SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
CINTA DISEMBUNYIKAN


__ADS_3

Tatapan Isel sedih, dia hanya diam sepanjang jalan pulang karena ucapan Blackat yang mengatakan jika dia tidak mencintai wanita yang mengejarnya.


"Kenapa kamu terlihat sedih?"


"Ucapan Kak Black menyakitkan, Isel tulus cinta." Tangisan terdengar, Isel bahkan rela melakukan segala cara agar bisa datang ke pesta, pada akhirnya dia pulang lebih dulu.


Dean memakai earphone, tidak memperdulikan tangisan Isel sama sekali. Dia memang masih terlalu kecil, mencintai lelaki dewasa.


Sesampainya di rumah, Dean langsung keluar berlari ke arah rumahnya untuk mengambil berkas. Dean ingin mempersiapkan untuk sidang Papinya Lea.


Di dalam mobil, Isel menemukan sesuatu di dalam mobil. Membuka beberapa foto dan cukup mengejutkan karena Dean menyimpan foto Aira.


"Uncle mencintai Kak Ai, tapi terlihat biasa saja saat Kak Ai bersama Black. Dasar laki-laki bodoh, bisa dia berpura-pura memiliki pacar, padahal hatinya untuk wanita lain." Bibir Isel monyong menyembunyikan foto kembali.


Pintu mobil terbuka, Dean kembali masuk. Matanya melihat ke arah Isel yang sudah diam tanpa air mata.


"Keluar Ghiselin, aku ingin pergi." Suara Dean meninggi merasa kesal karena Isel yang selalu membuntutinya.


"Ikut,"


"Astaghfirullah Isel, aku memiliki banyak perkejaan. Tidak punya waktu mengurus kamu, cepat keluar! apa kamu ingin aku seret keluar?"


Teriakan Isel terdengar, memukul Dean yang selalu membentaknya. Isel tidak melakukan kesalahan apapun masih saja salah.


"Pokoknya Isel ikut! Uncle tidak boleh mengeluarkan Isel,"


Mobil langsung melaju pergi, Dean kebut-kebutan di jalanan tanpa peduli dengan Isel yang mengomel lapar.


Dean masih sempat melakukan panggilan, mendengarkan ucapan seseorang yang menjelaskan apa yang Dean inginkan.


"Uncle lapar, nanti Isel mati. Uncle tega sekali, Isel nanti sakit. Perut Isel juga sudah perih." Suara anak kecil terdengar, merengek-rengek meminta makan.


Tangan Dena mengenggam kuat setir mobilnya, akhirnya berhenti di restoran. Langsung keluar untuk makan, sebelum keponakan perempuannya yang selalu menyengsarakan hidupnya mati.


"Uncle, Isel ...."


"Makan saja Sel, jangan banyak protes lagi." Dean langsung duduk di kursi yang cukup ramai.


Bibir Isel cemberut, melihat sekitarnya. Isel tidak menyukai bau tubuh yang berkeringat sehingga tidak suka makan banyak orang yang bekerja berat.

__ADS_1


Suara beberapa orang membicarakan kasus kematian remaja beberapa tahun yang lalu terdengar, seketika Dean langsung berhenti makan.


Mendengar jika keluarga Taher sengaja menuntut balik keluarga Artama untuk bertanggung jawab, seorang pemerintah yang menutupi kebenaran.


"Keluarga Taher hanya baik di depan layar saja, aslinya mereka cukup keji. Gagal mengalahkan Dokter Diana dan keponakannya yang memimpin rumah sakit besar, sekarang mereka menghancurkan seorang pejabat agar berada dibawahnya." Seorang pengacara Taher tertawa lucu karena kekejaman keluarga Taher.


"Kenapa kamu masih bekerja dengan mereka? bahkan mereka memiliki belasan pengacara,"


"Bayarannya besar, siapa yang tidak menginginkan uang? keluarga Artama pasti hancur, tidak ada pengacara yang membela dia." Tawa kembali terdengar.


Tatapan mata Dean tajam melihat ke arah keponakan yang sedang makan dengan lahap, sambil joget-joget kesenangan bisa mendapatkan makanan enak.


"Keterlaluan kalian, ternyata benar dugaan Aira tujuan mereka tidak jauh dari dendam lama. Ai bahkan masih mencari cara untuk menjaga nama baik keluarganya agar tidak terbawa ke publik." Batin Dean menatap tajam ke depan.


"Uncle kenapa? Isel hanya lapar bukan rakus." Kepala Isel geleng-geleng, satu tangannya diam-diam mengambil milik Dean langsung memakannya.


Senyuman sinis Dean terlihat, menatap ke arah piring yang hanya sisa sendok padahal Dean belum makan.


"Jika tidak di tempat ramai sudah aku retakan kepala kamu,"


Tatapan mata Isel langsung sinis, menghabiskan minumannya. Matanya masih melotot melihat Dean yang sinis.


"Sabar Dean, dia masih keponakan kamu jika saja dia orang lain, mungkin sudah lama baju itu aku jadikan lap." Dean heran dengan para desainer yang membuat baju terlalu vulgar dan berlebihan.


Semua bentuk baju perempuan semakin hari tambah terbuka, punggung, dada, paha, perut semuanya terlihat yang disisakan hanya penuntut dua kacang di dada.


"Ganti baju kamu, aku pusing melihatnya." Dean memberikan bajunya yang ada di mobil.


"Oke Uncle." Isel langsung buka baju, membuat Dean banting pintu.


"Kak Diana tolong, kenapa mempunyai anak sinting seperti ini? dia tidak mengaggap aku sebagai laki-laki sehingga bebas buka baju." Dean duduk lemas bersandar di mobil.


Suara Isel memanggil terdengar, meminta Dean cepat jalan. Pengacara yang ada di restoran lewat, terlihat buru-buru tanpa sengaja menjatuhkan satu amplop coklat.


Mobil melaju pergi, Dean mengambilnya karena ingin melihat isinya. Berjalan ke arah mobilnya untuk kembali ke apartemen.


"Uncle lama sekali,"


"Diamlah!" Dean Isel membuat langsung menangis ngambek pindah duduk ke belakang.

__ADS_1


Sesampainya di apartemen, Dean langsung masuk kamarnya. Aira dan Lea juga ada di sana setelah pulang dari acara langsung ke apartemen.


Tanpa menyapa siapapun, Dean menutup pintunya kuat. Ai yang memanggil juga tidak dihiraukan sama sekali.


Isel masuk dengan mulutnya yang menguap lebar karena mengantuk, dan langsung lompat ke atas sofa.


Ingatan Isel kembali kepada foto yang dia lihat, kesibukan bekerja membuat Dean tidak menyadari perasaannya.


"Apa yang harus Isel lakukan? sepertinya Uncle membutuhkan bantuan Isel." Senyuman licik Isel terlihat, dia tidak akan mendekati Black secara terang-terangan, tapi memisahkan Ai dan Black menjadi tujuannya.


"Kak Ai, ingin tahu sesuatu tidak soal Kak Dean?"


"Tidak!"


"Kak Aira harus tahu jika sebenarnya Uncle cinta Kak Ai, dia bahkan sampai sekarang terus menyimpan rasa itu." Isel menatap Aira yang mengerutkan keningnya.


"Kamu sengaja mengatakannya karena ingin memisahkan Blackat dan Aira, dasar bocah kecil yang licik." Lea tertawa kecil diikuti oleh Aira yang juga tertawa.


"Belum juga melakukan sesuatu sudah ketahuan, tidak seru." Mata Isel terpejam memutuskan untuk tidur, dia akan memikirkan cara lain untuk memisahkan Aira dan Blackat.


Lea menatap wajah Isel yang masih penuh make up, melihat wajah Aira yang juga sekilas mirip Isel.


"Ai, apa orang tuanya tidak cemas dia tidak pulang?"


Kepala Aira menggeleng, tidak ada yang bisa menghentikan Isel. Mulut Mamanya sampai robek juga tidak akan didengarkan." Ai sudah tidak heran lagi jika Isel tidak pulang.


Senyuman Lea terlihat, membaca sesuatu yang ada di telapak tangan Isel yang bertuliskan hal aneh.


"Ai, apa artinya ini?" Lea mengerutkan keningnya.


"Apa?" Aira mendekat melihat tulisan di tangan Isel.


Mata Ai terbelalak besar, Isel menulis kode rahasia. Aira langsung berjalan ke kamar Dean yang ternyata terkunci.


"Ada apa Aira.?"


"Itu kode isyarat bahaya, kenapa Isel menulis di telapak tangannya. Dean pasti tahu sesuatu." Ai mengetuk pintu kuat.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2