
Masih merasa kesal kepada Dean, Isel meminta diantar ke rumah sakit karena ada pasien. Tidak ingin debat, akhirnya Dean mengikuti keinginan Isel .
Dean langsung kembali ke rumah karena Yandi mengabarinya harus segera kembali karena adaa hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan kasus Bian.
"Kenapa terburu-buru sekali Uncle?"
"Beberapa korban harus dikembalikan kepada kelurganya. Kamu juga masih harus menetap di sini. Meskipun kita tidak tahu kapan Bian muncul, namun dia harus tetap diselidiki sampai tuntas, begitupun dengan Alika dan Ren." Yandi menjelaskan kondisi yang sedang mereka atasi.
Kepala Dean mengangguk paham, dirinya tidak bisa banyak komentar apalagi menunda. Kasus Bian memang belum selesai selama dia belum tertangkap.
"Kak Dean, Hairin mengucapkan terima kasih karena bantuan Kak Dean akhirnya bisa kembali," ujar Irin sopan.
"Ya, kamu jadikan ini pelajaran, perbaiki diri kamu agar bisa menjadi aparat yang bertanggung jawab.
"Dean, kamu hati-hati di sini, jaga baik-baik Isel, perbanyak sabar. Jangan sekali-kali kamu mengecewakan dia sebelum kamu menyesal." Nasihat Helen terdengar meminta Dean mengubah cara berpikirnya.
Kepala Dean mengangguk mengucapkan terima kasih, dia akan berusahan menjaga Isel, dan membuatnya meninggalkan kebiasaan buruknya.
Meskipun Dean tidak tahu pola pikir apa yang harus dirinya ubah karena pikirannya terlalu pendek atau terlalu panjang.
"Aunty meninggalkan makanan untuk Isel, jangan izinkan dia diet lagi karena sudah kurus dan cantik." Senyuman Helen terlihat mengusap kepala Dean yang hanya angguk-angguk.
"Sudah dilarang Aunty, apalagi badannya sudah mirip lidi, terlalu kurus." Dean mengantar keluarga Yandi sampai parkiran.
Tangan Dean terangkat melihat mobil melaju pergi, langsung kembali ke atas untuk membereskan kekacauan yang Isel perbuat.
"Apa yang salah dari pola pikir aku?" Dean masih bertanya-tanya letak salah dirinya.
Melihat kamar berhamburan membuat Dean semakin pusing, hanya bisa elus dada karena keadaan tidak baik sama sekali ditambah barangnya berantakan semua.
"Sabar Dean anggap saja ini ujian menuju pribadi yang lebih baik." Dean mengeringkan baju yang Isel cuci, tapi tidak dijemur.
Tubuh Dean terjauh di atas tempat tidur karena sagat lelah, dia membutuhkan tidur setelah berbulan-bulan tidak tidur nyenyak ulah Bian.
Layar ponsel Dean bersinar, tidak membangunkan Dean sama sekali membuat hati Isel yang kesal semakin marah.
__ADS_1
"Kenapa tidak dijawab, apa dia sedang bersama Hairin?" Isel ttahu jika Dean mengambil libur maka dia tidak mungkin bekerja.
"Masih jam sembilan malam, tidak mungkin masih tidur," batin Isel dengan pikirannya yang berkecamuk.
Terpaksa Isl kembali menggunakan angkutan umum karena terlalu lama jika menunggu jemputan.
Sampai di apartemen, Isel langsung naik ke atas membuka pintu melihat rumah sudah rapi dan tertata rapi, makanan lezat juga tersusun rapi dia atas meja belum tersentuh.
"Ternyata Uncle seharian beres rumah, ini pasti ulah Isel yang menghancurkan rumah." Senyuman Isel terlihat langsung masuk kamar.
Senyuman Isel lenyap saat melihat Dean yang sedang tidur bergumam, terdengar jelas di telinga Isel jika Dean tidak mungkin bisa mencintainya.
"Apa Uncle tidak bisa mencintai aku, kenapa rasanya sakit sekali?" Isel mendekati Dean mengusap wajah suaminya.
Perasaan bahagia memiliki Deaan hanya Isel yang merasakan, tapi Dean tidak bahagia dan merasa menderita di dalam pernikahannya.
"Siapa wanita yang ada di hati Uncle? Di dalam mimpi saja mengatakan tidak mungkin jatuh cinta lagi." Air mata Isel menetes karena tidak siap kehilangan Dean.
Mata Dean terbuka langsung bangun merasakan keberadaaan Isel, tapi wanita yang ia harapkan ada di sisinya tidak terlihat.
Dean menghubungi Isel, tapi panggilan mati, helaan napas Dean terdengar memikirkan ucapan Helen soal dirinya yang harus mengubah pola pikir jika tidak suatu hari akan menyesal.
Mata Isel menatap ponselnya yang sudah mati, tidak siap bertemu Dean sementara waktu.
"Di mana kamu Wen?"
"Di mna lagi jika bukan party." Weni merasakan kesedihan dari suara Isel yang serak.
Tatapan Vio dan Weni saling pandang melihat Isel pertama kalinya mengambil minuman keras.
"Sel, apa yang kamu lakukan? Ini tidak benar." Vio mengambil minuman yang Isel teguk.
"Perempuan gila, jika suami kamu tahu pasti marah besar." Weni meminta semua minuman disingkirkan, mereka memng suka bermain di tempat hiburan malam, tapi Isel tidak pernah mabuk.
"Aku tidak ingin sadar malam ini, hati aku sakit melihat dia memimpikan wanita lain." Tangan Isel meremas botol sampai pecah.
__ADS_1
Tangan Vio mengusap pelan meminta Isel tidak terlalu mengambil hati, Vio lebih yakin jika Dean mencintai Isel, jika tidak cinta tidak mungkin dia menikahi dan rela tidur satu kamar.
"Pak Dean hanya tidak bisa mengekpresikan perasaan, sedangkan kamu terlalu mudah salah paham." Vio memukul tangan Isel yang mengambil minuman lagi.
"Dia mengatakan tidak akan pernah mencintai dan tidak bisa jatuh cinta lagi, dia mencintai wania lain." Tangisan Isel terdengar.
"Jangan bodoh Sel, dia tidak mengatakan aku tidak mungkin mencintai Isel, aku hanya mencintai si dia. Jika dia mengatakan itu baru boleh kamu percaya, dia tidak menyebut nama." Suara Vio meninggi karena Isel hanya peduli dengan potongan ucapan yang dia dengar, pada akhirnya akan menimbulkan salah paham.
Kepala Weni mengangguk, dia tidak mengenal Dean dengan baik, tapi melihat wajahnya dia pria yang tidak mudah dekat sembarangan orang.
"Kamu salah Vio, jangan berlaga mengajari aku padahal kisah cinta kamu gagal terus." Isel mendorong kepala Vio untuk menjauh.
"Aku lebih kasihan kepada Dean, kenapa dia harus bertemu wanita seperti kamu. Sel, jika kamu mencintai dia usahakan untuk paham dan bertanya langsung kepadanya bukan menyimpulkan sendiri." Pukulan kuat menghantam meja karena Isel tidak pernah mendengarkan nasihat siapapun.
Suara musik berdentum kuat, mata Isel terpejam tidak bisa membuka matanya lagi. Weni sudah berjoget bersama teman lelakinya. Hanya Vio yang masih tersadar karena dia ingin fokus mengejar Ren.
seorang wanita memberikan minuman kepada Isel, menatap seorang pria yang tersenyum manis tidak bisa berhenti menatap Isel.
"Minuman apa itu Sel, jangan asal minum." Vio menatap gelas kosong karena Isel menghabiskannya.
"Aku ke toilet dulu Vio, badan aku panas." Isel langsung berdiri begitupun pria yang berada di meja depan mereka.
Melihat sekitarnya Vio juga berdiri, dirinya binggung harus mengikuti Isel, atau mengawasi Weni yang juga mulai tidak sadar.
"Brayen kamu masih di Bar, pergi ke alamat ini sekarang, hubungi Dean jika Isel mabuk mungkin ada orang yang mengerjai dia." Vio tidak bisa mengawasi dua orang sekaligus karena berbahaya.
"Tidak mungkin Isel minum, dia selalu bisa menjaga diri." Brayen langsung bergegas menyusul Vio setelah mendapatkan panggilan.
Tangan Isel ditahan oleh Vio agar tidak pergi karena tidak mungin melepaskannya, begitupun dengan Weni yang dikerumuni banyak lelaki.
"Sialan kalian berdua, masa iya aku bertarung sendiri?" Vio memeluk dua temanya menatap puluhan lelaki agar menjauhi mereka.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1