SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
MARKAS


__ADS_3

Perasaan Vio tidak enak, dia sejak awal tidak menyukai cara kerja Dean yang selalu serius. Dean tidak bisa bersantai sehingga ditakuti banyak orang.


"Kenapa tidak pernah mengatakan suami kamu Dean?"


"Memangnya kamu siapa sehingga aku harus laporan?" senyuman Isel terlihat karena dia tahu jika sahabatnya tidak ingin banyak bicara bersama Dean.


"Bagaimana kondisi Ren, kenapa kamu meninggalkan dia?" Dean menegur Vio jika dalam tim tidak boleh ada yang saling mengabaikan.


Meksipun tidak tahu kemampuan Ren, tetap saja dia orang pilihan terbaik dari atasan. Ada alasan mengapa dia berada di antara mereka.


Seseorang yang terlihat lemah, bukan berarti tidak berguna. Pasti akan ada kelebihan di saat yang tidak terduga.


"Apa aku juga bertugas mengurus dia, hidup aku sudah ribet ditambah lagi oleh tim yang tidak berpegalaman. Lawan kita bukan orang sembarangan Pak," ucap Vio yang merasa kesal karena Dean ingin dirinya menjaga Ren.


"Kenapa kepolisian menerima anggota seperti kamu?"


"Karena aku berpegalaman," balas Vio tidak takut kepada Dean.


Suara pintu kamar terbanting menyakiti telinga Vio, tatapan mata Vio juga langsung tajam karena Dean begitu emosian.


Senyuman Isel terlihat, mengingatkan Vio jika lawan yang kuat bukan karena dia memang hebat, tapi ada banyak orang yang mendukungnya, tapi beda dengan lawan yang kuat di luar dukungan orang lain maka dia wajib ditakuti.


"Aku tahu Sel, kita hanya membutuhkan petunjuk maka baru bisa masuk kawasan Bian." Vio mengunyah makanannya merasa mengantuk dan ingin menumpang tidur.


Panggilan dari Ren masuk, meminta Vio melihat pesan yang dia kirimkan jika mendapatkan informasi tempat tinggal Bian.


Tawa Isel langsung terdengar, menutup mulutnya karena Vio sudah marah-marah. Rumah Bian diketahui oleh hampir seluruh manusia, hanya Ren saja yang terlambat tahu.


"Dasar Ren bego, kesal sekali aku mendengarnya. Bagaimana aku tidak emosian Sel?"

__ADS_1


"Dia hanya orang baru yang mencoba mengenal dunia seluas ini. Kamu harus segera kembali karena dia membutuhkan kamu. Aku takut dia bisa tahu rumah Bian, tapi tidak tahu cara pulang." Isel menatap Vio yang tersentak kaget karena ucapan Isel menyadarkannya jika Ren bukan tahu alamat, namun ada di daerah kastil Bian.


Kepala Isel menoleh ke arah kamarnya, tidak mungkin Isel pergi mengikuti Vio yang sudah lari. Jika Isel pergi tanpa izin maka dia tidak menghormati suaminya, tapi izin juga tidak mungkin diizinkan.


"Brayen, pergilah ke daerah kastil Bian, bantu Vio dan rekannya di sana. Aku takut mereka tidak bisa lolos." Isel melakukan panggilan kepada Brayen melalui ponsel Isel yang lainnya.


Di dalam kamar, Dean masih fokus melihat ponsel Isel. Senyuman Dean terlihat karena ada alasan dirinya masuk ke wilayah Bian tanpa takut melakukan penyelidikan ilegal.


"Uncle Dean?" panggil Isel sambil berjalan ke arah kamar.


Dean hanya menjawab dengan deheman yang terdengar pelan, Isel melangkah mendekat melihat Dean akan segera datang ke kastil Bian.


"Tidurlah, apa polisi pembangkang itu sudah pergi?"


"Uncle, Ren menemukan markas Bian. Vio sudah berangkat lebih dulu jika mereka ketahuan maka keadaan akan kacau." Isel menujukkan hasil rekaman CCTV yang berhasil dia retas.


Dean mengambil tablet, melihat kawasan yang sepi. Dean megeluarkan senjata meminta Isel tidak keluar rumah karena di akan menyelesaikan masalah secepat mungkin.


"Aku rasa dia bukan anak cupu seperti yang Vio katakan, dia tidak takut sama sekali, dan nampak sudah biasa lalu lalang hingga datang ke lokasi." Kening Isel berkerut karena Ren tahu jika Isel meretas CCTV.


Suara tembakan terdengar memecahkan kamera CCTV yang terpasang di pinggir jalan.


Mata Ren sempat berpapasan dengan mata Isel.


"Lumayan juga ini anak, Vio bukan lawannya. Sudah aku duga jika dia memiliki keahlian ." Mata Isel mengantuk, lompat ke atas tempat tidur memilih mengawasi suaminya yang sedang dalam perjalanan.


Panggilan dari Vio masuk, dia baru tahu jika di markas ada sekitar tiga puluh wanita yang ditahan, kemungkinan besar orang-orang yang mereka cari ada di dalamnya.


Isel langsung bangkit dari tidurnya, percakapan Dean dan Vio teedegar jelas. Isel langsung bergegas keluar dari apartemen karena ingin membantu suaminya.

__ADS_1


"Kamu ingin pergi ke mana?" tanya Bian yang sudah berdiri di depan pintu apartemen.


Seseorang yang menepuk Isel secara tiba-tiba menyuntikan sesuatu membuat Isel terkulai lemas. Dia memang masih sadar namun tubuhnya tidak bisa digerakkan.


"Maafkan aku sayang, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan kamu. Kita bisa hidup bersama untuk selamanya." Bian menggedong Isel membawanya pergi dari Dean yang sudah menemukan markas.


Sudah menjadi hukum alam, jika berhasil mendapatkan sesuatu maka sudah siap kehilangan hal lain. Bian melepaskan semua tahanannya, tapi akan membawa Isel bersamanya.


Mata Isel terpejam, tapi dia bisa merasakan di mana dirinya berada. Mobil melaju kencang meninggalkan Apartemen.


Bekali-kali Bian mengusap wajah Isel yang sangat cantik, Bian tersenyum manis karena bisa mendapatkan wanita yang dicintainya.


"Tuan, ada tim kepolisian juga yang datang ke markas. Mereka sudah memiliki alasan untuk menangkap kita." Bawahan Bian memberikan peringatan karena mereka harus punya tempat persembunyian.


Kepala Bian mengangguk, dia tidak membutuhkan apapun lagi. Memiliki Isel sudah menjadi tujuan terakhirnya.


Kemampuan Dean dan tim sungguh Bian akui, tapi dia tahu hal ini akan terjadi karena dahulu Alina pernah mengatakan kejayaan akan ada masa berakhirnya.


"Tuan, ini semua terjadi karena Hairin, dia orang yang menyebabkan Dean menyelidiki kita beberapa tahun lalu, dan ada kabar jika Hairin ditahan." Bodyguard Bian menujukkan pemberitaan soal Hairin yang sudah ditahan dengan hukuman berlipat.


"Dia bukan Hairin, namanya Alika. Dia mengambil posisi Hairin karena ingin terbebas dari penderitanya." Bian tertawa kuat karena dia tahu tujuan Hairin yang tidak diketahui banyak orang.


Isel yang mendengar terkejut, secaara tidak langsung Bian mengatakan jika Hairin ada dua satunya Hairin dan yang satunya Alika. Alasan Alika mengambil posisi Hairin pasti ada alasannya.


"Jika Alika di sana, kemungkinan besar Hairin di sini. Masalahnya dia masih hidup atau mati, atau jangan-jangan orang yang Dean cari Hairin yang asli," batin Isel di dalam hatinya karena keadaan semakin seru dan menegangkan.


Tidak pernah Isel duga, pantas saja ada perubahan dari Hairin. Anak yang dulunya baik dan terdidik namun secara tiba-tiba berubah tidak bisa diatur.


"Aku ingin melihat wajah Hairin yang asli, dia pasti masih hidup karena Bian tidak mengatakan kematiannya," batin Isel di dalam hati.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2