SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
TWINS


__ADS_3

Dokter mempersilahkan Dean menemui ketiga anaknya setelah Isel dipastikan dalam keadaan baik.


"Jenis kelaminnya apa Dok?" tanya Dean menatap tiga bayi yang tersusun tiga sudah dibersihkan dan bedong bayi dari kepala dan sampai kaki kecuali bayi ketiga.


"Anak pertama perempuan, anak kedua perempuan lagi dan anak ketiga laki-laki. Perempuan mirip kamu dan lelakinya mirip Isel." Dokter kagum sekali melihat tiga bayi yang sudah tenang.


Senyuman Dean terlihat, mengusap wajah kedua putrinya yang memiliki kulit putih, dan satu putranya yang terlihat sangat mengemaskan.


"Aku harus bagaimana?" tangisan Dean terdengar karena binggung cara menggendongnya.


Dokter tertunduk melihat Dean yang masih belum percaya jika dia menjadi ayah tiga anak sekaligus.


Perlahan Dokter membantu Dean menggedong Putri pertamanya mengadzani dengan suara yang sangat lembut, berharap Putrinya menjadi wanita tangguh, taat, bijaksana, dan dermawan.


Putri kedua juga Dean doakan menjadi wanita yang lemah lembut, penyayang, Sholeha, baik hati dan karakternya, menjadi wanita yang menghormati dan menghargai sesama.


"Putra Abi, semoga kamu menjadi lelaki yang memiliki tingkat kesabaran tinggi karena Abi tahu kesabaran kita akan di uji karena kehadiran tiga wanita rusuh." Tawa kecil Dean terdengar mengusap pipi Putranya yang sangat lembut dan halus.


Dokter menyarankan ketiga bayi dipindahkan ke ruangan khusus bayi, Dean bisa menemuinya dibantu oleh perawat.


"Tunggu Dok, aku boleh memasangkan tiga gelang ini?" tanya Dean.


"Boleh, ini pasti gelang dari Ura." Dokter membantu Dean memasangkan gelang secara perlahan kepada tiga bayi yang siap dipindahkan.


Selesai melihat anaknya, Dean mengenggam tangan Isel yang masih beristirahat, dia kehilangan banyak darah karena melahirkan secara normal.


Tidak ingin keluarga khawatir karena mereka belum sampai, hanya mengirimkan pesan jika gagal pergi karena pekerjaan Dean belum selesai.


"Maaf Mom, Kak Di, tidak ingin kalian cemas lebih baik nanti saja mengabari, kondisi Isel juga dan bayinya baik-baik saja." Dean menutup ponselnya yang sudah ada foto ketiga anaknya.


Ketukan pintu terdengar, Dean langsung menoleh dan terkejut karena kemunculan Ian yang tidak ada pemberitahuan untuk datang.


"Bagaimana kondisi Isel Kak?" Dean melihat catatan medis.


Senyuman Ian terlihat mengecup kening adiknya yang masih beristiahat karena kehabisan tenaga.


"Bagaimana kamu bisa tahu kamu di rumah sakit?"


"Kami satu rahim, sejak kemarin aku gelisah. Subuh tadi merasakan sesak kepikiran Isel makanya langsung ke sini." Ian mengusap kepala Adiknya penuh kasih sayang.


Dean memeluk Ian dari belakang, paham jika Ian ingin menangis karena terlambat datang melihat Adiknya berjuang.

__ADS_1


"Maaf ya Sel, seharusnya tadi malam langsung pulang." Ian menutup matanya menggunakan tangan.


"Dokter mengatakan Isel baik-baik saja."


Kepala Ian mengangguk bersyukurnya Isel ditangani orang-orang berpegalaman sehingga tidak panik, apalagi bayi yang dilahirkan kembar tiga.


Kepala Ian berkeliling mencari bayi, tanpa Dean beritahu Ian langsung pamit untuk menjenguk ketiga keponakannya.


"Uncle, apa jenis kelaminnya?"


"Kamu tebak?"


Tanpa menjawab Ian langsung pergi, dia tidak suka banyak basa-basi langsung berjalan ke arah ruangan bayi menjenguk tiga bayi kembar.


Senyuman Ian terlihat, mengusap wajah bayi yang sangat cantik dan menggemaskan, tapi Ian langsung cemas melihat bayi di sebelahnya berkulit hitam.


"Ian, anak siapa yang kamu sentuh?" tegur Dean.


"Astaghfirullah Al azim, bukan anak Isel?" Ian langsung melihat ke arah nama yang tertulis Gisel.


Kepala Dean geleng-geleng, membuka satu ruangan yang sudah ada tiga bayi diawasi ketat oleh dua perawat.


"Siapa namanya Uncle?"


"Cowok-cowok dan satu cewek," tebak Ian yang membuat bayi dalam boks menangis.


"Cewek cewek cowok Ian, sampai menangis karena Uncle salah panggil." Dean tersenyum melihat Ian menggedong keponakannya yang sangat tampan.


Selesai menjenguk bayi dalam keadaan sehat, Ian dan Dean kembali ke ruangan Isel menatap Isel yang sudah bangun, tapi masih terlihat lemas.


"Abi dari mana?"


"Lihat twins sayang," jawab Dean mengecup kening istrinya lembut.


Panggilan dari Diana masuk, Dean langsung menjawabnya terdengar suara berisik pesta pernikahan sedang berlangsung.


"Kenapa tidak jadi pergi?"


"Nanti menyusul Kak, bagaimana kondisi di sana?"


"Sudah selesai ijab kabul, sekarang sedang pesta, di mana Isel? Yakin kalian berdua baik-baik saja? Perasaan Kak Di dari tadi gelisah merasa seperti Isel terus memanggil." Diana memberitahukan jika Ghion berjalan pulang setelah ijab kabul, menyusul karena perasaanya tidak enak.

__ADS_1


Senyuman Dean terlihat berjalan ke arah ruangan bayi, mengubah panggilan menjadi video.


"Kak Di, Dean punya sesuatu?" Dean mengarahkan ke arah boks bayi, memperlihatkan ada tiga bayi yang sedang tidur.


Teriakkan Diana histeris saat melihat ada tiga bayi, ponsel Diana sampai jatuh membuat Gemal cemas merangkul istrinya.


"Sayang, ada apa?" Gemal mengambil ponsel melihat Dean yang tersenyum menujukkan ketiga anaknya.


Gemal tidak bisa berkata-kata lagi, tangisan Diana terdengar meminta pulang kepada suaminya saat tahu Putrinya melahirkan.


"Bagaimana kondisi Isel?" Gemal mencoba mengontrol dirinya.


Dean berlari meninggalkan ruangan bayi, tidak ingin Diana jatuh pingsan karena tahu Isel melahirkan.


"Papa," panggil Isel yang langsung menangis.


Gemal juga meneteskan air mata, menutup matanya karena ada banyak orang di sekitar mereka karena tamu undangan sedang padat.


"Sudah jangan menangis, Papa sama Mama pulang. Bagaimana kondisi Isel?"


"Isel baik-baik saja Pa, tidak perlu terburu-buru. Jangan lupa bungkus daging, kue juga, soalnya Isel tidak jadi makannya." Tangisan Isel semakin kencang karena gagal pesta.


Senyuman Gemal terlihat, mengucapkan syukur karena Isel dan anaknya baik. Gemal sangat mencemaskan Isel karena takut kejadian Mama Di terulang kembali.


Diana masih menangis, tidak bisa kontrol diri saat tidak bisa mendampingi Putri semata wayangnya. Diana masih mengingat jelas saat Isel lahir tanpa suara.


Tidak ada detak jantung dinyatakan tidak selamat, tapi bayi kecil sudah menjadi ibu dari tiga anak sekaligus.


Ian mengambil ponsel meminta Mamanya tarik napas pelan, menahan tangisannya karena Ian sudah menemani Isel.


"Ma, Isel hebat seperti Mama. Hati-hati pulangnya, jangan terburu-buru. Selamat jadi nenek," ejek Ian membuat Diana melirik sinis mengusap air matanya mencoba tenang agar bisa pamit pulang tanpa mengacaukan pesta.


Panggilan mati, Dean mengenggam tangan istrinya, tidak menyangka respon Kakaknya begitu luar biasa.


Diana terkenal Dokter paling tenang dalam situasi apapun, tapi saat tahu Putrinya sedang berjuang mati-matian tanpa bisa mendampingi begitu terkejut hampir pingsan.


"Selamat jadi ibu Sel, sekarang kamu berhasil menjadi ibu termuda." Ian meminta Isel makan, Dean juga karena sejak subuh tidak menelan apapun.


"Kak, bawa bayiku ke sini," pinta Isel.


Kepala Ian mengangguk, meminta bantuan suster memindahkan bayi ke kamar rawat.

__ADS_1


***


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2