SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
TERTINGGAL


__ADS_3

Kepala Isel menoleh ke arah seluruh keluarga yang mengantar keberangkatannya ke luar negeri untuk menemani suaminya menyelesaikan pekerjaan.


Senyuman Dean terlihat menatap kedua orangtuanya, sesekali melihat Isel yang mengusap air matanya.


"Kenapa menangis, kamu sudah biasa kelayapan keluar masuk sesuka hati?" Dean tersenyum melihat Isel yang sangat drama.


"Biar seperti di film," balas Isel langsung tertawa.


Keduanya masuk ke dalam pesawat, duduk bersama. Mata Dean terbelalak saat mendapatkan kabar jika Hairin ditahan karena menyalahgunakan kekuasaan juga wewenang. Dia ditahan saat ingin melarikan ke luar negeri.


"Sel, aku keluar sebentar untuk melakukan panggilan," ucap Dean yang langsung turun.


"Uncle, sebentar lagi kita berangkat tidak punya waktu untuk keluar." Isel memanggil Dean yang tetap saja melangkah keluar.


Hentakkan kaki Isel terdengar, mengecek ponselnya saat melihat pemberitaan Irin ditahan Polisi, dia juga meminum racun karena tidak ingin mengakui kesalahannya.


Ada delapan anggotanya yang dipecat secara tidak terhormat karena membantu Hairin dalam misinya.


"Astaga, kenapa harus bocor sekarang?" Isel memejamkan matanya karena tidak ingin tahu lagi soal Hairin membiarkan kepolisian yang mengurusnya.


Pemberitahuan jika pesawat akan segera terbang terdengar, Isel tidak mencari Dean sama sekali karena dia tahu jika Dean sangat memprioritaskan pekerjaannya.


Suara langkah kaki Dean berlari terdengar, hanya bisa tarik napas karena dia ketinggalan pesawat. Tangan Dean meremas ponselnya karena paspor dan identitas ada di pesawat bersama Isel.


"Kenapa juga menghubungi aku sekarang?" Dean menatap ponselnya yang mendapatkan panggilan dari kantor untuk menyelidiki kasus Hairin.


Dean langsung menolak karena dia memiliki pekerjaan lain, meminta tim kejaksaan yang menyelidiki untuk tidak melibatkan Yandi dan keluarga, meskipun harus meminta keterangan, tidak dengan menyudutkan.


"Permisi Pak Dean, ini tas yang diberikan istri anda. Katanya dia tidak tahu tinggal di mana, dan akan main ke bar semalaman." Penjaga menyerahkan tas yang berisikan paspor juga identitas Dean.


"Bisa Isel mengancam aku." Dean mencari penerbangan selanjutnya agar bisa menyusul Isel.


Di pesawat Isel tidak bisa tidur karena tidak nyaman tanpa Dean, Isel juga masih was-was jika bertemu Bian.


Penerbangan hampir sampai, Isel tersenyum karena akhirnya dia bisa kembali lagi ke negara yang memiliki segudang rinci manusia. Kehidupan bebas sangat terasa, sehingga jarang sekali bertemu orang baik-baik.

__ADS_1


"Akhirnya sampai, aku harus mencari hotel terdekat." Isel berjalan meninggalkan koper karena tidak ingin banyak bawaan.


Langkah Isel terhenti saat seseorang yang tidak dirinya harapan muncul, bukan hanya Isel yang menghentikan langkahnya, tapi Bian juga terkejut melihat wanita yang ingin dia jumpai sudah ada di hadapannya.


"Isel, selamat datang kembali," ucap Bian yang mempersilahkan.


"Tuan Bian ingin pergi ke mana?" Isel berlaga polos, padahal dia tahu jika tujuan Bian dirinya.


"Aku ingin pergi menjemput calon pengantinku, tapi dia datang dengan sendirinya." Tawa Bian terdengar mengikuti langkah Isel yang berjalan lebih dulu.


Mobil mewah Bian sudah ada di depan, dia tidak menyangka jika dirinya langsung bisa membawa Isel.


"Silahkan masuk, aku akan mengantar ke tempat tujuan," pinta Bian membukakan pintu mobil.


"Terima kasih tuan Bian, tapi sayang sekali jika saya menolak untuk bersama. Tuan memang memiliki segalanya, hanya satu yang tidak bisa dimiliki ... saya." Senyuman manis Isel terlihat, langsung melewati Bian begitu saja tanpa peduli dengan puluhan pengawal.


Isel menghentikan taksi, langsung berjalan masuk mobil. Memintanya segera menuju apartemen yang sudah Dean kirimkan alamat.


Kepala Isel menoleh ke belakang, Bian tidak mengejarnya sama sekali, tapi Isel yakin ambisi Bian semakin besar.


Mengurus orang seperti Bian sudah biasa bagi Isel, hanya saja mereka memang sudah menyadari kejiwaannya, sedangkan Bian bisa dibilang psikopat gila.


"Dia kaya, mapan, tampan, sukses, dari keluarga terpandang, memiliki segalanya, lalu kenapa dia gila. Apa ini ada sangkut pautnya dengan istri yang menjadi pembicara banyak orang?" Isel merapikan rambutnya karena dia harus segera menyingkirkan Bian, tapi ucapan Dean sebelumnya benar tidak akan mudah.


Sesampainya di apartemen, Isel langsung turun. Tersenyum manis kepada sopir yang terlihat aneh.


Isel menghubungi seseorang untuk menjemputnya karena tujuannya masih jauh. Sopir yang mengantar Isel, orang yang bekerja di bawah perintah Bian.


"Aku harus segera menyingkir kamu Bian." Isel menunggu temannya untuk menjemput.


Suara klakson mobil terdengar, seorang pria muda yang harus bekerja di dunia malam untuk kelangsungan hidupnya, satu-satunya orang yang bisa Isel percaya.


"Kenapa kamu balik lagi Sel?"


"Bukan karena aku ingin, tapi mungkin di sini kisah aku akan dimulai." Tawa kecil Isel terdengar mengatakan jika dirinya sudah menikah.

__ADS_1


Suara tawa terdengar, Brayen tidak percaya jika Isel sudah menikah karena hanya orang tidak normal yang akan menikahinya.


"Kamu yakin Sel tinggal di alamat ini, apa benar kamu sudah menikah?"


"Ya, kenapa dengan alamat ini?"


"Kawasan agen rahasia, biasanya orang yang tinggal di wilayah ini para pemimpin dunia. Sudah pasti orang-orang berpengaruh yang dijaga ketat." Brayen sangat penasaran dengan suami Isel.


Kepala Isel mengangguk, tempat yang ditakuti banyak orang biasanya wilayah yang tidak aman sama sekali. Isel mengenal baik Dean, mereka pasti tinggal dikawasan orang-orang yang sibuk dengan dunia masing-masing, tanpa peduli tetangga depan, belakang, kanan dan kiri.


"Yakin kita bisa masuk Sel?"


"Percaya saja, suami aku memang orang penting, begitu pentingnya dia sampai ketinggalan pesawat." Tawa Isel terbahak-bahak karena mengingat wajah Dean yang pasti kesal karena demi Yandi dia harus menjawab panggilan.


Suara Brayen terpesona dengan kemewahan apartemen, dia baru pertama kali naik apartemen lantai tertinggi.


"Ya tuhan, mimpi apa aku bisa masuk apartemen orang kaya?" Brayen langsung duduk di sofa, tidak ingin pulang lagi.


"Suamiku orang yang sangat emosian, tidak ada lelaki yang boleh dekat dengan istrinya," ujar Isel meminta Brayen pulang.


"Aku tidak bernafsu dengan istrinya, aku lebih nafsu dengan kekayaannya. Sel, kenapa orang miskin seperti kamu bisa mendapatkan orang kaya?"


"Itulah hebatnya jalur langit, tidak ada yang tidak mungkin." Isel melihat ke arah balkon yang bisa melihat kota yang sangat indah.


Brayen merasa jatuh cinta dengan keindahan kota, apalagi saat malam hari dipenuhi lampu yang memanjakan mata.


"Sel, kamu lihat bangunan menjulang tinggi. Itulah kediaman Bian, di sana ada penjara bagi siapapun yang membocorkan rahasia Bian." Tangan Brayen menujuk ke arah bangunan berbentuk istana yang ada di pinggir perkotaan.


"Bukannya itu paviliun?"


"Mana ada paviliun seperti itu, aku lupa namanya?"


***


jangan lupa follow Ig Vhiaazaira karena akan ada give away

__ADS_1


__ADS_2