SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
PERTARUNGAN KELUARGA


__ADS_3

Pintu tertutup dengan cara dibanting sangat kuat, koper ditendang sambil terguling-guling. Sepatu juga ditendang keatas sampai terkena lampu Cristal.


"Ada apa Isel?!" teriakan Diana menggema melihat putrinya pulang mengamuk.


Kursi sofa ditendang, Isel mengamuk karena saat dia kembali mendengarkan kabar jika Blackat terkena kasus obat terlarang, dan hengkang dari dunia maya.


"Kamu menyukai aktor jangan menggila seperti itu Sel,"


"Pemberitaan itu tidak benar Mama!"


Diana hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat putri tunggalnya yang melakukan penerbangan seorang diri ke rumah Kakek neneknya, lalu lanjut liburan ke pulau terpencil bersama teman-temannya padahal masih dibawah umur.


Saat pulang bukan mencari orang tuanya, memeluk mencium, tapi mengamuk hanya gara-gara aktor kesayangannya tersandung kasus.


"Mama, Isel kangen Mama kangen juga dengan Papa dan suaminya Isel." Pelukan Isel erat kepada Diana yang kaget melihat rambut anaknya berwarna pelangi.


"Astaghfirullah Ghiselin, kamu apakan lagi rambut ini? bagaimana sekolah Nak? kamu mirip pelangi berjalan." Diana menepuk jidat memegang rambut anaknya yang warna-warni.


Senyuman Isel terlihat, dia menganggap rambutnya sangat cantik dan terlihat paling berbeda.


"Mama, tolong bantu Blackat,"


"Apa yang kamu lakukan Isel?" Dean baru saja tiba, kaget melihat barang Isel berhamburan, dan rambut baru Isel membuat Dean mengelus dada.


"Uncle, tolong Isel." Pelukan Isel erat kepada Dean, tangan Dean berusaha untuk mendorongnya agar tidak menempel.


Dean tidak suka jika ada wanita yang menempel kepadanya, apalagi memeluknya erat sampai tidak ada jarak.


"Lepaskan, aku benci banget dengan wanita yang suka memeluk." Mata Dean sinis melihat anak dari Kakaknya yang terlalu lebay.


"Uncle, suaminya Isel sudah lama tidak muncul ke publik. Tolong temukan dia, dan bebaskan. Isel yakin Ayang Black tidak bersalah." Air mata Isel menetes merasa sedih karena mendapat kabar buruk soal Black


Dean terheran-herna karena Isel menangis lelaki yang tidak penting, kenal tidak dekat apalagi, tapi rela menangisinya.


"Mencintai sesuatu jangan berlebihan Isel, beda usia dengan Blackat belasan tahun. Fokus sekolah, bukan mengurus percintaan." Suara Dean terdengar tinggi, kepala Isel tertunduk karena Dean satu-satunya yang paling dia takuti.


Dean tidak pernah memanjakannya, dan tidak segan menghukumnya jika melakukan kesalahan.

__ADS_1


Rambut Isel yang seperti pelangi berjalan diminta ubah kembali ke warna gelap, masa liburan Isel sudah berakhir dia harus sekolah.


"Ganti warna rambut kamu secepatnya,"


"Iya, besok." Hentakan kaki terdengar marah.


"Malam ini Uncle antar kamu ke salon, ganti warna yang tidak mencolok." Helaan napas Dean terdengar memanggilnya Blackat untuk keluar mengikutinya.


Dari balik pintu Blackat keluar, dia sudah melihat Isel mengamuk karena dirinya. Senyuman Black terlihat pamitan dengan Diana untuk keluar bersama.


Wajah kaget Isel terlihat, menunjuk Black tidak berani mendekat karena ada Dean. Isel takut dimarah dan memilih menatap Blackat keluar.


"Ma, sejak kapan Blackat ada di sini?"


"Sudah berminggu-minggu,"


Teriakan Isel terdengar, memarahi Mamanya karena tidak mengabarinya jika ada Black di rumah mereka. Jika Isel tahu pasti kembali.


"Ayang, sabar ya Ayang." Isel berlari melihat Aira juga ada di rumah mereka.


Tatapan sinis terlihat langsung berlari mendekati Aira yang sedang berbicara dengan Blackat.


Black menahan pinggang Ai agar tidak jatuh, Isel semakin terbakar jengot melihat keduanya berpelukan.


Kemarahan Isel terhenti saat Dean memegang pundaknya meminta Isel meminta maaf.


"Lanjutkan, ayo lanjut, lagi lagi." Teriakan Mora dan Mira terdengar melihat dua wanita mulai ingin ribut.


"Kurang ajar sekali kamu Isel, rambut sudah seperti pelangi buntung. Wajah hitam seperti monyet, jika menyukai orang perbanyak berkaca kamu dan Blackat seperti bunga dan akarnya beda jauh." Ai menatap tajam gadis remaja yang tidak tahu menghormati orang tua.


"Sebaiknya kamu yang sadar diri, meskipun aku dan Black beda jauh tepat saja kita punya kualitas saling terikat, tidak seperti kamu bagaikan langit dan bumi tidak peduli siapapun yang lebih baik sulit untuk bersatu." Tantangan Isel terdengar melawan Aira yang sudah usaha megeluarkan ucapan kasar.


Isel tidak kalah kasar, cacian Aira dibalik kembali. Bagi Isel, Aira hanya ratu drama namun tidak punya potensi yang menarik. Selebriti dan artis berbeda level karena Aira memiliki pengemar alay yang tidak punya pekerjaan.


"lebih baik aku memiliki banyak penggemar bentuknya manusia, daripada kamu selalu berada di hutan temannya monyet, kera, lutung, orang hutan, gorila, semuanya jelek." Lidah Aira terjulur mengejek manusia hutan yang memiliki rambut pelangi.


Seisi rumah keluar semua melihat dua wanita Leondra dan Rahendra berkelahi. Biasanya Mira dan Mora, jika ada Isel dan Aira juga pasti bertengkar.

__ADS_1


"Apa yang kalian ributkan, ada anak kecil di sini. Aira kamu juga harus dewasa, Isel coba hormati orang yang lebih tua." Juan meminta Isel pulang, sedangkan Aira melanjutkan urusannya.


"Hei manusia hutan minta maaf dulu!"


"Aku meminta maaf, cis tidak sudi." Isel meludah menantang Aira untuk bertarung.


Kepala Dean dan Juan menggeleng, tidak ada damainya jika bertemu. Hanya gara-gara Blackat saja bertengkar, laki-laki diperebutkan.


"Aku meminta maaf, jangan harap." Mora memunggungi Mira yang melotot.


"Kamu pikir aku juga akan meminta maaf, langit dan bumi tidak akan bersatu. Dan aku juga tidak sudi memaafkan keluarga Rahendra." Mira juga memunggungi Mora yang sudah melotot


"Keluarga Leondra yang mirip orang hutan semua, lihat rambut kamu mirip monyet." Tubuh Mora terduduk karena dipukul oleh Mira.


Black langsung menggendong Mora, mengusap wajahnya yang merah bekas pukulan. Air matanya tertahan, langsung menerkam Mira mengigit kepalanya membuat Juan dan Dena panik melihat Mira menangis histeris karena kepalanya berdarah.


"Ya Allah Mora, jangan." Black langsung mundur menjauhkan.


"Inilah akibatnya yang dewasa mengajari anak kecil sampai bertengkar, kalian berdua sudah tua masih saja selalu ribut." Tangan Dean tergempal ingin memukul Aira dan Isel.


Juan mengecek kepala Mira, menenangkan agar tidak menangis lagi. Kepala sampai ada bekas gigitan. Juan yakin semalaman Mira tidak tidur karena sakitnya,"


"Kenapa menyalahkan kita? mereka berdua sudah bertengkar sejak dalam kandungan." Aira menyalahkan Mora karena membuat Mira terluka.


"Ayolah Mora, kepala Mira bolong. Nanti otaknya keluar." Suara Isel bernyanyi menyalahkan Mora.


Tangisan Mora terdengar kuat, meminta maaf kepada kakaknya karena tidak bermaksud menyakiti. Mira duluan yang menyerangnya.


Dean melempar Isel dengan sendal, langsung berlari kencang pulang sedangkan Aira sudah berlari lebih dulu ke dalam rumahnya sebelum Dean murka.


"Jika parah diobati saja dulu Juan, kita tunda saja perginya." Blackat menenangkan Mora karena saudaranya pasti baik-baik saja.


Juan menggendong Mira ke ruangan rawat, Dean memukul pohon karena urusan mereka tertunda ulah para wanita.


"Siapapun yang megambil wanita dari keluarga ini hanya menyebabkan bencana." Dean mengambil Mora memintanya untuk diam.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2