
Konser berakhir, Aira memeluk Angga di belakang panggung, begitupun dengan Angga yang memeluk lembut.
Lea menarik Aira untuk menyudahi keromantisan mereka, dia harus segera berganti baju.
"Bye calon suami." Ai memberikan ciuman jarak jauh.
Gilang geleng-geleng melihat Aira yang sangat genit, tidak menyangka jika Blackat akan memilihnya karena bukan tipe Black sama sekali.
"Kenapa kamu memilih dia?"
"Kamu akan paham setelah jatuh cinta, aku yakin jika sudah mencintai seburuk apapun padangan orang akan terlihat baik." Angga menepuk pundak Gilang untuk segera mencari kekasih agar tidak kesepian.
Aira tersenyum bahagia memarkan cincinnya di depan tim yang bekerja dengannya. Tawa dan senyuman bahagia bukan hanya di wajah Ai, namun orang sekitarnya.
Sudah banyak perubahan dari Aira, dia yang dulunya sombong, pemarah dan tidak dekat dengan siapapun, namun akhirnya mengubah pikirannya untuk mulai menerima lingkungan sekitarnya.
"Ayo kita segera pulang, aku ingin pamer." Aira langsung memaksa membersikan make up dengan cepat.
"Sabar Aira, nanti luka wajah kamu," tegur staf yang membantu merapikan rambut Aira.
Penjagaan diperketat, dua mobil yang membawa Aira dan Blackat melaju dikawal oleh banyak bodyguard karena tidak ingin ada penggemar yang kecewa dengan keputusan Black ingin menikah.
Sepanjang perjalanan ke hotel terlihat aman, satu mobil melintasi mobil Aira yang berhenti, Ai langsung pindah begitupun sampai di mobil Black dia langsung pindah mobil.
"Ayang, kangen." Aira megusap lengan Angga pelan.
"Kita pindah hotel?" Aira menatap Gion yang masih menguap, hanya Lea yang mengangguk.
Black membuka ponselnya, melihat berita yang langsung trending soal lamaran. Aira tersenyum karena tidak ada komentar buruk soal hubungan mereka.
"Gion, kenapa lama sekali kamu mengantar cincin?" Angga melihat wajah Gion yang nyengir.
"Maaf kak, aku ketiduran," balas Gion merasa bersalah.
Tendangan kaki Aira terdengar, merasa Gion sungguh keterlaluan. Baru dia satu-satunya yang menonton konser, tapi ketiduran.
Sesampainya di hotel terlihat sepi karena keluarga sudah memboking khusus untuk mereka karena tidak ingin ada yang menganggu.
"Di mana Papi?" Aira langsung berlari ke tempat keluarganya yang sedang kumpul untuk makan malam.
Altah melihat Putrinya berlari sambil tertawa merentangkan tangannya, kedua tangan Altha menyambut memeluk Aira yang nampak sangat bahagia.
__ADS_1
"Papi, Aira boleh menikah ya?"
Altah hanya diam memuji anaknya karena penampilan Aira sangat baik, dia membuat Altha kagum sama seperti saat kelahirannya.
Angga juga muncul, menyapa seluruh keluarga yang sedang makan karena kelaparan menonton konser.
"Mommy, capek tidak?"
"Tidak sayang, Mommy bahagia sekali melihat kamu malam ini." Anggun mengecup kening Putranya.
"Daddy, maaf Angga tidak tahu jika kalian menyusul." Angga memeluk Daddy-nya.
Aliya tersenyum, memeluk Angga memberikan selamat. Al sangat bahagia melihat calon menantunya yang sangat tampan.
"Malam Pi, maaf Angga lancang mengumumkan tanpa izin." Tubuh Angga membungkuk di depan Altha.
Alt memeluk Angga, mengucapkan selamat karena konser yang diadakan begitu luar biasa.
"Pi, izinkan kami menikah. Angga bukan lelaki yang hebat, belum berhasil juga menjadi kebanggaan. Izinkan aku menjaga Aira, meksipun tidak mampu sehebat Papi." Angga meminta izin dengan sangat tulus.
"Kamu harus tahu Aira Putri kesayangan Papi, Juna dan Juan. Kita begitu mencintainya, tapi tidak bisa melebihi cinta kepada Tika." Alt tahu jika Ai selalu merasa cinta kepada Kakak perempuannya lebih besar, sehingga dia selalu iri.
Aira tumbuh menjadi gadis yang mandiri, keras, juga selalu melakukan apapun yang tidak diizinkan. Dia melakukan apapun yang membuatnya bahagia.
"Iya, Papi kecewa,"
"Bagus jika kamu paham, kamu pilih mempertahankan ketenaran kamu atau menikahi Aira?"
Angga langsung tersentak kaget, dua pilihan yang menjebak. Dia memang mencintai Aira, tapi menjadi aktris juga sudah menjadi pekerjaan ternyaman.
"Angga pilih menjadi aktris,"
"Kamu memang anaknya Dimas, tidak punya akhlak kalian." Tangan Altha ingin melayangkan pukulan membuat Angga memejamkan matanya.
Senyuman Angga terlihat, dia memang sangat mencintai Aira. Namun baginya Ai tidak pantas di sejajarkan dengan pekerjaan.
Di mata Angga Aira masa depannya untuk bahagia, sedangkan pekerjaan hanya sampai dirinya mampu saja.
"Papi juga pasti tahu, pekerjaan apapun, sehebat apapun akan ada akhirnya. Namun pasangan hidup akan mendampingi hingga maut memisahkan. Aira berada di atas sekali dari apapun." Angga tersenyum meksipun Aira harus di bandingkan dengan Maminya Angga tetap menganggap keduanya berada di posisi yang berbeda.
Dimas bertepuk tangan, diikuti oleh Gemal, Juna dan Genta yang kagum melihat keberanian Angga.
__ADS_1
"Tanya Genta bagaimana dulu dia meminta restu, Tika yang memaksa Papinya harus setuju," Ujar Gemal menatap Tika yang tertawa.
"Nasib aku dan Aira sama, kita berjuang demi restu, tapi ternyata sudah dijodohkan." Tika memeluk lengan suaminya yang sangat dicintainya.
"Mami, Aira ingin menikah, akhirnya aku bisa malam pertama." Ai Aliya yang langsung meremas mulutnya.
"Tika dulu juga memaksa, tapi ditolak sampai libur lama sekali," Tika mengajari adiknya untuk memberikan obat kuat.
"Shin juga dulu dipaksa,"
"Kapan aku memaksa kamu? bukannya tugas istri melayani." Juna menatap sinis istrinya.
Gemal tertawa terpingkal-pingkal, hanya dirinya yang malam pertama langsung jebol. Sekalian ada Tika dan Genta yang mengusiknya digas terus.
Kedua tangan Angga menutup telinganya karena pembicara sudah ke arah dewasa, tidak Angga sangka keluarga Aira suka menyerang semua.
"Tapi kasihan Kak Juan dan Lea, mereka berdua polos banget sampai lima bulan tidak buka segel." Ai menutup mulutnya keceplosan.
"Kamu tahu dari mana Aira?" Lea yang baru muncul bersama suaminya menahan malu.
"Aku sama Blackat mengintip,"
Kepala Angga geleng-geleng, dia tidak tahu apapun, tidak mendengar apapun hanya Aira yang tahu. Bahkan Angga rela bersumpah dia tidak sengaja dan mencoba membawa Ai pergi.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? heboh sekali." Dean muncul bersama anak-anak yang baru sudah mandi semua.
Suasana langsung hening apalagi ada Isel, dia anak dibawah umur yang otaknya paling kotor.
"Uncle, Mora juga ingin menjadi aktris? Mira jadi asisten,"
"Kenapa tidak dua-duanya saja yang menjadi aktris?"
"Siapa yang menjaga kita? nanti kita bisa bertukar posisi Uncle, Mora dan bayangannya." Mira memeluk Angga yang juga memeluknya lembut.
Isel langsung berlari memeluk Blackat, memberikan selamat untuk keberhasilan konsernya.
Tangan Aira menarik Isel untuk menjauh, begitu dengan si kembar beda rahim yang di dorong mundur.
"Dia milik Aira, paham." Ai memeluk Angga yang hanya tersenyum lucu melihat Ai yang tidak mengizinkan para wanita menyentuh miliknya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira