SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
CURHATAN


__ADS_3

Usia kandungan Isel masuk bulan ke lima, Dokter memastikan bayi dalam keadaan sehat.


Apalagi Isel sangat aktif tidak pernah mengeluh apapun yang dirasakannya. Hatinya selalu bahagia karena dikelilingi oleh orang-orang yang dicintainya.


Panggilan dari Brayen masuk, Isel tersenyum lebar langsung menjawab merasa senang mendapatkan panggilan dari teman lelakinya.


"Ada apa Bray, bagaimana kabar kamu dan Laura?" Isel tertawa kecil karena dia baru dapat kabar jika Brayen dan Laura menikah di luar negeri.


"Kita baru saja kembali, apa kamu ingin makan bersama?" Brayen ingin mentraktir makan Isel pertama kalinya.


Kepala Isel mengangguk langsung mengiyakan, sebelum pergi Isel menghubungi Dean terlebih dahulu karena ingin makan bersama teman-temannya.


Dean tidak pernah membatasi Isel, selama bisa menjaga diri dan berhati-hati. Dean tidak ingin istrinya stres apalagi sedang sensitif saat hamil.


"Nenda, Isel pergi dulu ya." Isel memeluk Mommy Anggun.


"Hati-hati sayang, lihat perut besar kamu."


Jempol Isel terangkat, Isel pasti akan berhati-hati karena keselamatan buah hatinya menjadi prioritas pertama.


Rencana Isel bertemu di cafe yang cukup jauh dari rumah, tapi menjadi tempat makan favoritnya bersama teman-temannya.


"Hamil lima bulan ternyata cepat lelah," ucap Isel yang mengusap pinggangnya karena tidak sanggup menyetir.


Mobil Isel berhenti sesaat menghubungi Brayen untuk menjemputnya karena pinggang sakit, kepala Isel juga sempoyongan.


Tidak ingin membahayakan anaknya, Isel memilih menyusahkan Brayen yang jaraknya tidak terlalu jauh.


"Sabar ya sayang, bulan depan Abi sama Bunda cek ke dokter untuk mengetahui jenis kelamin kamu." Isel mengusap perutnya karena selalu keram jika mengemudi.


Mobil mewah berhenti di depan mobil Isel, seorang pemuda tampan dengan baju rapi keluar.


"Sel, ada masalah apa?" Brayen mengetuk kaca mobil.


Isel tersenyum keluar dari mobil menatap Brayen yang sudah berubah sejak pertemuan terakhir, menjadi menantu kaya raya membuatnya berubah mewah.


Wajah Brayen kaget melihat perut Isel membuncit besar, kepalanya menggeleng karena masih tidak percaya.

__ADS_1


"Sekarang kamu beda, menikah dengan Laura membuat hidup kamu lebih ...."


"Kenapa hamil lagi, bukannya dokter memperingati jika berbahaya?" nada tinggi Brayen naik karena dia saksi kecelakaan Isel juga kondisinya yang memprihatinkan.


Tawa Isel tertawa memukul pundak Brayen untuk bersikap santai saja karena dirinya sangat sehat apalagi ada dukungan suami dan keluarga.


Sikap Brayen terlalu berlebihan, apa yang dia takuti tidak akan terjadi karena Isel akan menjaga anaknya bahkan memiliki dokter pribadi yang akan menangani.


"Kamu lupa apa yang dokter katakan jika belum boleh hamil, setidaknya tiga tahun." Pintu mobil tertutup langsung melaju pergi menuju Cafe.


"Dokter memastikan aku baik-baik saja," ujar Isel yang tetap santai.


"Dean mengurus kamu tidak becus, sejak awal menikah dia tidak tulus menjaga kamu. Jika Dean tidak melakukan larangan hamil, pasti kamu terluka. Sekarang apa yang dia lakukan membuat kamu hamil hanya itu membayar rasa bersalahnya?" kepala Brayen menggeleng karena Isel terlalu bodoh soal cinta.


Sejak kecelakaan Isel, Brayen tidak nyaman bersama Dean. Dia tidak sepenuhnya bisa menjaga Isel, sikapnya baik hanya karena ada hubungan keluarga.


"Jangan bicara seperti itu soal Dean, anak ini jawaban dari doa kami. Tidak ada yang menginginkan kecelakaan itu, namanya juga musibah." Isel tersulit emosi jika sudah melibatkan suaminya.


Bagi Isel suaminya yang terbaik, tidak akan ada yang mengenali Dean melebihi dirinya. Kecemasan Dean jauh lebih besar, tapi rasa cintanya kepada anak juga sama besarnya.


"Kamu akan merasakan cinta kepada anak setelah Laura hamil." Isel meyakinkan Brayen jika dia pasti akan menangis jika istrinya hamil.


"Di mana Laura?"


"Mungkin masih di jalan, kita beda jalur karena aku memang dari luar karena ada urusan." Brayen duduk di depan Isel memperhatikannya yang sedang hamil besar.


"Tumben, Laura anak yang sangat tepat waktu jika soal makan." Isel menangkup pipinya dengan dua tangan karena bosan.


"Sudah berapa bulan Sel?"


Isel hanya menjawab menggunakan jarinya, tidak punya banyak jawaban karena sedang malas. Isel membutuhkan Laura, Weni yang bisa membuat meja makan heboh.


"Sel, apa kamu tahu jika Laura dan Maminya memiliki hubungan yang tidak baik?" kepala Brayen tertunduk.


"Tidak tahu, kita memang berteman namun menutupi hubungan keluarga." Setahu Isel Laura hanya bertengkar soal perjodohan, tapi bertemu dengan Brayen yang menjadi pilihannya membuat Laura bahagia.


Bantuan Daddy Dimas soal perjodohan juga berjalan lancar hingga pernikahan bisa dipercepat.

__ADS_1


"Ada apa, rumah tangga kalian ada masalah?"


Kedua tangan Brayen meremas rambutnya, dirinya binggung harus melakukan apa. Kehidupan Laura dan Brayen bagai langit dan bumi, apalagi Maminya Laura yang ikut campur dalam rumah tangga.


"Aku tidak punya kuasa untuk sekedar mengutarakan pendapat, Mami selalu mengatur kita bahkan soal pekerjaan juga diatur." Hati Brayen sudah lelah menikah selama tujuh bulan, tapi rasanya sungguh melelahkan.


Pernikahan keduanya tidak sehat sama sekali, bahkan tidak ada yang namanya bahagia. Setiap hari hanya ada keributan.


Isel menelan ludah, jika dirinya tahu Brayen hanya ingin curhat lebih baik membawa Lea. Sejak hamil Lea sangat pintar debat bahkan ceramah.


"Awal pernikahan memang begitu Brayen, tidak selalu bahagia. Aku dan Dean juga berawal dari tidak baik, tapi kita berusaha memperbaiki." Isel meminta Brayen bicara dengan Laura untuk mendapatkan solusi.


Sudah menjadi resiko karena Brayen menikahi Putri tunggal, dia harapan keluarganya dan yang pasti menjadi tempat Mami Papinya mengadu.


"Kamu tidak paham Sel, aku menderita," ucap Brayen yang ingin menyerah.


"Iyalah aku tidak tahu, itu rumah tangga kamu. Lagian jangan mudah menyerah, kamu lelaki yang harus ada didepan." Isel paham jika perbedaan kasta menjadi penyebab tidak nyamannya hubungan rumah tangga.


Pelayan mengetuk pintu, membawakan makanan yang langsung menggugah selera makan Isel.


Hati Isel sangat bahagia karena ada makanan enak yang datang menghampirinya, makanan yang membuat perutnya bergerak.


"Aku lapar." Isel meletakkan makanan di piring.


"Awas panas, pelan-pelan saja." Brayen membantu Isel mengusap udangnya membersihkan mulut Isel.


"Jangan sentuh aku, urus saja mulut kamu sendiri." Isel memukul tangan Brayen agar tidak menganggu nya makan.


Sampai makanan Isel hampir habis, Laura belum juga muncul. Meminta Brayen menghubungi istrinya, tapi diam saja menikmati makanannya.


"Apa Laura tidak datang karena masih marah sama kamu?" Isel menatap Brayen yang cuek saja.


Melihat sikap Brayen, Isel sangat yakin masalahnya bukan soal restu saja, pasti ada hal lain yang mengusik piikiranya.


Brayen tidak pernah mudah tersinggung, sedangkan Laura sangat menghargai. Pasti ada masalah lain antara keduanya.


"Kalian yang bermasalah, kenapa aku yang harus pusing?" gumam Isel kesal.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2