
Imel tertunduk di dalam kamarnya, beberapa staf memilih mengundurkan diri dan membawa lari yang perusahaan.
Beberapa artis besar juga menuntut meminta hak mereka dikembalikan. Imel tidak tahu pasti soal perusahaan sebelumnya yang membuat beberapa artis menjadi pemeran film dewasa.
Bahkan remaja di bawah umur menjadi target mereka, tidak banyak yang bisa Imel perbuat. Dia harus menanggung kesalahan perusahaan sebelumnya.
"Ini semua pasti perbuatan Aira, belum sempat aku menyerang karirnya, tapi Ai sudah menjatuhkan perusahaan lebih dulu." Tangan Imel tergempal kuat ingin mencabik-cabik tubuh Aira dengan tangannya sendiri.
Imel pergi menuju rumah duka, hujan turun lebat disertai petir. Imel menggedor rumah yang langsung dibuka oleh Mami berharap suaminya pulang.
"Di mana Lea?"
"Papi,"
"Wanita tua lebih baik kamu ikutan mati saja, hidup juga tidak ada gunanya." Imel langsung masuk mencari keberadaan Lea.
Pintu kamar terbuka dengan kuat, Lea masih terjaga duduk di lantai bersandar di ranjang menatap Imel yang datang tiba-tiba.
"Artis sialan kamu membuat masalah, dia menghancurkan perusahaan YN." Tatapan Imel tajam, kedatangannya tanpa basa-basi meminta Lea mengantikan dirinya untuk bertanggung jawab.
"Lupakan saja sejenak soal perusahaan, kita sedang berduka sejak kepergian Papi seharusnya kamu mengerti,"
"Bukan urusan aku, Aira menyebabkan beberapa aktris diperiksa oleh kepolisian, dan saham perusahaan merugi besar. Lebih parah lagi kemungkinan perusahaan ditutup." Kemarahan Imel bersaing dengan derasnya air hujan.
Gorden kamar berterbangan ditiup angin, Imel menarik gorden sampai jatuh membuat Lea menutup matanya.
Tidak mengerti bersabar seperti apa lagi yang harus Lea lakukan, masalahnya sudah cukup banyak.
"Baguslah jika perusahaan itu hancur, memang sudah sepantasnya dihancurkan." Kepala Lea langsung menoleh ke samping karena tamparan kuat.
Tawa Lea terdengar, menatap Imel yang sedang dalam kebingungan. Tidak ada yang bisa Imel lakukan, jika Lea sampai mengeluarkan bukti korupsi maka perusahaan itu akan segera disita.
"Terima saja kekalahan Mel, kamu tidak bisa mempertahankannya lagi. Sejak awal sudah aku peringatkan jika perusahaan itu tidak menjanjikan. Kamu masih berharap menggunakan Selvia untuk menjatuhkan Blackat, jangan berharap. Selama aku hidup baik Ai maupun Black tidak akan rusak karirnya." Tawa Lea terdengar puas melihat Imel nampak emosi.
Meksipun Lea berharap Adiknya kembali bersamanya dan memulai lembaran baru. Dia tidak akan pernah mengikuti jalan yang yang sudah Imel pilihan.
"Aku ingin kamu sadar, jika tindakan kamu tidak benar. Sadarlah Mel sebelum terlambat ...." Lea menghela napasnya, Amel terlalu egois sehingga memaksa jika dirinya yang terbaik.
Dia tidak tahu siapa keluarga Aira, sudah bagus Ai peduli sampai membuang waktunya demi menembus rasa bersalahnya, tapi kepercayaan Aira diremehkan.
__ADS_1
Suara pintu tertutup terdengar, Lea langsung bangun dan melihat angin kencang menerpa pintu.
"Mami." Pintu kamar terbuka, Lea mencari keberadaan Maminya yang sudah tidak ada lagi di kamar.
Teriakan Lea terdengar, terus memanggil maminya. Angin hujan dan petir membuat suasana semakin tidak nyaman.
"Mungkin dia keluar karena mencari suaminya,"
"Kenapa tidak kamu hentikan? Mami sedang dalam keadaan terguncang, tega sekali kamu Imel!"
"Aku tidak peduli! bahkan aku memintanya untuk mati,"
Tangan Lea terangkat ingin menampar Imel, menatapnya penuh amarah. Wanita yang dia sakiti Ibu kandungannya sendiri, wanita yang mengandung dan melahirkan dengan mempertaruhkan nyawanya.
Tidak ingin debat, Lea langsung berlari ke keluar rumah. Terus memanggil ibunya, Lea kebingungan harus mencari Maminya di mana.
Terpaksa Lea menghubungi Blackat, memberitahu Maminya keluar rumah dalam keadaan hujan dan badai.
"Apa yang kamu lakukan di sini Lea?"
"Kak Juan, tolong Lea. Mami keluar dari rumah." Tangisan Lea tidak terdengar oleh derasnya hujan.
Baju Lea basah, Juan mengambil jaketnya memasangkan agar Lea tidak kedinginan. Handuk kering juga diberikan menutupi rambut.
Perasaan Juan mencemaskan Lea yang sendiri menjaga Mamanya ternyata tepat, keputusan untuk sekedar lewat menemukan Lea yang lari-larian di tengah hujan angin.
"Di mana Mami?"
"Sabar Lea, aku meminta bantuan dulu ... Aira juga tidak jauh dari sini bersama Dean dan Isel." Juan menghubungi Aira, memintanya mengirimkan pengawal yang biasanya mengawal Ai jika banyak fans.
Mobil melaju pelan, melihat sekitar jalanan berharap bertemu dengan Mami yang sedang tidak stabil karena kehilangan suaminya.
"Ke mana kita mencari Mami?"
"Meskipun sulit melihat karena hujan, kau yakin Mami tidak mungkin pergi jauh." Mobil Juan berhenti di persimpangan.
Tangan Lea memegang lengan Juan menatap satu tubuh tergeletak di pinggir jalan. Juan meminta Lea tetap di mobil.
Jalanan cukup sepi karena sudah larut malam dan hujan lebat disertai Guntur dan angin.
__ADS_1
Mata Juan terpejam melihat Mami Lea tergeletak penuh darah, Juan memegang pergelangan tangan langsung menggendong ke dalam mobil.
"Mami, ya Allah kenapa banyak darah?"
"Mami ditabrak lari, kita ke rumah sakit saja." Juan mengambil ponselnya mengirim pesan kepada Aira.
Tangisan Lea terdengar sesegukan, tubuhnya lemas melihat baju sudah penuh darah. Luka di kepala juga darahnya terus keluar.
***
Tubuh Aira terhentak lemas, Isel yang sedang melukis langsung menatapnya. Tengah malam masih saja ada kabar yang mengejutkan.
"Sudah ditemukan Kak? hubungi bodyguard jika pencarian selesai, ini sedang hujan badai kasihan." Isel kesal karena keluarga Lea hanya menyusahkan saja.
"Malangnya nasib kamu Lea, dan sekuat apa kamu sampai diberikan ujian bertubi-tubi." Tangan Ai memijit pelipisnya.
"Aira, Ghiselin kalian berdua belum tidur? di luar hujan badai jangan tidur takutnya ada bahaya." Dean mengetuk pintu, Isel berlari membuka pintu kamar menunjukan hasil lukisannya.
Dean langsung teriak kaget melihat lukisan hantu milik Isel, tawa Isel terdengar mengejek Dean yang sudah mengomel.
Ai mengambil jaket, memasang topi dan maskernya untuk keluar rumah menuju rumah sakit.
"Ke mana kamu? di luar hujan lebat." Tangan Dean menarik pergelangan tangan Aira.
"Ai harus ke rumah sakit, Mami Lea keluar dari rumah kemungkinan mengalami tabrak lari, sekarang dilarikan ke rumah sakit." Ai meminta Dean ikut, sedangkan Isel terserah dirinya.
Helaan napas Dean terdengar, belum satu hari kepergian Papinya, Lea sudah dihadapi kondisi Maminya yang sakit.
"Bagaimana kondisi Maminya kak?" Isel bergegas memakai jaket tebal.
Dean meminta Aira dan Isel menunggu di mobil, Dean ingin berganti baju terlebih dahulu.
"Maminya Lea meninggal di tempat, tapi dia belum tahu." Ai menundukkan kepalanya merasa betapa sakitnya di posisi Lea.
Langkah Dean terhenti, langsung bergegas keluar diikuti oleh Lea dan Isel. Tidak ada waktu untuk berlama-lama, setidaknya mereka harus memberikan dukungan.
"Kasihan Kak Lea menjadi yatim piatu dalam satu hari," ucap Isel sedih.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira