tawa Aira juga terdengar, meminta keduanya turun dan belajar dengan rajin cukup dirinya yang pemalas sekolah.


"Hati-hati Mira Mora, belajar yang benar." Angga tersenyum melihat keduanya yang sudah berlari masuk kelas.


Kepala Aira geleng-geleng, tersenyum menatap Angga yang juga heran melihat dua anak kecil yang sangat nakal.


"Kita pulang atau cari makan?"


Ai menuju alamat yang ingin dirinya tuju, Angga langsung mengangguk melajukan mobilnya ke tempat tujuan.


Mata Aira berbinar saat melihat banyaknya makanan yang berderet sepanjang jalan, Angga ragu untuk keluar karena takut ada yang melihat.


"Ai, banyak orang,"


"Biarkan saja memangnya kita tahanan takut keluar." Aira langsung keluar dengan santainya, hanya menggunakan topi dan kacamata.


Melihat Aira sudah keluar, Angga juga melangkah keluar menggunakan topi dan masker.


Ai berkeliling memesan setiap makanan, beberapa orang memperhatikan keduanya yang tahu jika Aira dan Blackat ada di antara mereka.


"Kalian berdua akan segera menikah, selamat ya?" sapa seseorang yang langsung lewat saja.


Di dalam hati Aira dan Angga tersenyum, jika orang lain saja penasaran dengan pernikahan mereka, apalagi Ai dan Black yang ingin menjalaninya tidak bisa menunggu lama.


"Kamu tidak takut makan di tempat terbuka begini?"


"Kenapa harus takut? kita hanya selebriti bukan penjahat." Ai mengambil tisu membersihkan bibirnya yang celemotan.


Senyuman Angga terlihat, Aira satu-satunya aktris terkenal yang tidak takut pergi sendirian tanpa pengawal. Dia masih tetap bebas meskipun memiliki jutaan penggemar.


"Aira, Blackat, selamat makan." Penggemar yang mengenal mereka terlihat sangat happy.


"Kalian sudah makan belum Aira yang bayar, duduk saja. Selama kalian tidak menatap Blackat aku berikan izin." Candaan Aira terdengar menepuk meja agar duduk bersama.


Genggaman tangan Angga erat, Aira memang wanita yang memiliki keistimewaan. Dia tidak takut apapun, dan sangat menghargai penggemarnya sehingga tidak ada penggemar yang histeris melihatnya.


Bahkan Black tidak melihat adanya kamera yang memotret kebersamaannya mereka dengan penggemar.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2