SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
PUTRAKU


__ADS_3

Pintu kamar Delvin terbuka, Isel melangkah masuk melihat Putranya yang masih tidur. Isel melihat ada banyak hal tumpukan kertas, sedangkan mainan tidak tersentuh sedikipun.


"Sayang, kamu baru tidur. Apa yang kamu lakukan semalaman?'' Isel mengusap kepala Delvin lembut.


Mata Delvin terbuka sebelah, memutuskan lanjut tidur karena merasakan kantuk yang luar biasa.


Pelukan Isel lembut kepada anak bungsunya yang sangat mandiri, suka mengalah kepada kedua Kakaknya.


"Umi," panggilan Delvin pelan.


"Alhamdulillah Kakak Gala mulai bisa bicara lancar, jangan jadi pemalas. Umi tahu kamu sudah belajar bicara, tapi tidak ingin mengeluarkan suara karena dua kakak yang berisik." Isel mengeratkan pelukannya meminta Delvin bangun karena mereka ingin pergi jalan-jalan.


kepala Delvin menggeleng, tidak suka jika Umi-nya membicarakan soal jalan-jalan. Tujuan jalan yang Isel rencanakan di luar bayangannya.


"Anak satu ini bukannya bangun, tapi lanjut tidur lagi. Jangan terlalu tertutup Delvin, lihat Abi yang hangat membuat kita bahagia jadi lelaki jangan kaku,'' tegur Isel mengajak Delvin bicara, tapi tidak digubris.


Suara Isel seperti lagu pengantar tidur, sampai akhirnya Isel pasrah melihat tingkah putranya.


Isel hanya mencemaskan Delvin yang sangat pendiam, takutnya dia iri hati kepada kedua kakaknya yang mendapat perhatian lebih.


"Delvin, kamu dengar Umi tidak?" Mata Isel terpejam berusaha membangunkan, tapi putranya memilih lanjut tidur lagi.


Dikarenakan tidak berhasil membangunkan, akhirnya Isel ikutan tidur, keduanya terlelap membatalkan rencana yang Isel buat.


"Sel, kamu bilang ingin ke rumah sakit bertemu teman-teman kamu, ngapain di sini lanjut tidur?" Mama Di menggendong Delvin yang sudah bagun.


"Iya, ini juga ingi pergi, masih menunggu Delvin bangun." Isel melangkah turun menyiapkan air hangat untuk mandi.


Tangisan Delvin terdengar saat mandi, memeluk Isel yang memintanya berendam. Pukulan Mama Di kuat karena Isel tidak menyentuh air yang sangat dingin.


"Mana air hangatnya?"


"Astaga salah ember, makanya tidak diam," ucap Isel tersenyum kecil melihat Delvin menggigil, meminta maaf karena lalai.


"Punya ibu model kamu ini bisa trauma anak, jika tidak ada Dean dan baby sister tidak bisa Mama bayangkan."


"Ara Ira juga Isel yang memandikan Ma, tugas Dean memandikan Delvin." Isel tersenyum meminta maaf karena Delvin tidak suka air dingin berbeda dengan Ira Ara yang mandi air dingin setiap hari.


Tangisan DDelvin terdengar kembali, saat melihat Umi-nya memakaikan baju bagus. Delvin tidak suka dibawa pergi ke luar rumah.


"Ikut Umi hari ini, kita bertemu Aunty-aunty yang sedang menjenguk dede bayi." Isel tidak ingin membawa dua putrinya pasti heboh berbeda dengan Delvin yang sangat tenang.


Kepala Mama Di geleng-geleng, ada saja tingkah laku Isel yang suka menganggu putranya.

__ADS_1


Selesai siap, Isel Membawa Delvin untuk keluar rumah meninggalkan kedua putrinya yang sudah teriak-teriak ingin ikut.


"Umi ...." Tangisan pecah saat mobil melaju pergi.


Tatapan mata Delvin tajam, melihat sekitarnya yang terasa asing. Isel sengaja membawanya agar beradaptasi dengan lingkungan.


"Are you okey Boy?"


"Aku rasa tidak Okey?" Isel menjawab sendiri karena melihat ekpresi anaknya yang tegang.


Pertama kalinya bagi Isel membawa putranya karena biasanya Delvin menangis kencang jika dibawa pergi.


Ekpresi Delvin merengek, menangis melihat kondisi jalanan, Isel hanya tertawa mengusap kepala putranya agar tenang.


"Tidak ada apapun, ini menyenangkan sayang, kamu harus sesekali bersenang-senang. Kapan Umi bisa melihat kamu tersenyum, apalagi tertawa?" Isel gemes melihat bayi tampan yang sangat lucu.


Sampai di rumah sakit Isel menatap wajah anaknya yang berada dalam gedongan. Mata Delvin terbelalak besar saat banyak orang yang lewat.


"Lucunya bayi ini." Beberapa orang ingin menyentuh Delvin.


Teriakkan Delvin kuat menolak untuk disentuh oleh siapapun, tidak ingin ada orang yang mendekatinya.


"Sel, kita di sini?" tangan Laura melambai.


"Kalian ingin mengurusnya yang super aktif?"


Kepala Weni dan Laura menggeleng, bisa keguguran jika mengurus Ira Ara yang super nakal.


"Boleh digendong tidak Sel?"


"Boleh jika dia mau, anak saat ini takut bersosialisasi." Isel menyerahkan Delvin kepada Laura.


Tangisan Delvin terdengar tidak ingin digendong Laura, terpaksa Isel mengambilnya dari pada membuat gaduh.


"Ayo masuk kita dari tadi menunggu kamu." Weni melangkah lebih dulu menjenguk Vio yang lahiran.


Keluarga Dika menyambut Delvin, hanya Bunda Devan yang bisa menggendong Delvin karena dia tahu tangan hangat.


"Bagaimana kondisi kamu Vio?" tanya Isel.


"Alhamdulilah sekarang baik, tapi dua hari yang lalu tidak," balasnya.


"Dua hari sudah berlalu,paling penting sekarang baik." Weni memberikan selamat setelah melewati proses operasi hingga pendarahan Vio berhasil menjadi seorag ibu.

__ADS_1


"Cowok atau cewek?" Laura menatap bayi yang ada dalam boks.


"Girls, tapi rasanya seperti boy, cara menyusu kuat sekali sampai aku hampir menangis." Vio menatap Weni yang juga sedang hamil harus banyak menenangkan diri agar tidak stres.


Isel menggendong bayi yang sedang tidur, wajahnya cantik dan mengemaskan seperti Mommynya.


Terlihat sekali kebahagian di dalam keluarga Vio, Isel ikut senang karena satu-persatu sahabatnya merasa kebahagian.


Bukan hanya Isel yang sudah menjadi seorang ibu, tapi ketiga sahabatnya juga merasakan.


"Sudah berapa bulan Wen?" Isel melihat Weni tidak menggunakan high heels lagi sudah pasti diancam suaminya.


"Empat bulan, mungkin akhir atau awal tahun," jelas Weni menyentuh perutnya.


"Di mana high heels tinggi kamu?" tanya Vio sambil tersenyum.


"Dipatahkan oleh Bian, memang tidak punya otak lelaki satu itu, bisa-bisanya barang mahal di rusak semua. Tidak mungkin juga aku membawa anaknya lompat jauh apalagi lompat tebing." Tawa Weni terdengar diikuti yang lainnya.


"Ayo Laura cepetan, kita masih menunggu kamu." Isel menyemangati sahabatnya.


"Laura sedang hamil Sel, terlihat sekali sekitar enam minggu kurang lebih." Bunda menatap perut Laura yang masih rata.


"Masa si Bunda, kenapa Isel tidak tahu?" Tangan Isel menyentuh perut Laura yang memang sedikit buncit.


"Bagaimana Bunda bisa tahu, padahal aku masih ingin merahasiakannya." Laura tersenyum memberikan jempol kepada dokter kandungan yang sudah bekerja puluhan tahun.


"Bunda sudah jadi dokter saat kelahiran Dean, Aira dan Juan, kalian semua jauh dari kata lahir." Bunda meminta Laura menjaga kandungan apalagi masih hamil muda.


Isel geleng-geleng kagum, tidak menyangka jika janji persahabatan bisa sampai akhir bahkan memiliki anak juga menjadi keinginan bersama.


Tangan Weni menepuk pundak Isel menunjukkan ekpresi Delvin yang duduk dengan tenang menatap televisi yang menampilkan film kartun.


"Lucunya, dia tampan seperti Abi-nya," puji Vio mengejutkan Isel dan Devan.


Mata keduanya tajam Korean tahu Vio pernah mengangumi Dean pada masanya meskipun Isel pemenangnya.


"Dia mirip aku, jangan asal bicara," ujar Isel kesal.


"Enak sekali itu mulut memuji lelaki lain, ingat sudah punya anak." Devan memicingkan matanya meskipun hanya bercanda.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2