
Di rumah sudah siap-siap menunggu kedatangan keluarga dari luar kota, Dean hanya tersenyum saja dari atas rumah menatap satu-persatu mobil mewah memasuki pekarangan rumah.
Berita soal kelahiran anak Blackat sudah menghebohkan, tapi belum ada konfirmasi apapun baik dari Aira maupun Black.
Keduanya masih belum bisa ditemui karena berada di luar kota, dan baru kembali setelah beberapa hari menetap.
"Dean turun, apa yang kamu lakukan di atas sana?" Diana menatap adiknya yang tersenyum kecil.
Tiga bayi sudah digendong untuk menyambut kedatangan ketiga bayi lainnya, tubuh Gemal membungkuk menyambut kedatangan.
Mommy dan Daddy keluar dari mobil, tersenyum melihat Isel yang berjalan meyambut bayi perempuan.
"Di mana mereka Sel?"
"Itu, bersama Mama dan Nenek dan Kakek." Isel tersenyum melihat Aira yang sudah bisa berjalan.
"Bagaimana kondisi kamu Sel?"
"Alhamdulillah sehat Kak, masuk ke rumah dulu soal dari perjalanan jauh." Isel mencari keberadaan Ura yang tidak bermunculan.
Anak-anak yang lain sudah lari ke dalam semua ingin makan dan beristiahat, apalagi sudah disiapkan banyak cemilan.
"Di mana Ura?" Dean menatap Ai yang berjalan tanpa si kecil.
"Cek di mobil," jawab Aira yang sudah pusing ulah putrinya bergonta-ganti mobil.
Dean berlari ke arah mobil, melihat Angga yang tersenyum kecil menunggui putrinya. Dean memeluk Kakaknya memberikan selamat, begitupun dengan Angga yang memberikan selamat.
"Halo Abi, lihat baju baru Ura."
"Tidak panas menggunakan baju begitu?" Dean menggedong Ura yang mirip dinosaurus.
"Ini baju di belikan oleh Dika, dia banyak belikan Ura baju, satu koper."
"Dika ... Astaghfirullah." Angga kaget mendengar ucapan Putrinya memanggil orang yang lebih tua sebutan nama, tidak ada sopannya sama sekali.
Di dalam rumah sudah heboh karena enam bayi sudah tidur di ranjang yang sama, sekeliling orang sibuk memotret.
Tiga bayi perempuan berada di tengah-tengah, tiga bayi laki-laki tidur tidak terganggu dengan suara berisik keributan.
Sangat berbeda dengan bayi perempuan yang tidak terpejam sama sekali, matanya menatap tajam mencoba mendengar sumber suara.
"Wow, banyaknya. Ya Allah ya Allah banyaknya? Anak siapa ini?" Ura menutup mulutnya karena terkejut melihat banyak bayi.
Suara terkejut Ura membuat semua orang tertawa, merasa lucu karena mimik wajahnya yang kebingungan ada banyak bayi.
__ADS_1
Dean memangku Ura memintanya memberikan nama kepada dua bayi perempuan yang memiliki nama panggil Ira dan Ara.
"Cemua pelempuan?" Ura masih kaget.
"Satunya cowok, namanya Delvin Galaxy Dirgantara."
"Wow, bagus sekali. Namanya sama seperti Ura ada Dilganrala juga." Tangan Ura bertepuk bahagia karena memiliki teman dari keluarga Dirgantara.
Setahu Ura dari pihak keluarganya yang paling terkenal Rahendra dan Leondra, tidak ada Dirgantara kecuali dirinya.
"Ura yang pertama ya Abi, lalu Adik Galaxy."
"Ura, Ira, Ara, dan Gala, jangan lupa juga masih ada dua lagi bayi laki-laki keluar Dirgantara." Dean juga nampak kaget.
Tangan Ura menghitung ada lima bayi yang masuk sekaligus ke dalam keluarganya, ada tiga laki-laki dan dua perempuan.
"Siapa nama duanya lagi?" tanya Ura menatap Miminya.
Aira menatap suaminya yang juga memandang ke arah keluarga yang mungkin punya usul untuk nama kedua putra mereka.
"Apa dua laki-laki itu adiknya Ura?" senyuman Ura terlihat karena semua orang tertawa melihat Ura lupa dengan adik kandungnya.
Kepala Dean mengangguk, membenarkan jika dua lelaki adik yang ada di dalam perut Miminya.
Semua kepala melihat ke lantai atas, Ajun tergagap karena kaget melihat bolanya melayang ke bawah.
"Bukan Ajun, tadi tendang bole ke arah Vino, tapi ditangkis jatuhlah ke bawah," jelas Ajun menyesal.
Tika sudah berlari ke lantai atas, Ajun dan Vino langsung lari, diikuti oleh Andra dan Andri yang tidak tahu apapun ikutan lari.
"Ajun!" Tika menatap Putranya yang berlari pulang.
"Maaf Juan, Ajun dan Vino menyakiti putramu." Genta menatap dua bayi laki-laki yang sudah digendong.
"Mereka anakku Kak," jawab Angga yang menatap Genta binggung.
Tawa semua orang terdengar, memang sangat membingungkan melihat banyak bayi yang hadir sekaligus.
Tangan Dean mengusap pelan kepala Ura, matanya terbuka menatap tajam menyimpan dendam kepada Ajun dan akan segera membalasnya.
"Masih sakit sayang?" tanya Dean lembut.
Kakek Altha mengusap kening kedua bayi lelaki, memberikan nama untuk kedua cucu lelakinya.
"Pertama Alaska berarti pemberani dan yang kedua Askara berarti sinar cahaya, kedua harus menjadi lelaki yang kuat untuk Kakak perempuannya."
__ADS_1
"Nama yang bagus, Alaska Alta Dirgantara, dan Askara Andi Dirgantara. Kalian ingin tahu tidak artinya apa?" Dean menahan tawa melihat semua orang menatapnya.
"Kenapa ada nama Altha, tidak ada Aliya?" Al protes tidak setuju.
Tawa Isel dan Aira terdengar, keduanya bisa menebak arti dari nama yang Dean berikan. Merasa geli, tapi ada bagusnya.
Angga menyenggol istrinya meminta dijelaskan arti Alta dan Andi yang tidak bisa Angga pahami.
"Alta itu Aliya Altha, sedangkan Andi itu Anggun Dimas, benar tidak?" Al menepuk punggung Dean yang bisa kepikiran.
Senyuman semua orang terlihat, Angga dan Aira langsung setuju dengan anaknya Alaska Alta Dirgantara dan Askara Andi Dirgantara.
"Sudah ada Delvin Galaxy Dirgantara, Alaska dan Askara, lanjut tiga perempuan." Aliya menunggu nama tiga calon jagoan perempuan.
"Nama Adiknya perempuan Ura Desvara dan Desvira, panggilannya Ira dan Ara." Ura marah karena nama yang diberikannya tidak diajukan sama sekali.
"Baiklah, namanya Desvara Mala Dirgantara, dan Desvira Jesca Dirgantara," ucap Dean menahan tawa.
"Apa artinya?" tanya Gemal curiga.
"Tidak ada arti Kak Gem, suka saja."
"Mala Gemal dan Lala, mantan Dean itu."
Pukulan Diana mendarat membuat suaminya langsung mengusap punggung karena mengartikan nama membuat istrinya marah.
"Namanya bagus Mala, arti Gemal Diana, kenapa aku hanya dapat A saja?" Diana langsung pergi karena ngambek.
"Lumayan Kak Di, daripada tidak ada. Masa iya namanya Gemdi atau Digem nanti anaknya Dean suka dugem." Tawa Dean puas melihat Kakaknya kesal.
Bayi terakhir, Aliya berikan nama Aurelia Ghea Rahendra, dikarenakan ketiga kakaknya dipanggil Ura, Ara dan Ira maka panggilnya tidak kalah unik Ure.
"Ure ... kenapa namanya jelek sekali Nenda?" Ura protes karena adiknya harus cantik.
"Daripada Oro," balas Aliya menatap Ura yang menghentakkan kaki.
"Ura, Ara, Ira, dan Era, masa Ure."
Tawa Lea terdengar, tidak peduli siapapun nama panggilannya. Lea dan Juan menyukainya karena paling penting anaknya tumbuh sehat.
"Namanya Desvara, Desvira, Delvin, Alaska, Askara, dan Aueralia. Nama panggilannya Ara, Ira, Delvin, Aska, Kara, dan Era. Aduh kepala Ura pusing karena banyak sekali, seperti anak kucing." Ura melangkah pergi ingin mengecek anak-anaknya yang sudah lama di tinggalkan.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1