
Kabar kehamilan Isel membuat heboh seluruh orang, kecemasan soal Isel yang sempat keguguran sudah cukup menyedihkan.
Tidak menyangka doa dan harapan dikabulkan dengan cepat, berharap Isel dan bayinya tumbuh sehat.
Tawa Juan terlihat menatap adik sekaligus sahabatnya yang masih menangis menatap foto kecil hanya memperlihatkan warna hitam.
"Kenapa masih menangis?"
"Dean masih belum percaya jika akan segera menjadi ayah, harapan kita sempat hancur." Kedua tangan Dean mengusap air matanya karena merasa bahagia.
"Jangan terlalu bahagia, kalian tidak lupa jika para pengacau selanjutnya sedang tumbuh." Juna dan Genta berdiri di balkon atas melihat dua monyet panen buah.
"Membesarkan tidak mudah, apalagi dengan keistimewaan." Gemal menatap putrinya bergelantungan di atas pohon.
"Juan berharap perempuan, tapi takut." Juan hanya bisa berdoa di dalam hati agar anaknya kalem seperti dirinya.
Tawa empat pria terdengar, di depan kamera Blackat sangat dihormati, tapi di rumah menjadi babu putrinya yang sangat nakal.
Aura yang belum genap dua tahun sangat aktif, selalu mengikuti Mimor yang berusia jauh di atasnya.
"Tidak masalah nakal, aku sudah mengurus dia wanita paling nakal." Dean menatap Kakaknya yang pasrah melihat putrinya memanjat pohon.
Ucapan Dean benar, sejak kecil Dean terbiasa dengan kenakalan Aira ditambah lagi si kecil beda enam tahun yang tidak kalah nakal.
"Dean, tolong hentikan Aura. Dia ingin naik pohon." Angga terduduk lemas karena tidak sanggup lagi.
Tawa Dean terdengar, menuruni tangga mendekati kakaknya yang sedang duduk di rerumputan.
"Ura, nanti jatuh Nak." Dean menggedong Ura yang sudah menempel di pohon.
"Ura mau naik!" suara marah terdengar.
Suara Mora lompat turun terdengar, membawa tumpukan rambutan. Adik-adiknya langsung berkumpul semua demi mendapatkan jatah buah yang dibawakan.
Mira juga terjun dengan santai, meletakkan buahnya. Baju Mira penuh semut membuat Ura terdiam.
"Apa itu?" Ura menujuk ke arah baju Mira.
"Semut besar, jika di gigit rasanya sakit. Ura tidak boleh naik pohon karena banyak semut." Dean menurunkan Ura yang berjalan ke arah Mira.
"Semut semut lucu, ayo gigit Ura." Senyuman Ura terlihat memberikan tangannya kepada semut.
__ADS_1
Suara tawa dari lantai atas terdengar, Ura sungguh luar biasa aktifnya dan tidak ada tempat takutnya bahkan sejak kecil sudah punya hewan peliharaan.
"Tidak terasa Mira Mora mulai besar, Hasan Husein juga sibuk dengan sekolahnya, Vino dan Ajun yang sedang aktif berkreasi. Andra Andri yang mulai sekolah, sedangkan Ura belajar mengenal banyak hal." Genta hampir saja lupa dengan nama anak-anak karena terus bertambah.
Juan membenarkan ucapan Genta, sampai hampir lupa anaknya Mira atau Mota. Hasan atau Husein, hanya Vino dan Ajun yang bisa dibedakan karena Vino pendiam, Ajun mirip cacing kepanasan tidak bisa diam.
"Juan bisa membedakan Andra Andri karena satunya aktif dan satunya emosian. Perasaan Juan tidak emosian, tapi kenapa Andra mudah sekali marah?"
"Kamu lupa jika dia anaknya Lea, lihat dua bumil jambak-jambakkan." Genta menatap Lea dan Aira yang berjalan ingin pergi ke rumah Isel saat tahu hamil.
Tawa semua terdengar Andra mirip Lea, Andri mirip Juan. Setidaknya Juan masih bisa tenang bukan anak nakal, hanya pendiam dan mudah marah.
"Kak, Angga perhatian wajah Hasan Husein juga mulai mirip, cara jalan dan senyuman juga." Angga menatap Hasan Husein yang baru pulang les piano.
"Iya juga, semakin besar bertambah mirip." Senyuman Juna terlihat kagum kepada putranya yang nampak akur.
Suara teriakan Tika dan Shin terdengar, berlari kencang saat tahu Isel juga hamil. Rumah akan semakin heboh dan rusuh.
"Bagaimana hasilnya?" Tika menatap Isel yang tersenyum lebar.
"Positif, ini yang Kak Ian bilang ingin memberikan kejutan." Isel memeluk Tika dan Shin yang ikut bahagia dengan kabar kehamilannya.
Tawa Shin terdengar merentangkan tangannya meminta Ai dan Lea mendekat untuk dipeluk.
Shin memberikan selamat kepada tiga bumil, mendoakan ketiganya agar sehat selalu. Baby juga tumbuh sehat.
"Berapa minggu Sel?" Tika mengusap perut.
"Dua belas," jawab Isel.
"Dean langsung tancap gas saja, peringatan dokter tidak didengarkan." Tika menghela napas panjang.
"Shin rasa Isel yang minta, Dean itu mirip Juna yang sangat dingin. Jika tidak kita yang mulai dia santai saja." Shin menutup mulutnya karena membongkar rumah tangganya.
Suara tawa terdengar mengejek Shin yang ternyata sudah pintar menggoda suami. Jika Isel dan Tika tidak heran lagi apa lagi Aira Ratunya enak-enakan sampai jarak anaknya berdekatan.
"Hati-hati kebobolan, persentasi kemungkinan hamil 0,00001 persen, tapi ditangan Tika dan Shin bisa kebobolan." Diana menuruni tangga karena Shin yang paling diantisipasi.
"Kak Di jangan menakuti, Shin sudah punya tiga," ucap Shin yang tidak ingin menambah karena menjaga ketiganya saja membuat rambutnya rontok.
Mommy Anggun meminta tugas bumil duduk, sudah masanya Shin dan Tika fokus membesar anak-anak dan fokus menikmati kebersamaan bersama suami, biarkan generasi Aira, Lea dan Isel yang melahirkan bibit unggul.
__ADS_1
"Seandainya ada Rindi di sini pasti heboh sekali, rasanya ingin berkumpul sehingga keadaan semakin ramai." Tika memeluk Maminya yang mengusap kepala.
"Kalian bahagia?" Mami Aliya menatap anak-anak yang menganggukkan kepala.
"Mi, Isel pemecah rekor menikah muda dan tahun depan punya baby." Isel berputar pelan pamer kepada Aliya.
"Benar juga, Mami menikah saat berusia dua puluh, punya baby usia dua puluh dua. Sekarang Ria sudah ... Altha kenapa aku semakin tua." Al meneriaki suaminya yang duduk di meja lain.
"Kamu tua lalu bagaimana aku apalagi Kak Dimas?" Alt yang ingin pulang tersenyum kecil.
"Kita hanya beda tiga dua tahu Altha, jangan membandingkan karena aku masih kuat. Harus melihat anaknya Isel, Ghion dan Ian." Dimas menimpali sahabatnya yang cekikikan tertawa.
Suara tangisan Ura menghentikan obrolan melihat si kecil menunjukkan tangannya digigit semut.
"Kenapa bisa digigit semut?" tanya Altha panik.
"Ura minta digigit, tapi digigit beneran."
"Salah sendiri, balas sana. Jika digigit maka gigit balik." Aira meminta Ura balik lagi.
"Baik Mimi, Ura gigit semut dulu."
Tatapan Altha tajam, Aira langsung tertawa memeluk Maminya karena Ura memang si kecil aneh yang selalu meminta diperhatikan.
Tidak kaget sama sekali melihat digigit semut, jangankan semut harimau juga dia dekati.
"Masih ingat Mira Mora membuat trauma kebun binatang, Ura beda dari sebelumnya dia penyayang hewan." Shin suka dengan karakter Ura yang tidak penakut.
"Kita harus ganti rugi besar gara-gara mereka berdua," ucap Tika yang stres saat Mimor masih kecil.
Suara tangisan Ura kembali terdengar, memukuli Miminya karena mulutnya perih karena memakan semut.
"Aira!" teriakkan Angga terdengar.
***
follow Ig Vhiaazaira
maaf lambat up, lagi mendekati akhir tahun ada banyak orang di rumah karena kumpul. Nulisnya tidak fokus karena banyak ngobrol.
baca QUEEN'S REVENGE up nya subuh karena jam tenang.
__ADS_1