SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
MEMBELI HADIAH


__ADS_3

Wajah Juan langsung pucat mendengar panggilan dari Maminya soal Aira yang tidak lulus kuliah, bahkan dia membohongi dengan ijasah palsunya.


"Kenapa Juan?" mulut Dean masih penuh makanan menatap sahabatnya yang terlihat kaget.


"Habiskan dulu makanan kamu di mulut, aku tidak ingin sampai menyembur." Kepala Juan tertuduh mengatakan jika Aira mengakui tidak menyelesaikan kuliahnya.


Dean langsung terbatuk-batuk, mencari air minum. Mami Aliya pasti mengamuk karena pendidikan sangat penting tidak peduli seburuk apa karakter.


"Kak Black, Juan pulang dulu sebentar. Aira pasti diamuk habis-habisan, tidak ada yang menolongnya jika menyangkut pendidikan." Juan bergegas mengambil kunci mobilnya, diikuti oleh Dean yang juga mengetahui soal Aira yang dikeluarkan dari kampus saat semester akhir.


Black menatap dua anak muda yang berlarian, hubungan keluarga yang saling menjaga satu sama lain.


"Aira sepertinya sedang dalam masalah, dia terlalu banyak bohong." Black tersenyum kecil mengambil topi dan masker untuk pergi keluar.


Mobil Black tiba di supermarket, mencari sesuatu yang dia butuhkan. Selama Blackat belanja ada beberapa orang memperhatikannya, namun Blackat tidak terlalu perduli.


"Black, jika kamu keluar lewat jalur itu saja. Aku melihat banyak penggemar kamu yang sedang menonton bersama." Beberapa anak muda mengalihkan perhatian agar Blackat aman.


"Terima kasih atas bantuannya, terima kasih karena bersikap seakan tidak kenal." Black membuka maskernya tersenyum lebar.


"Kami akan selalu mendukung kamu, dan mendoakan yang terbaik. Cepatlah kembali seluruh penggemar kamu rindu." Senyuman beberapa wanita terlihat mempersilahkan Black pergi.


"Aku akan segera kembali, secepatnya." Black membayar belanjaannya segera keluar mengunakan jalur yang sudah disarankan.


Sampai di mobil, Black melihat di pintu utama ada banyak poster diirnya. Para penggemar meminta keadilan atas Blackat yang sudah dijebak, sampai mengalami kecelakaan.


Di beberapa tempat pejabat juga di demo meminta kehormatan Black yang dijatuhkan dikembalikan lagi.


Aktor yang terkenal sejak usia dua belas tahun, membangun karirnya dengan bersusah payah, tapi hancur karena kesalahan yang tidak dia lakukan.


"Terima kasih karena kalian masih mendukung aku, tidak tahu cara membalas bagaimana baiknya kalian. Aku harap nanti akan bertemu di tempat terbaik, sehingga kita bisa bertemu dan saling menyapa." Senyuman Black lebar terharu di hadapannya banyak sekali penggemar.


Perlahan mobil melaju, Blackat menuju kediaman keluarga besar Aira yang sedang mengamuk kepada Ai karena kebohongannya.


Penjaga melihat Black, ragu mengizinkannya atau tidak masuk sehingga dia harus menghubungi salah satu keluarga.


"Boleh tidak menghubungi Kak Shin,"


"Nona Shin, tamunya Nona?"


Kepala Blackat mengangguk, langsung dihubungkan dengan Shin yang tersenyum meminta penjaga membiarkan Black masuk.


"Tuan muda Juna bisa cemburu,"

__ADS_1


Blackat cemberut, dia tidak ada maksud apapun hanya ingin menyapa keluarga bukan menemui Shin pribadi.


Mobil Blackat berhenti di depan rumah Aira, teriakkan anak kembar beda rahim terdengar lompat-lompat dorong-dorongan.


"Hati-hati, jangan saling dorong." Blackat berjongkok memeluk dua anak kecil kesayangannya.


Kedua tangan sudah terulur, Black membuka bagasi mobil memberikan banyak hadiah untuk dua wanita.


"Wow, Mora sayang Uncle. Love love Uncle,"


"Ini untuk Mira,"


"Terima kasih ya Uncle, mulai hari ini Mira tidak akan menjahili Uncle." Mira memasukkan tangan ke saku celana Blackat mengambil mainan ularnya.


Tawa Blackat langsung terdengar, merasa lucu melihat tingkah laku si kembar beda rahim yang sangat menggemaskan.


Dari jauh Juna sudah melihat tamu istrinya, hilang niatnya ingin marah karena menatap Blackat saja sudah tahu jika dia anak baik.


"Papi lihat Mora dapat hadiah dari Uncle Black, Uncle ganteng baik sekali." Mora menunjukkan banyak hadiahnya.


"Iya, bilang apa sama Uncle Mora Mira?"


"I love you Uncle," jawab keduanya.


Black berjalan ke arah rumah Juna, diikuti oleh Mora dan Mira yang kesenangan karena mendapatkan banyak paper bag.


Kedatangan Blackat juga disambut oleh Hasan dan Husein, keduanya juga diberikan hadiah.


"Terima kasih Uncle,"


"Sama-sama anak ganteng, adik kalian mana?"


Senyuman Blackat terlihat menatap dua anak kecil yang menonton dengan tenang. Aira juga duduk bersama mereka asik nonton.


Ai terlihat kaget saat Blackat datang, tersenyum manis menanyakan hadiah untuknya.


"Kenapa kamu disini? katakan Mami kamu mengamuk?"


"Dia cari aman di sini, Mami tidak mungkin memukul dia di depan anak-anak. Ada Dean dan Juan yang diintrogasi untuk bertanggung jawab." Juna geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Adik perempuannya.


Suara teriakan Isel terdengar, dia baru tahu jika Blackat datang bergegas keluar luka jika rambutnya belum di sisir.


"Ayang, kita baru saja berpisah sudah rindu lagi." Suara Isel terjatuh ke depan terdengar, Ajun langsung menangis karena kaget berlari mencari Mamanya.

__ADS_1


Juna yang melihatnya hanya mengucap istighfar, Isel mengecek dadanya takut rata padahal baru saja terlihat.


"Anak sialan!"


Isel dipukuli oleh Mora dan Mira menggunakan paper bag, Aira langsung berdiri menjambak rambut Isel memintanya berhenti.


Black dan Juna saling pandang, Arjuna sudah biasa dengan keributan. Setiap hari dunianya dipenuhi dengan keributan.


"Dulu hidup aku tenang, sepi dan sunyi, setelah menikah istri cerewet, putriku tahu sendiri. Jadilah seperti ini." Juna tersenyum melihat keterkejutan Blackat.


"Ada Isel, Ajun sampai gemetaran menangis." Genta sudah menggunakan seragam ingin pergi bekerja.


Blackat langsung menyapa Genta, rumah mewah Kakaknya Tika ternyata ada dua kepala keluarga tidak heran heboh.


"Mainan Ajun lusak!"


"Rusak bukan lusak, bicara saja tidak jelas." Isel memeluk Genta sambil mengejek Ajun.


Kedua tangan Ajun menjambak rambut Isel, teriakan Isel terdengar melihat tangan berdarah karena digigit oleh Mira.


"Jangan ganggu adik Mira, hadapi dulu Kakaknya,"


"Kak Black, mereka semua menyerang Isel." Pelukan Isel sangat erat.


Suara Diana menggema, Isel langsung berlari pulang diiringi oleh Tama semua orang yang merasa lucu dengan Isel.


Mora dan Mira sudah di kamar mereka bersama Aira yang menatap satu kamar sangat rapi, dua tempat tidur dan lemari.


Ai menganggukkan kepalanya melihat dua monster kecil, tapi menyayangi barang masing-masing.


"Aunty, coba sekali-kali seperti Uncle yang baik, memberikan hadiah. Aunty setiap pulang selalu saja ribut dan ribut terus." Mira menyusun mainannya dengan sangat rapi.


"Iya Aunty, lihat ini aku ada mainan baru, baju baru juga cemilan. Uncle bahkan tahu ukuran sepatu kita." Mora memamerkan sepatunya.


"Jangankan sepatu kamu, ukuran bra aku saja mungkin dia tahu. Aktor multitalenta seperti dia yang tahu segalanya." Ai berbaring di atas ranjang melihat Mora dan Mira yang sudah menggunakan baju sekolah.


"Mira Mora, cepat pergi sekolah. Uncle Blackat sudah menunggu." Tika berteriak memanggil Putri dan Putranya.


"Yyee pergi sekolah bersama Uncle." Mira dan Mora berlari keluar.


Aira juga keluar, ingin ikut mengantar sekolah sekalian melihat Blackat menjadi Ayah yang baik.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2