SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BERDUKA


__ADS_3

Suara ponsel Blackat berdering berkali-kali membangunkan Black yang sedang tidur. Black menggapai ponselnya langsung menjawab panggilan.


Pintu kamar Black juga terbuka, Gilang berlari masuk menatap Black yang sedang menerima panggilan.


"Black, Papi Lea meninggal dunia." Gilang mengatur napasnya yang menerima pesan sangat mengejutkan di tengah malam.


Ponsel langsung jatuh, Black mengusap wajahnya bangun dari atas tempat tidur. Menganti baju untuk bergegas ke rumah keluarga Lea.


Apartemen Dean dan Juna juga terbuka, bertemu dengan Blackat di lobi. Semuanya langsung pergi bersama.


"Dapat kabar dari siapa?"


"Aira kak, dia mendapatkan kabar dari Lea jika Papinya meninggal serangan jantung," jawab Dean sambil memejamkan matanya.


Baru selesai sidang, berpikir semuanya akan membaik namun salah besar. Kondisi tidak pulih dengan baik karena secara tiba-tiba Papi Lea mengalami serangan jantung.


Suara tangisan Lea tidak tertahankan lagi, Maminya sudah jatuh pingsan. Ai hanya berdiri menatap ke arah Lea yang sangat hancur.


"Papi, kenapa meninggalkan Lea?" tangisan memilukan masih terdengar.


Aira yang ingin melangkah pergi mengurungkan niatnya, berbalik badan ke arah Lea. tangan Ai mengusap punggungnya merangkul dengan kelembutan.


"Aira, Papi Ai." Lea memeluk Ai erat tidak ingin melepaskan sedikitpun.


Air mata Aira akhirnya menetes memeluk Lea memintanya untuk kuat setidaknya demi Maminya, Lea harus tangguh karena hanya dia harapan Maminya.


Ai mengerti kesedihan Lea, tapi semua makhluk di dunia pasti akan berpulang. Tidak ada yang mampu mengehentikan takdir.


"Ayo kuat Lea, aku tahu kamu bisa bertahan." Ai membantu Lea berdiri mencoba mengikhlaskan kepergian Papinya.


"Apa aku mampu Ai?"


"Mampu, kamu harus mampu karena ada Mami yang harus kamu tenangkan." Kedua tangan Ai menghapus air mata Lea terus menguatkannya.


Senyuman Lea terlihat berjalan ke arah Maminya yang baru saja bangun, memeluk lembut Maminya agar kuat dan menerima kepergian Papinya.


Sekuat mungkin Lea dan Maminya melihat ke arah jenazah, Aira juga ada di sisi Lea untuk setia mendampingi.


Kepergian Papi sungguh tidak terduga, mereka tersenyum lebar menyambut pulang ke rumah, tapi saat tengah malam kebahagiaan direnggut dengan kenyataan jika papi sudah berpulang.

__ADS_1


Setelah semua persiapan, Dean, Black, dan Juan juga turut membantu untuk pemakaman yang diadakan secara tertutup.


Di tempat pemakaman Lea sudah jauh lebih ikhlas dibandingkan Maminya, rasa kehilangan Mami sangat besar sehingga tidak berdaya lagi.


"Pi, kenapa keadaan menjadi seperti ini? ke mana Lea harus mengadu?" mata Lea sudah sembab, Maminya jatuh pingsan kembali.


Juan langsung menggendongnya untuk kembali ke mobil, hanya Lea yang masih memeluk makam Papinya.


"Dek, jangan terlalu berlarut dalam kesedihan. Kakak akan menjaga kamu dan Mami."Blackat memeluk Lea yang meremas bajunya erat.


Kepala Lea mengangguk, dia percaya dirinya mampu, meksipun sangat berat ditinggalkan sosok orang tua di tengah masalah besar.


"Mati juga lelaki tua ini, sudah aku peringatkan jika dia bebas maka mati." Tawa Imel terdengar di depan Lea yang sedang terpukul.


Beberapa orang meninggalkan pemakaman, hanya menyisakan Aira, Lea, Black dan Dean. Semuanya terkejut dengan ucapan Imel yang sangat menyakiti hati.


Ai berdiri menatap Imel, Lea juga berdiri dengan bercucuran air mata. Tidak disangka, begitu teganya Imel datang hanya untuk mentertawakan.


"Kenapa tatapan mata kalian marah?"


"Sebaiknya kamu pergi jika tidak ingin berduka." Dean menarik tangan Imel, namun ditepis kuat.


"Kak Black, terima kasih sudah membantu Imel." Tawa Imel terlihat mengulurkan tangannya kepada Black.


"Apa maksudnya kamu?"


Imel melangkah mendekati Black membisikkan sesuatu karena Black tidak memberitahu siapapun jika dirinya ada di persidangan.


"Kak ...."


"Ini hanya musibah yang pergi memang sudah waktunya, tidak ada sangkut pautnya dengan siapapun." Ai merangkul Lea, memintanya untuk tetap tenang.


Apapun yang Imel katakan tidak perlu Lea hiraukan karena dia hanya memancing amarah membuat suasana semakin berkabung.


Ai juga tahu keberadaan Imel, orang yang hampir menyerang Aira sebenarnya Imel. Black hanya menghindari agar tidak ada keributan, dan meminta Dean lebih berhati-hati karena keluarga Taher tidak mungkin tinggal diam.


"Kamu ingin mendoakan Papi?"


"Aku sudah mendoakan dia siang malam agar cepat mati,"

__ADS_1


Jantung Lea terasa berhenti berdetak, ucapan Adiknya sungguh membuat kesabaran diuji. Tidak ada lagi hati nurani sampai tega di depan makam yang belum kering melihat sikap Imel.


"Rasanya ingin aku sobek mulut kamu, haruskah aku bermain halus?" Ai menatap Imel yang langsung melangkah pergi.


Tangisan Lea terdengar, memukul dadanya karena merasakan sesak atas ucapan Adiknya.


Di mobil terdengar teriakan histeris Mami, Lea langsung berlari diikuti oleh Aira yang juga panik melihat beberapa orang memegang maminya.


"Mi, tenanglah. Ini Lea Mami, tenangkan hati dan pikiran Mami. Kita sedang diuji, dan harus banyak sabar." Pelukan Lea erat, mengusap punggung Maminya.


Mami melepaskan pelukan, tamparan kuat menghantam Aira. Mami Lea menyalahkan Ai yang membunuh suaminya, Aira yang memberikan minuman kepada suaminya sebelum mereka pulang.


Seseorang menunjukkan bukti jika Ai yang membunuh papinya Lea sampai serangan jantung.


"Kamu pembunuh! tidak pantas dicintai banyak orang. Lea haancurkan karir wanita ini,"


"Mi, tidak ada alasan bagi Aira menyakiti Papi. Dia tidak terlibat apapun, jangan menyalakan orang lain Mi dalam urusan kita." Lea mencoba menjelaskan apa yang terjadi.


"Tidak Lea, kamu salah menilai. Dia wanita pembunuh dan membuat keluarga kita hancur,"


Helaan napas Aira terdengar, melihat ke arah Imel yang tersenyum sinis. Ai juga tersenyum menyeringai bersumpah akan memberikan serangan balik.


Ai tidak takut kehilangan karirnya, siapapun yang merusak nama baiknya, maka Ai tidak akan tinggal diam.


"Pergi kamu! jangan dekati Lea lagi?"


"Baiklah Mi, jaga kesehatan dan jangan terlalu depresi. Lea aku akan menemui kamu nanti, tetap semangat." Ai tersenyum manis meminta Dean, Black dan Juan tetap membantu Lea.


Aira mengepal tangannya kuat, melakukan panggilan meminta Isel segera menunggunya di depan sekolah. Ai membutuhkan Isel untuk membantunya memberikan pelajaran kepada Imel.


"Binatang! kalian pikir aku diam karena takut, salah besar. Kalian terlalu lemah untuk aku lawan, kita lihat saja siapa yang lebih sakit." Ai masuk ke dalam mobil, memukul setir mobil kuat.


Imel wanita sialan yang memfitnah Aira, meksipun Ai memang memegang minuman, tapi diminta oleh Papinya Lea.


Jika polisi melakukan otopsi juga tidak mungkin diizinkan oleh pihak keluarga, Ai tidak bisa membuktikan jika dia tidak salah.


Apapun yang diucapkan oleh mulut, belum tentu kebenarannya dipercaya. Dan yang pastinya, Ai tidak suka debat dengan wanita paruh baya yang sedang berduka.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2