
Masih larut malam, Black dan Aira bisa berjalan dengan tenang karena jalanan sepi dan tidak ada yang mengejar mereka.
Sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi, Black langsung menarik tubuh Aira ke sampingnya sambil memeluk pinggang Aira.
Mobil yang hampir menyerempet Aira langsung berhenti, seseorang keluar dari mobil menatap keduanya dengan tatapan sinis.
"Siapa Ai?"
"Aku rasa dia Kakaknya Lea? bukan soal kakaknya yang bahaya, tapi dia terobsesi kepadaku." Ai menatap wajah Blackat yang terlihat sangat tenang.
"Jangan khawatir, kita tetap jalan saja." Tangan Black masih melingkar di pinggang Aira.
Keduanya berjalan dengan sangat santai, melewati pria yang sudah berdiri menghadang jalan.
"Andriana, aku merindukan kamu." Suara serak terdengar, Ai menatap wajah Blackat yang tersenyum sinis.
Saat melewati Black bisa mencium bau minuman, pertanda sedang dalam kendali minuman keras. Tangan Blackat menarik Aira untuk bersembunyi.
Pria yang menghadang kebingungan langsung masuk ke dalam mobilnya langsung melaju pergi. Black menghubungi pihak keamanan karena ada seseorang yang melaju pergi dalam keadaan mabuk.
Plat mobil dipotret, langsung dikirimkan agar polisi menahan di lampu merah karena terlalu berbahaya bagi pengemudi lain.
"Kamu tahu dari mana jika dia ingin mencelakai kita?"
"Aku tidak tahu, hanya saja terlihat dari kaca bangunan pinggir jalan. Kemungkinan dia juga tidak menyadari jika yang dia temukan Aira yang asli." Black sangat yakin jika pria yang menyukai Aira mengkonsumi obat.
Bekerja sebagai aktor Black banyak mendapatkan tawaran obat berbahaya, namun belum pernah mencobanya. Meksipun selalu kelelahan karena pekerjaan sebagai aktris tidak ingat waktu, tidak peduli malam, siang, subuh, tengah malam, sekalipun panas terik.
"Kamu memiliki banyak pengalaman dalam dunia peran, tapi jangan pernah melangkah ke jalan yang salah. Aktor hebat banyak, tapi yang tebaik kamu." Aira tertawa langsung berjalan masuk ke apartemennya diikuti oleh Blackat.
Keduanya terlihat akur, berbeda seperti awal bertemu yang mirip kucing dan tikus. Ai yang tidak menyukai sikap sombong Blackat, tapi ada sisi baiknya juga.
"Ai, keluarga kamu tidak pernah datang ke sini?"
"Untuk apa? kamu tahu jika pria tadi ...."
__ADS_1
"Ya, aku sudah mengingat wajahnya. Nanti aku akan menyelidikinya." Black meminta Aira tidak terlalu memikirkan pria yang mereka duga Kakaknya Lea.
Senyuman Aira terlihat, meminta Blackat berhati-hati saat pulang. Tidak berhenti di tempat sepi.
"Ai, jika ada tamu jangan dibuka tengah malam. Tidurlah, besok kita ada pemotretan." Blackat menarik pintu menutupinya pelan.
Kening Aira berkerut, merasa ada yang tidak beres. Perasaan Aira juga tidak enak mencemaskan Blackat yang pulang setelah larut malam.
"Mungkin ini hanya perasaan aku saja, tidak mungkin dia tidak berhati-hati." Aira melangkah ke kamarnya melihat Lea yang masih terlelap tidur.
Aira juga memutuskan untuk tidur, merasakan tubuhnya remuk redam. Memeluk tubuh Lea karena sangat merindukan Anggrek yang sudah lama meninggalnya.
Di depan mobil Blackat dipukul menggunakan balok kayu, wajahnya dipukuli oleh kakaknya Lea yang membenci Black karena mendekati wanita yang dia cintai.
"Aku mengagumi dia hampir tujuh tahun, menyimpan perasaan dengan sangat dalam. Maka kami harus mati." Pukulan kembali mendarat ke perut, Black dipukul mengunakan botol minuman.
Mulut Black dipaksa terbuka, memasukkan obat terlarang ke dalam mulut, barulah memasukkan minuman.
"Aktor yang memiliki nama bersih itu tidak pernah ada, kamu sampai Angga." Tamparan kuat menghantam wajah.
"Kenapa dulu kamu membunuh Anggrek? apa salahnya dia?" Black menahan dirinya untuk tidak membalas meksipun tubuhnya babak belur.
"Jangan bermimpi untuk mendapatkannya, itu tidak akan pernah mungkin." Black tersenyum setelah pukulan kembali menghantam wajahnya.
"Ya, aku membunuh ibu kamu. Itu memang aku, tapi tidak semuanya salah aku!" Teriakan menggema terdengar, meminta orang suruhan untuk membuat Blackat kecelakaan seakan-akan dia mabuk berat, minum obat masih mengunakan kendaraan.
Suara tawa terdengar, rencana kematian dan kehancuran Blackat disusun dengan sangat baik.
"Kamu berencana membunuh Lea? bukan Anggrek. Ternyata kamu tidak tahu jika Anggrek dan Anggia kembar." Black berusaha untuk berdiri.
Dulu Blackat memang mementingkan karirnya karena membutuhkan uang untuk membayar pengadilan. Black kehilangan Ibu dan adiknya dalam keadaan tidak berdaya.
Black tidak akan melakukan hal yang sama, dia akan melindungi Lea sebagai keluarga satu-satunya yang Black miliki.
Tidak peduli jika dirinya harus kehilangan nyawa, Lea harus hidup dengan kebenaran. Bukan hidup dengan orang-orang jahat.
__ADS_1
Sebuah suntikan menancap tubuh Blackat, suara tawa terdengar menggema. Senyuman Blackat terlihat menatap bangunan tempat tinggal Aira.
"Ai, jika aku tidak selamat aku titip Lea, meskipun dia tidak sama dengan Anggrek, Lea membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya." Tubuh Blackat akhirnya ambruk.
Beberapa orang suruhan, memasukkan tubuhnya ke dalam mobil dan membiarkan mobil berjalan secara otomatis dengan kecepatan tinggi.
"Kenapa kalian terlalu mudah disingkirkan?" tawa terdengar meneguk minuman sambil berjalan ke arah mobil.
***
Pagi-pagi Lea terbangun mengambil ponselnya yang sangat berisik karena banyak panggilan wartawan.
Tangan Lea gemetaran, melihat kabar yang sudah trending karena kecelakaan Blackat. Polisi sudah memastikan jika Black mengkonsumi obat terlarang dan minum-minum keras.
"Aira bangun, ini apa? tidak mungkin Kak Black melakukan ini. Dia tidak pernah menyentuh benda haram." Lea menjatuhkan handphonenya melihat mobil Balck tabrak kambing dengan mobil mewah yang berlawanan arah.
Aira terbangun, mengambil ponselnya melihat beberapa pemberitaan yang sudah trending dalam beberapa jam. Kecelakaan yang mengenaskan menimpa aktor terkenal.
Aktor yang sangat dicintainya pengemarnya, tidak pernah terlihat skandal atau berita buruk. Blackat aktor yang sangat bersih, tapi akhirnya mengecewakan pengemarnya.
"Apa ini? dia masih bersama aku." Aira menatap Lea yang sudah menangis histeris.
Tangan Aira menyingkap selimut, langsung bersiap-siap untuk mengecek langsung kondisi Blackat yang mengalami kecelakaan.
"Bangun Lea, ini bukan waktunya untuk berduka. Kita harus menemukan Blackat terlebih dahulu." Ai menarik tangan Lea, tidak penting apapun yang media berita untuk memojokkan Blackat, paling penting keselamatannya.
"Bagaimana jika Kak Black tidak selamat?"
"Aku akan membunuhnya, aku yakin Black sudah tahu soal penyerangan ini. Black sialan! kamu takut hantu, tapi tidak takut mati!" Aira berteriak kuat, mengkhawatirkan kondisi Blackat yang pastinya tidak baik-baik saja.
Aira dan Lea berlarian, mencari mobil saja binggung karena sudah linglung. Konsentrasi keduanya buyar, mengkhawatirkan kecelakaan yang menimpa Black.
Lea menghubungi Gilang, memastikan keadaan Black. Gilang juga baru tahu beritanya, sedang mencari Black di rumah sakit sekitar tempat kecelakaan.
Ponsel Aira berbunyi, langsung cepat dijawab membuat air mata Aira menetes.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira