
Pagi-pagi Dean baru selesai olahraga, tidak melihat Isel lagi di atas tempat tidur yang biasanya hanya guling-guling malas-malasan.
Sudah satu minggu mereka menikah, masih belum menunjukkan adanya perubahan. Sikap Isel juga masih kekanakan, dan Dean tetap dingin kepada istrinya.
Suara berisik di dapur terdengar, Dean berjalan keluar kamar melihat banyak bahan makanan yang berantakan, dari ruang tamu sampai dapur berhamburan.
"Innalilahi wa innailaihi raji'un, apa yang terjadi dengan rumah ini?" Dean bergegas ke dapur melihat Isel sedang sibuk memasak.
"Aduh duh duh duh, sakit." Isel mengusap tangannya yang tekena percikan minyak.
"Apa yang kamu lakukan Sel?"
"Selamat pagi Uncle, sudah selesai olahraganya? Isel pagi-pagi sudah berbelanja, lalu lanjut masak. Satu minggu ini Isel masuk kelas belajar memasak." Senyuman Isel terlihat tanpa dosa meletakkan masakannya di atas meja.
Kepala Dean geleng-geleng, tidak tahu harus bahagia, atau berduka melihat istrinya yang belajar memaksa, tapi seisi rumah berantakan.
Melihat rumah berantakan membuat selera makan Dean juga hilang, meskipun hanya makan roti jika rumah bersih, hati juga tenang.
"Kamu masak di dapur, lalu kenapa berantakannya sampai ke ruang tamu? siapa yang akan merapikan kekacauan ini?"
"Uncle Dean, namanya juga suami istri harus berbagi tugas. Jika istri masak, suami yang membersihkan." Isel mencium bau masakannya yang wangi.
Helaan napas Dean terdengar, berjalan ke ruang tamu memunguti banyaknya cemilan. Di susun rapi, begitupun bekas Isel memasak yang belum ada tanda-tanda selesai.
Keringat mengalir dari kening Dean, mengepel lantai setelah menyapu. Mencuci piring yang kotor semua.
"Uncle tolong Isel, ini bagaimana memakainya?"
"Sel kamu sudah selesai masak, kenapa baru sekarang ingin memakai celemek?"
"Isel tanya cara memakainya?"
Dean tarik nafas dan dihembuskan dengan kasar, mengajari Isel cara memakai celemek agar saat masak tidak kotor.
Senyuman manis Isel terlihat, mengecup pipi Dean mengucapkan terima kasih karena sudah membantunya.
"Jika aku tahu akan membersihkan rumah sampai keringat, buat apa lagi aku olahraga?" Dean ingin sekali menendang sapu, tapi tidak ingin Isel mengomel.
Makanan di atas meja sudah terhidang dengan sangat cantik, suara Isel memanggil terdengar menujukkan kepada Dean masakan yang dia buat.
"Berapa lama kamu masak ini?"
"Empat jam, satu jam memotong buah, satu jam menggoreng ayam, satu jam membuat sayur, dan satu jam ... Isel rasa lupa masak nasi." Isel mengecek nasi yang masih berbentuk air.
__ADS_1
Dean tepuk jidat, dia bisa mati kelaparan karena menunggu Isel masak. Senyuman Dean tetap terlihat meskipun kepalanya hampir pecah menahan emosi.
Kamera ponsel Dean merekam kelucuan Isel yang meyiapkan makan hanya lauk saja sehingga mereka gagal sarapan.
"Uncle, kita gagal makan." Bibir Isel manyun menatap sedih.
"Lain kali pastikan nasinya sudah dimasak, baru lakukan hal lain, jangan kecewa hampir semua orang pernah melakukannya." Dean menghibur Isel yang nampak kecewa.
"Ada nasi kemarin, Uncle ingin makan berdua tidak?"
Kepala Dean mengangguk, melihat Isel membawa nasi yang hanya sedikit. Tidak ingin mengecewakan membiarkan Isel melakukan apapun yang dia suka.
Dean mencoba masakan pertama Isel yang berhamburan, tapi rasanya sungguh luar biasa. Dean merasa sedang memakan masakan Shin yang bekerja sebagai koki berpengalaman.
"Bagaimana rasanya Uncle?"
"Enak Sel, Uncle menyukainya." Dean tersenyum karena wanita pengacau dan pembuat masalah bisa masak juga.
Isel menyuapi Dean dengan makan satu piring berdua, menghabiskan sisa nasi yang hanya sedikit.
Suara bel pintu terdengar, Dean berjalan ke arah pintu melihat tamu yang tidak diharapkan kedatangannya muncul.
"Ada apa?" Dean malas membukakan pintu melihat wajah Brayen.
Pintu terbuka, Brayen masuk membawakan pesanan Isel yang ingin dibelikan bahan membuat kue.
Wajah Dean memucat karena pasti satu ruangan berubah menjadi warna putih ulah Isel yang bermain tepung.
"Sel, ini hari libur ...."
"Dikarenakan ini hari libur Isel akan mencoba membuat kue." Isel mengunyah makanannya dengan lahap.
"Sel, boleh ikut makan?"
"Boleh saja, tapi kita tidak punya nasi." Tangan Isel menujuk ke arah tempat nasi agar segera masak.
Senyuman Brayen terlihat, dia masih setia menunggu nasi matang karena aroma masakan Isel sungguh menebus hidungnya.
Kerutan di kening Dean berlipat-lipat, panik jika apartemen ternyaman yang dia miliki berubah menjadi apartemen tepung.
"Uncle duduk, selesaikan dulu makannya." Isel menyuapi Dean untuk menghabiskan nasi.
"Rasanya enak sekali." Brayen menelan ludah.
__ADS_1
"Kamu juga mau, buka mulut." Isel menyuapi Brayen yang langsung memberikan dua jempolnya.
Pukulan tangan Dean di atas meja mengejutkan Isel dan Brayen, tatapan Dean tajam membuat Brayen tidak bisa menelan makanannya.
"Keluarkan, jika tidak kamu aku pukul sampai muntah darah!" Dean memukul kepala Bian menggunakan sendok karena kurang ajar meminta disuap istri orang.
Mulut Brayen mengunyah cepat, sayang jika mengeluarkan kembali makanan yang sangat enak.
"Keluarkan tidak?"
"Sudah habis Kak." Mulut Brayen terbuka menujukkan mulutnya yang kosong.
"Isel! aku juga masih lapar, kenapa memberi makan orang?" Dean meneriaki Isel yang masih bengong.
"Kenapa Uncle berlebihan sekali?" Isel menyuapi Dean, tapi langsung ditolak karena tidak ingin makan bekas Brayen.
Senyuman Isel terlihat, menghabiskan sisa nasi karena suaminya sudah ngambek padahal sudah tua.
Isel menatap bahan untuk membuat kue, tarik napas panjang untuk segera mengeksekusi seluruh bahan agar menjadi kue yang enak.
"Stop Isel, biar Uncle yang membuatnya dan kamu membantu." Dean tidak siap melihat dapur hancur kembali.
"Kenapa kalian memanggil Uncle?" Brayen merasa aneh karena setiap mendengar kedua bicara seakan keponakan dan Paman, bukan suami istri.
Kepala Isel menoleh ke arah Dean, tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Brayen yang sebenarnya menjadi keanehan hubungan mereka.
"Kenapa kamu ikut campur urusan rumah tangga orang? jika kami memanggil Uncle apa itu harus dijelaskan? panggilan sayang tidak harus disebut sayang." Dean menjelaskan jika dirinya dan Isel sudah terbiasa dengan panggilan ternyaman.
Usia Dean jauh lebih tua dari Isel, sejak awal kenal Isel memanggil Uncle sehingga sulit untuk mengubahnya.
"Apa panggilan Uncle merugikan kamu?"
"Tidak Kak, tapi hanya aneh saja. Kalian berdua seperti orang yang tidak saling mencintai," ujar Brayen jujur karena merasa Dean sangat canggung.
"Isel sangat mencintai Uncle, jauh lebih besar dari rasa sayang Uncle. Jika bukan Uncle yang menjadi pasangan Isel, maka tidak ada lelaki lain. Selain Uncle tampan, dia juga kaya. Isel selalu mencintai pria kaya." Tawa Isel terdengar memaksakan celemek kepada Dean.
"Kenapa kamu tidak memilih Bian?" tanya Brayen.
Suara panci terdengar di atas kepala Brayen, Dean menjambak rambut meminta Brayen lenyap dari pandangannya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1