SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BANTUAN


__ADS_3

Di rumah sakit Bian sudah menunggu lebih dari dua puluh empat jam, Isel yang sudah pulang ke rumah balik lagi bersama Dean karena ingin melihat kondisi wanita yang gila selama puluhan tahun.


"Bagaimana Bian, apa dokter sudah keluar?"


Kepala Bian menggeleng, dirinya tidak mengerti apa yang sedang terjadi di dalam sana. Hanya melihat dokter keluar masuk, tanpa mengatakan sepatah katapun.


Tangan Dean mengusap punggung, Dean memahami kesedihan Bian yang terus menatap pintu penuh harapan.


"Kenapa kalian ke sini? ada bayi yang harus dijaga."


"Di rumah ada banyak pengawas, tidak ada yang perlu dicemaskan."


Tarikan napas Isel panjang, duduk di samping Bian yang masih memegang foto kusam milik Mamanya.


"Bian, maaf jika aku harus mengatakan ini, jangan terlalu berharap lebih." Isel tidak yakin jika Bian bisa bersama Mamanya.


Kepala tertunduk, meremas kuat foto karena Isel tidak menjamin jika ada harapan untuk hidup.


"Sebentar saja, setidaknya aku ingin minta maaf." Air mata menetes jatuh di tangan.


"Tidak ada yang tidak mungkin, pasti bisa." Dean mencoba menyemangati, meksipun dirinya tahu semangat darinya tidak nyata.


Dokter keluar dari ruangan setelah operasi berjam-jam, Bian dan Dean berdiri, hanya Isel yang masih duduk santai.


"Bagaimana Dok?" tanya Bian penuh harap.


"Tumor yang menyerang tubuh tergolong tumor ganas, mungkin dokter Isel sudah tahu karena sejak awal sudah diperingatkan. Tumor ganas berubah menjadi kangker, dan penyakit ini tidak bisa disembuhkan, tapi hanya bisa dikendalikan." Dokter menjelaskan kondisi pasien yang sudah menanggung sakit cukup lama sehingga menggerogoti tubuhnya.


Dokter memberikan kabar baik jika operasi berjalan lancar, tapi tidak memulihkan. Kangker sudah menyebar, operasi hanya berhasil memperlambat kematian.


Kepala Isel menggeleng, sudah diperingatkan jika tidak mudah melawan penyakit yang didasari dari ketidakberdayaan.


"Kapan kita bisa bertemu pasien?"


"Setelah dipindahkan ke ruangan rawat." Dokter pamitan setelah menjelaskan kepada keluarga.


Senyuman Bian terlihat, meksipun tidak lama dirinya memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan Mamanya.


"Bian, kamu baik-baik saja?" tanya Dean yang merasa khawatir.


"Kalian pulang saja, aku sangat baik. Isel, terimakasih atas bantuannya." Senyuman Bian terlihat mengikuti perawat yang membawa Mamanya.

__ADS_1


Isel menatap punggung Bian, melihat wajah suaminya yang tidak tenang. Meksipun Bian pernah menyakiti rumah tangga, setidaknya dia sudah berusaha mengubah diri.


"Bagaimana cara membuat Bian paham?" Dean khawatir pemuda yang dulunya jahat menjadi binatang lagi.


"Tidak ada yang bisa menemaninya, pasti sakit sekali menahan air mata." Isel menatap suaminya yang sedang berpikir keras.


"Katanya Umi Mak comblang, mana buktinya Bian masih gila?"


"Isel sudah resign waktu lahiran kemarin, cuman berhasil satu soalnya yang dua ini susah." Wajah Isel cemberut karena satu temannya punya trauma KDRT, dan yang satunya terlalu jauh pikirannya dari menikah.


Lama Isel berpikir, tidak ada pilihan baginya selain meminta bantuan Weni. Tidak mungkin Isel yang menemani karena Dean tumbuh tanduk ditambah lagi ancaman tiga krucil yang membantu abinya.


"Ayo Abi kita pergi ke rumah Weni," ajak Isel.


Dean mengikuti istrinya yang pasti memiliki rencana untuk menangani Bian, Dean juga penasaran di mana rumah Weni yang menjadi tempat Isel kabur.


"Jauh tidak rumahnya?"


"Ada di pusat kota, biasanya tengah malam baru ramai," jawab Isel yang ingin segera sampai.


"Aneh, rumah apa yang ramainya malam hari, jika malam hari sepi baru aku percaya."


"Kuburan yang sepi jika malam Abi, bukan rumah." Tawa Isel terdengar melihat ekpresi suaminya yang nampak mengerutkan kening.


"Rumah Weni pasti besar sekali ...." Dean tercengang melihat seorang pengusaha keluar bersama wanita seksi.


Baju para wanita yang lewat juga sudah diluar nalar, bajunya terbuka, kekurangan bahan bahkan banyak tato di tubuhnya.


"Tempat apa ini Sel?"


"Tempat main Bi, ayo kita masuk." Isel menarik tangan suaminya untuk berjalan masuk.


Suara musik berdentum kuat, Isel yang mendengarnya langsung joget-joget. Kepala Dean langsung berdenyut sakit karena baru tahu soal bar terbesar yang tidak pernah dikunjungi kepolisian.


"Astaghfirullah Al azim, kenapa bisa ada tempat seramai ini?" Dean tidak bisa melangkah lagi, kehabisan kata-kata melihat istrinya yang sudah joget-joget.


Kening Isel dipukul, Dean memintanya istighfar karena ada tiga bayi yang sedang menunggu Umi Abi pulang.


"Kita pergi dari sini, pusing kepalaku."


"Nanti Bi, masih ada yang harus kita lakukan. Nanggung." Isel menarik tangan suaminya untuk naik lift ke lantai atas.

__ADS_1


Kepala Dean geleng-geleng bisa melihat ratusan orang berjoget, di lantai dua juga terlihat banyaknya pria hidung belang yang sedang bermain game ditemani oleh para wanita.


Di lantai ketiga perkumpulan orang yang sedang pesta, terlihat sekali jika uang yang dihabiskan menilai fantastis.


"Sudah gila, ternyata tempat ini memang semewah itu," gumam Dean tidak bisa tenang.


Di lantai kelima berisikan kamar yang menjadi tempat menginap, sedangkan Weni berada di lantai teratas hanya duduk tenang memantau CCTV.


Kedatangan Isel sudah diketahui, Weni tidak habis pikir alasan Isel membawa Bian yang memegang teguh hukum masuk ke rumahnya.


"Ke mana kita sayang?"


"Rumah Weni, dulu ini hanya lantai satu tidak menyangka bisa ada lima lantai dengan kemewahannya. Sebelumnya lebih ramai dari ini, tapi kemunculan Bian mengurangi pengunjung."


"Aku tidak ingin tahu, bagaimana caranya agar kita cepat pergi dari sini?" Dean mengikuti Isel yang melangkah keluar lift, menekan kode sandi untuk masuk rumah.


Kedatangan Isel sudah disambut oleh Weni yang duduk di kursi kebesarannya sambil memegang gelas berisikan minuman.


"Kenapa kamu datang bersama Dean?"


"Aku butuh bantuan kamu, ada sesuatu yang harus kamu lakukan," pinta Isel.


Tatapan Weni tajam, dirinya baru saja damai dari Bian yang sudah lebih dua bulan tidak muncul. Weni merasa hidupnya tenang tanpa kekacauan.


"Bian menemukan Ibunya, dan kondisinya sekarat."


"Lalu, apa masalahnya denganku? Bian yang sekarat atau siapa?"


Isel menjelaskan soal pasien di rumah sakit jiwa, tidak menyangka menemukan Bian. Saat ini Bian membutuhkan support dari seseorang agar tidak terluka jika ibunya menutup mata.


"Jangan bercanda Sel, kamu tahu apa yang dia lakukan di tempat ini?"


"Aku tidak ingin tahu, saat ini aku butuh kamu." Isel memaksa Weni untuk membantunya sebagai teman.


Kedua tangan Weni meremas rambutnya, berguling di atas sofa karena takut bertemu Bian.


"Apa yang kamu takut dari Bian?" tanya Dean.


"Yakin ingin tahu, kamu pasti menyesal. Dia sudah gila, aku bisa semakin gila." Bibir Weni cemberut memohon agar Isel pergi.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2