SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
TIDAK DIPERJUANGKAN


__ADS_3

Ai terbangun merasakan haus, berjalan keluar kamar. Ai melihat Papinya duduk sendirian sambil melamun terlihat banyak pikiran.


Aira menuruni tangga duduk di samping Papinya yang belum menyadari kemunculan Aira.


"Apa yang sedang menganggu pikiran Papi?" Ai menggenggam tangan Papinya.


Senyuman Altha terlihat, mengusap punggung tangan Ai. Senyuman paling lembut yang Ai saksikan.


"Kenapa belum tidur? katanya besok ingin pergi ke luar negeri?"


"Papi kecewa dengan Aira karena gagal bersama dengan Dean, padahal Papi sangat berharap bisa menjadi besan keluarga Dirgantara." Genggaman tangan Aira erat, meminta maaf atas sikapnya yang egois.


Jika batalnya hubungan dengan Dean membuat Papinya sedih juga memiliki banyak beban pikir, lebih baik Aira kembali bersama Dean.


Bukan hal yang sulit bagi Ai, dia tahu Dean tidak akan membiarkan Aira terluka. Jika demi kebaikan Aira rela memohon.


"Papi tidak memikirkan soal itu, hanya saja mencemaskan kamu. Ai sangat berharga untuk Papi, tidak rela terluka." Altha mengusap kepala Putrinya.


Sejak awal mengetahui soal Blackat jujur Altha sangat mengaguminya, namun tidak berharap menjadikan menantu bukan karena kekurangannya namun banyaknya wanita yang mencintainya.


Seorang lelaki yang memilki jutaan penggemar, menjadi idaman banyak wanita dan rebutan hingga lupa dengan tugas dan kewajiban hanya karena mengejar cinta Blackat.


"Papi sedih dengan kematian Black, Papi juga tahu Ai mengagumi dia hingga tidak mampu mengendalikan diri. Satu pertanyaan Papi, kenapa dia tidak berjuang untuk mendapatkan cinta Aira? kenapa harus kamu yang menjemputnya?" Alt tidak berharap Aira membatalkan rencananya untuk menemui Blackat, tidak ingin mengubah cara pandang Aira.


Alt hanya aneh saat jutaan orang berdoa dan memohon agar Black kembali dia memilih bersembunyi dan menganggap dirinya mati.


Tidak sedikitpun Blackat datang menemui Ai, tidak ada kabar selama bertahun-tahun. Aira tersakiti dengan kehilangan Blackat, tapi di mana perasaan Blackat untuk Aira.


"Apa Black mencintai kamu? apa dia setulus Dean? siapa Blackat sebenarnya tidak ada yang tahu?" Altha ingin yang terbaik untuk Putri bungsunya, tidak ingin Aira merasakan pahitnya mencintai.


Lebih baik dicintai daripada mencinta karena jika dicintai maka diprioritaskan, tapi jika hanya mencintai berusaha membahagiakan, namun tidak dihargai.

__ADS_1


"Maafkan Aira Pi selama ini tidak sadar jika perasaan ini tidak adil, ucapan Papi benar." Kepala Aira mengangguk, dia tidak seharusnya mengejar cinta jika Black sendiri tidak menginginkannya.


Black memutuskan untuk pergi dan melupakan Aira, seharusnya Aira menghargai dan tidak memaksa Black untuk menerimanya.


"Ai ke kamar dulu Pi, besok Aira juga batal untuk pergi." Senyuman Aira terlihat langsung bergegas naik ke kamarnya.


Mata Altha terpejam, merasa kasihan dengan Putrinya yang berjuang untuk lelaki yang dicintainya, namun cintanya tidak dihargai.


"Kenapa menyalakan Black?" Aliya duduk di samping suaminya yang kaget melihat istrinya.


"Aku tahu dia terluka, tapi saat terbangun seharusnya menemui Ai." Alt memalingkan wajahnya ingin segera tidur.


Air mata Aliya menetes melihat suaminya melangkah pergi kembali ke kamar, tidak ingin mendengar ucapan Aliya.


"Tidak ada yang tahu seberat apa yang Blackat hadapi selama dua puluh lima tahun? kalian hanya melihat dia seorang aktor yang dicintai banyak orang, nampak bahagia dari luar." Tangisan Aliya pecah melihat foto seorang wanita.


Tangisan Lea terdengar, dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Papi dan Aira. Hati Lea hancur dan perih secara tiba-tiba karena apa yang dokter jelaskan soal kondisi Kakaknya menghancurkan hati Lea yang tidak bisa ingat apapun namun dia tahu jika Kakaknya pasti ingin cepat kembali.


Lea gadis yang sangat ceria, menyukai perhiasan. Black hanya bisa mengirim doa untuk adik kesayangannya.


Surat kecil yang Black tinggalkan hanya sebuah permintaan agar Lea memaafkan kesalahan Imel, memaafkan siapapun yang menggores luka dan terus mendoakan kedua orangtuanya agar berada di surga tebaik.


Tangisan Lea membangunkan Juan, memeluk erat kalung kecil yang diberikan oleh Kakaknya.


"Sayang, kenapa kamu menangis?" Juan menatap istrinya yang langsung memeluk erat.


"Kak, siapa kak Blackat sebenarnya? kenapa Lea merasa dia banyak dicampakkan, tapi terus memaafkan siapapun yang menyakitinya." Air mata Lea membasahi pipinya.


Juan mengusap punggung istrinya, menenangkan Lea agar beristirahat karena mereka akan segera menemukan Blackat membawanya pulang.


Kepala Lea menggeleng, ucapan Papi ada benarnya. Seharusnya Blackat menemui mereka setelah bangun meskipun sesakit apapun dirinya.

__ADS_1


Tidak sepantasnya dia memilih pergi dan membuat mati dirinya. Black setidaknya harus memberikan kabar.


"Alasan Kak Black tidak menemui kita karena dia tidak ingin terlibat lagi. Lea tidak ingin menemui Kak Blackat apalagi memintanya pulang, dia yang sudah memutuskan untuk pergi seharusnya kita menghargai keputusannya." Lea naik ke atas ranjang menyimpan kalung dari kakaknya, meletakkan foto keluarga Lea.


Juan duduk di pinggir ranjang, tidak paham dengan Papinya yang membuat Lea memiliki pikiran singkat.


"Selamat tidur sayang, jangan sedih lagi." Selimut ditarik menutupi tubuh.


Penasaran dengan apa yang terjadi di luar, Juan langsung keluar kamar mendengar keributan di lantai satu.


"Mami dan Papi bertengkar." Juan bergegas turun ke lantai satu melihat Maminya marah-marah.


Pintu kamar tidak tertutup, Juan mendekat dan melihat kedua orangtuanya yang masih bertengkar.


"Aku tidak membenci Black, tidak sedikitpun Aliya. Kenapa kamu begitu sensitif sampai menangis." Alt meminta Aliya diam dan tidur, Alt tidak sedikitpun membenci Blackat hanya saja mempertanyakan perasaan Black kepada putrinya.


Air mata Al keluar deras menunjukkan foto di tim Altha saat pertama kali menjadi seorang polisi, dan memperlihatkan seorang wanita yang diketahui oleh Aliya seorang polisi wanita yang selalu ikut dalam misi.


"Masih ingat wanita ini? kamu ingat dia Altha. Aku yakin kamu tidak mungkin melupakan wanita ini,"


"Kenapa kamu tiba-tiba membahas dia yang sudah puluhan tahun tidak terlihat? aku ingin tidur Aliya. Kita sudahi perdebatan hari ini." Alt naik ke atas ranjang, menarik selimut.


"Bagaimana jika kamu dan Kak Dimas penyebab hancurnya hidup anak ini? bagaimana jika kalian berdua yang membuat takdir anak ini seburuk sekarang? bagaimana kalian mempertanggungjawabkan kesalahan puluhan tahun yang lalu?" Al menarik tangan Altha untuk menatapnya.


"Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin kamu katakan? kita bicarakan besok. Aliya maafkan aku jika berkata kasar, kita tidur sekarang sayang." Alt mengusap air mata Istrinya.


Kepala Altha tertunduk, menyentuh foto seorang polisi yang sangat ahli berakting. Pekerjaan selalu sukses sehingga gabung bersama tim Altha.


Saat itu mereka masih muda, dan tidak tahu jika kebersamaan menimbulkan bencana yang besar.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2