
Senyuman Bian terlihat, melangkah keluar dari tahanan langsung masuk ke dalam mobil dengan wajah bahagia.
Hatinya terasa damai karena bisa menghirup udara kebebasan, tujuan Bian hanya satu untuk menambah kebahagiaan bisa melihat Isel kembali.
Di depan apartemen, Bian menatap Isel yang keluar dari mobil bersama Dean, keduanya tertawa bahagia. Dean merangkul pinggang Isel berjalan masuk ke dalam apartemen.
"Sel, aku keluar karena ingin membahagiakan kamu, nanti kita tertawa bersama. Aku akan membuat kamu meninggalkan Dean." Senyuman Bian terlihat langsung keluar dari mobil memanggil Isel dengan suara keras.
Kepala Dean dan Isel menoleh, melihat Bian yang melangkah mendekat sambil tersenyum manis.
"Kamu dari mana Sel, aku membawakan kamu makanan, ini makanan terenak dan terbaik." Tanpa memikirkan perasaan Dean, tangan Bian terulur memberikan bungkusan paper bag.
Pelayan Bian juga membawakan lima paper bag berisikan tas dan baju juga barang mewah yang sengaja Bian beli khusus untuk wanita yang sangat dicintainya.
"Kamu gila, mendekati wanita sudah bersuami. Kamu pikir aku akan diam saja?" Dean mendorong pundak Bian sampai makanan jatuh.
"Aku tidak bicara dengan kamu, lebih baik kamu masuk dan biarkan kami bicara." Tatapan mata Bian tajam ke arah Dean yang sama tajam menatapnya.
"Pertama aku tidak menyukai barang branded, kedua aku tidak suka kamu. Maka tidak ada alasan aku menerimanya, suamiku sudah memberikan segalanya baik harta maupun cinta." Isel tidak merasa kekurangan apapun karena sejak lahir dirinya sudah menjadi bayi terkaya, maka barang mewah tidak penting baginya.
Kepala Bian menggeleng, tetap memaksa Isel untuk menerima karena apapun yang Isel inginkan pasti akan Bian berikan bahkan nyawanya sekalipun.
Emosi Dean langsung terpancing, Isel menarik tangan suaminya yang ingin memukul Bian.
"Tolong jangan ribut, berikan saja kepadaku. Lumayan bisa dijual lagi." Brayen yang menyaksikan langsung mengambil barang yang tendang oleh Dean.
Isel membawa Dean masuk karena tidak ingin ada keributan, kemunculan Bian memang disengaja untuk membuat keributan di dalam rumah tangga mereka.
"Bian!" teriakkan Dean kuat di dalam rumahnya.
"Sabar, dia sudah kumat karena bulan terang. Uncle Dean jangan terpancing, Isel hanya cinta Uncle." Kedua tangan Isel memeluk erat tidak mengizinkan Dean bergerak sama sekali.
"Hati aku sakit Isel, dia tidak punya otak. Bagaimana bisa dia menggoda istri orang?" Dean memalingkan wajahnya karena menahan amarah.
"Uncle mencintai Isel?"
__ADS_1
Kedua tangan Isel dilepaskan paksa, Dean meminta Isel mengulangi pertanyaan yang membuat telinga Dean semakin panas.
Tawa Isel terdengar, merasa lucu jika Dean sedang marah. Matanya yang tajam membuat Isel selalu tertunduk, tapi mata tajam juga yang membuat Isel tergila-gila.
Sejak kecil Isel sudah melihat mata kemarahan Dean, mata yang selalu mengancamnya sehingga menjadi daya tarik.
"Uncle cinta Isel, kenapa marah melihat Bian mencintai Isel?"
Tubuh Dean langsung terduduk di sofa, menarik napas panjang melihat Isel yang masih saja mempertanyakan perasaannya.
"Jika aku tidak cinta kenapa kita bercinta?"
"Lelaki bisa bercinta dengan wanita meksipun tanpa rasa," balas Isel serius.
"Benarkan, aku tidak bisa. Jangan samakan aku dengan lelaki yang bisa bergonta-ganti wanita tanpa rasa. Berhubungan dengan wanita manapun bisa, tapi tanggung jawabnya. Aku mencintai kamu layaknya wanita karena itu aku berani." Dean menatap wajah Isel yang mengerutkan keningnya.
Bibir Isel manyun, dia tidak tahu jika selama ini Dean memiliki rasa kepadanya. Sikap Dean tidak ada bedanya dari hubungan keponakan dan hubungan istri.
"Isel rasa perasaan Uncle masih sama," ujar Isel masih meragukan.
"Apa saat kamu menjadi keponakan aku pernah dicium dibibir?"
Kepala Dean menggeleng, dia tidak tertarik untuk melakukan apapun karena emosinya masih memuncak, sedangkan Isel tidak mempercayai perasaannya.
"Aku yakin dengan perasaan aku," ujar Dean yang menyakinkan dirinya sendiri karena tulus menganggap Isel istrinya.
Suara Isel memaksa terdengar sangat berisik, serasa rumah ingin hancur karena banyak barang berhamburan.
"Sayang, apa yang kamu hancurkan?" Dean berlari melihat gelas pecah.
"Isel tidak sengaja, nanti Isel ganti." Senyuman Isel terlihat mengaduk masakannya sambil mencium bau wangi.
Dean mengecek kaki Isel, lebih sayang kaki daripada gelas. Satu tangan Dean memeluk erat pinggang Isel melihat masakan yang wangi.
"Sel, kamu harus menjauhi Bian. Aku tidak suka dan tidak mengizinkan meksipun sekedar bicara." Kedua tangan Dean memeluk erat pinggang Isel.
__ADS_1
"Kenapa Uncle posesif sekali, bukannya Uncle tidak cinta Isel?"
Kedua tangan Dean melepaskan Isel, mengacak-acak rambutnya. Binggung cara membuktikan kepada Isel jika perasaannya tidak sama.
Ponsel Isel berbunyi, Dean langsung merampasnya menjawab panggilan tanpa melihat siapa yang menghubungi. Dean tidak terima jika Bian menghubungi istrinya.
"Ada apa, Isel sudah menikah dan punya suami. Apa kamu sudah begitu putus asa sehingga mengejar wanita bersuami." Kemarahan Dean terdengar jelas membuat Isel tertawa.
"Gila kamu Dean, jadi lelaki jangan cemburuan jaga image agar terlihat keren. Cinta tidak harus ditunjukkan, kenapa aku jijik sekali mendengar suara kamu?" Gemal menyerahkan ponselnya kepada istrinya karena suara Dean yang menggelikan.
Tawa Dean terdengar langsung meminta maaf karena dia tidak sempat melihat nama. Suasana hatinya sedang tidak baik karena ulah seseorang.
Diana tersenyum melakukan panggilan video melihat Dean yang duduk di samping Isel, terlihat sekali Isel nampak dewasa menyiapkan makanan.
"Mama mendengar kabar kalian bertengkar?"
"Iya kemarin. Isel selama lebih dari tiga minggu mendiamkan Dean tanpa sebab penyebab." Tatapan Dean tajam ke arah Isel yang mengecup Pipinya.
Diana menasihati Isel agar tidak menyembunyikan apapun. Di dalam rumah tangga sekecil apapun rahasia akan menjadi bumerang, meksipun terbuka akan menyebabkan pertengkaran jauh lebih baik dari pada akibat fatal dari menyembunyikan rahasia.
Sikap Isel sama dengan Diana, jika ada masalah dan beban pikir pasti mulai diam berpikir keras cara menyelesaikan sehingga memperburuk hubungan.
"Kamu punya Mama, punya Papa, saudara dan keluarga. Jika tidak mampu bercerita dengan Dean, bagi cerita dengan Mama. Jangan pendam sendirian apalagi mendiamkan suami kamu berlama-lama. Kamu paham maksudnya Mama?"
"Iya Ma, Isel akan segera memeriksa dan memberitahu Uncle sekaligus memberitahu Mama dan Papa. Nenda dan Kakek Daddy." Tawa Isel terdengar menatap suaminya yang makan dengan lahap padahal Isel yang masak.
"Kamu juga Dean, jangan terlalu cuek. Kita punya lima penggemar, sedangkan istri seratus penggemar. Jadi jangan santai-santai." Gemal memberikan peringatan agar Dean lebih tulus lagi kepada Isel dalam menjaga rumah tangga mereka.
Kepala Dean mengangguk, dia akan memastikan keluarganya akan baik-baik saja dan bahagia. Dean yakin dengan hatinya yang tulus menerima Isel sebagai istri yang harus dirinya jaga dan cintai.
"Uncle, jangan dihabiskan. Punya Isel," teriak Isel kuat.
"Iya maaf sayang," balas Dean mengusap wajah Isel.
Gemal dan Diana saling pandang, kaget mendengar jawaban Dean memanggil sayang berarti keduanya sudah berhubungan jauh. Gemal berpikir satu tahun tidak cukup bagi Isel bertahan, tapi ternyata Gemal salah pesona Isel menaklukkan Dean.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira