SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
ALINA?


__ADS_3

Sarapan pagi di kediaman Bian terasa dingin, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


"Kamu tahu jika Isel sedang hamil?" Glora membuka pembicaraan yang membuat Dean berhenti makan.


"Apa yang kamu bicarakan?"


Senyuman Glora terlihat, dia sudah memastikan langsung jika Isel sedang hamil apalagi perutnya juga sudah buncit dan tubuhnya berisi.


Tidak ada lagi kesempatan bagi Bian untuk bisa bersama Isel karena dia dan suaminya akan segera memiliki momongan.


Senyuman Bian terlihat, dia tidak perduli sekalipun Isel sedang mengandung baginya memiliki Isel sama saja menerima anaknya.


Bukan hal yang sulit bagi Bian menghidupi anaknya Isel, Bian pastikan keduanya akan bahagia.


"Kamu masih saja tidak menyerah sekalipun mereka akan memiliki anak?"


"Kenapa aku harus menyerah?" Bian tertawa bahagia karena dia akan menjadi ayah dari anaknya Isel.


Menikah dengan banyak wanita tidak ada satupun yang mampu memberikannya keturunan, dengan senang hati Bian akan menerima calon anaknya meskipun bukan darah dagingnya.


Pukulan kuat di atas meja terdengar, Glora mengumpat kasar karena Bian sudah keterlaluan hanya dengan membunuh Isel maka semuanya akan berakhir.


"Kamu ingin pergi ke mana Bian?" Glora mengejar meminta Bian berhenti.


"Jangan menghalangi aku Glora, jika tidak aku akan melenyapkan kamu tanpa jejak," ancam Bian membuat Glora langsung diam.


Senyuman sinis Bian terlihat langsung keluar ingin menemui seseorang yang pasti sedang berbahagia jika akan segera memiliki anak.


Dugaan Bian benar, Isel keluar dari apartemennya dengan senyuman bahagia. Ada beberapa cemilan yang dibawa.


"Isel," panggil Bian, tapi tidak didengarkan.


Cepat Bian mengikuti mobil yang Isel kendarai. Melihat arah tujuan Isel ternyata rumah sakit jiwa.


"Sel," panggil Bian yang tersenyum lebar melihat Isel yang menghentikan langkahnya.


Tarikan napas Isel panjang, tidak salah dengar ternyata Bian memnag sedari tadi mengikutinya.

__ADS_1


"Sel, kenapa kamu ada di rumah sakit jiwa?"


"Hanya ada dua orang yang akan datang ke tempat ini, Dokter dan pasien." Tangan Isel menunjuk dirinya sebagai dokter, sedangkan Bian pasien.


"Aku tidak gila Sel," ujar Bian serius.


"Jika kamu tidak gila, lalu kenapa mendekati aku?" Isel menjelaskan jika dia sangat mencinta suaminya dan tidak akan rela kehilangan.


"Lalu aku harus bagaimana? peraasaan ini tidak bisa dikendalikan Sel, aku sangat tulus mencintai kamu." Bian memukul dadanya penuh keyakinan jika dirinya tidak bisa melupakan Isel.


"Apa kamu bahagia hidup bersama seseorang yang tidak mencintai kamu?"


Kepala Bian mengangguk, dia tidak peduli selama bisa membahagiakan dan memastikan jika segalanya terpenuhi.


Dirinya tidak butuh cinta, cukup mencintai. Jika bisa memberikan setulus mungkin maka Bian tidak akan memaksa untuk mendapatkan balasan akan perasaanya.


"Apa aku sangat jahat di mata kamu?"


Isel terdiam sungguh dirinya tidak peduli jahat atau baiknya Bian karena bukan urusannya, tapi melihat Bian yang memelas cinta menyadarkan Isel begitulah perasaanya kepada Dean memaksakan cintanya tanpa peduli perasaan Dean.


"Bian, jangan lakukan kesalahan yang aku lakukan, kamu tidak akan bahagia Bian. Temui orang yang mencintai kamu juga kmu cintai, bersama orang yang saling mencintai jauh lebih baik, daripada memaksakan cinta." Isel meminta maaf karena dia sangat mencintai suaminya.


Mata Bian berkaca-kaca, hatinya sangat sakit mendengar penolakan Isel yang sangat mencintai suaminya tidak bisa kehilangannya. Isel tidak bisa hidup tanpa Dean karena dia segalanya bagi Isel.


"Sel, aku pasti akan membahagiakan kamu," ujar Bian masih memohon.


"Aku bahagia bersama Dean dan tidak bisa tanpa dia, Bian jika kita bisa mengakhiri masalah ini dengan baik maka aku sangat berterima kasih, tapi jika sebaliknya kamu akan menyesal mengenal aku." Isel meminta Bian pergi karena dia bukan pasien rumah sakit jiwa.


"Sungguh tidak ada kesempatan bagi aku?"


Kepala Isel menggeleng cepat, dia yakin Bian bisa melupakan dirinya secepat mungkin selama Bian siap membuka hatinya.


"Tidak bisa memiliki kamu maka aku siap menjadi orang jahat kembali." Bian menatap tajam Isel.


"Aku tahu kamu tidak sepenuhnya jahat hanya saja kamu harus memiliki alat untuk bertahan, guru yang mengajari kamu cukup hebat karena setengah hati kamu masih sangat menghormati dia." Isel tahu siapa Bian dan penyebab dirinya memilih menjadi penjahat.


"Dia memang seseorang yang sangat hebat, tapi aku akan membuatnya kecewa karena menyakiti adiknya. Aku tidak punya pilihan karena aku juga ingin hidup bahagia." Bian tersenyum melihat ke arah perut Isel yang memang sudah membuncit.

__ADS_1


Isel melangkah pergi sambil mengusap perutnya, Isel rasa Bian tahu soal dirinya padahal Dean juga belum tahu.


Melihat Isel yang pergi, tidak membuat langkah Bian pergi. Dia masih setia menunggu sampai Isel kembali menemuinya.


Seorang suster berlari mendekati Bian, meminta masuk dan duduk di dalam daripada berdiri di tengah lapangan.


"Di mana Dokter Isel berada?"


"Tidak ada dokter Isel di sini," balas suster yang menatap Bian mengerutkan keningnya.


Bian langsung melangkah pergi ke arah mobilnya, tidak melanjutkan keinginannya menunggu Isel sampai keluar.


Suster binggung karena memang tidak ada dokter Isel, seluruh orang mengenal Ghiselen Alina dan dipanggil dokter Alina.


"Tunggu, dokter yang menggunakan mobil ini siapa namanya." Bian menunjuk ke arah mobil Isel.


"Dokter Alina," balas suster yang sangat mengenali mobil Isel.


Kerutan di kening Bian terlihat, nama Alina mengingatkan Bian kepada wanita muda yang dulunya menyelamatkan dirinya saat masih kecil.


Wanita yang sangat hebat dan kuat, Bian berharap nama saja yang sama, namun tidak ada hubungan antara Isel dan Alina yang dulunya dirinya kenal.


"Tidak mungkin mereka saling mengenal, jika Dean Adiknya Alina maka tidak mungkin Dean menikah dengan anak kakaknya." Kepala Bian menggeleng karena hal mustahil Alina membiarkan putrinya menikahi adik yang sangat disayanginya.


Alina bahkan pernah berpesan, siapapun yang menyakiti Dean akan hancur ditangannya tidak terkecuali Bian sekalipun.


Mobil Bian meninggalkan rumah sakit, berniat menemui Dean langsung untuk memastikan hubungan Isel dan Alina sejauh mana kedekatannya.


"Tidak mungkin mereka ada hubungan, Isel tidak jelas identitasnya. Siapa nama Isel sebenarnya? apa nama belakangnya?" Bian menghubungi seseorang, tapi terlalu lama karena sebelumnya bawahan Bian sudah gagal menemukan siapa Isel.


Mobil melaju ke arah kantor Dean, Bian pastikan akan menemukan informasi siapa Isel dan hubungannya dengan Dean.


"Bagaimana jika dia memang putrinya Alina, berarti pernikahan Dean dan Isel hanya sebuah kebohongan, kehamilan Isel juga palsu." Tawa Bian terdengar karena banyak rahasia antara Isel dan Dean yang mereka tutupi.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2