
Pintu kamar Isel terbuka, Ian melangkah masuk menatap adiknya yang sedang tersenyum di depan kaca.
"Wajah kamu baik-baik saja, maaf jika Kak Ian menampar kuat." Ian duduk dipinggir ranjang.
Tawa Isel terdengar, tidak menyangka membuktikan perhatian Dean di depan banyak orang membuatnya nyata menjadi calon istri Dean.
Kepala Ian menggeleng, dia terpaksa mengikuti drama Isel demi adiknya pulang agar suasana hati Mamanya membaik.
"Apa yang harus aku katakan kepada Kak Gion? dia yang mendapatkan pukulan dari Uncle ulah kita." Ian menutup wajahnya menggunakan dua tangan karena merasa sangat bersalah kepada Kakak tertua yang melindunginya.
"Apa yang terjadi di luar Kak?"
Kepala Ian menggeleng langsung melangkah pergi tidak ingin ikut campur lagi apa yang akan terjadi antara Dean dan Isel.
Ian sadar jika rasa sayang Dean memang sangat besar, tapi tidak tahu rasa sayang sebagai apa?"
Di ruang keluarga terasa hening, ucapan Dean cukup mengejutkan seluruh keluarga. Belum bicara apapun sudah ada ungkapan Dean yang ingin menikahi Isel.
"Maaf, ucapan aku pasti sangat mengejutkan," ujar Dean menatap Daddy-nya.
"Kenapa kamu mengatakannya? menikah tanpa cinta, apa kamu mampu?" nada bicara Gemal sangat pelan, jika Dean menikahi wanita lain terjadi konflik maka bisa berpisah, tapi jika bersama Isel mungkin sampai mati akan terikat.
Senyuman kecil Dean terlihat, dia tahu dan sudah memikirkannya karena tidak asal bicara. Apa yang sudah keluar dari mulutnya sudah pasti, Dean berkali-kali sudah menimang.
"Aku salah karena tidak meminta izin terlebih dahulu kepada Daddy dan Mommy, lancang juga kepada Kak Di dan Kak Gem. Dean tidak tahu cara mengatakannya karena ini tidak masuk logika." Kepala Dean terangkat menatap Gemal yang juga menatapnya.
Perasaan Dean sangat tulus kepada Isel, dia begitu menyayangi sama besarnya kasih sayang Gemal.
"Jika kalian tanya apa aku cinta?" kepala Dean menggeleng, dia tidak tahu rasanya cinta kepada Isel berbentuk apa, namun kasih sayang kepada Isel tidak bisa dirinya ukur.
"Kamu akan terluka jika hidup bersama orang yang tidak kamu cintai, jangan lakukan Dean. Isel akan berhenti dengan sendirinya." Diana tidak ingin Adiknya mengorbankan kebahagiaan demi keegoisan Putrinya.
__ADS_1
"Aku juga pernah hidup dengan wanita yang tidak aku cintai, hidup dengan remaja yang hanya tahu dunia malam." Altha menatap istrinya yang nampak terkejut mendengar sindiran suaminya.
Bagi Altha Dean jauh lebih beruntung dari dirinya, Dean mengenal baik Isel dan sangat menyayanginya hanya perlu belajar mengimbangi rumah tangga impian.
Berbeda dengan Altha terdahulu, menikahi remaja dalam keadaan membawa dua buntut, kecemasan Altha sangat besar karena harus mengurus tiga anak kecil yang membuatnya gila.
"Aliya dulunya suka mabuk, bermain di bar. Siapa yang menyangka dia mampu menjadi ibu yang hebat berhasil melepaskan keempat anaknya untuk bahagia. Mungkin saat ini kamu berpikir jika takdir sungguh tidak adil, tapi apa yang terjadi itu yang terbaik. Tergantung kamu ingin menyingkapi bagaimana?" Alt tersenyum mengacungkan jempol untuk keberanian Dean di dalam rasa dilema untuk menjaga perasaan banyak orang.
"Kamu yakin Dean?" tanya Daddy menatap Putra bungsunya.
Kepala Dean mengangguk, ucapan Papi Altha menguatkan keputusan Dean karena dia juga sepemikiran. Melihat Isel yang bebas membuat Dean takut jika sampai lepas pantauan.
Kedua tangan Dean memeluk erat Mommy, meminta maaf karena tidak bicara terlebih dahulu langsung memutuskan sendiri.
Senyuman Mommy Anggun terlihat, mengusap kepala putranya yang menerima seseorang yang dianggap keponakan.
"Satu dua tahun kamu tidak memiliki perasaan kepadanya lepaskan saja Nak, jangan terlalu menyakiti. Kamu harus tahu ada yang namanya menikah namun bukan jodoh." Mommy Anggun juga menyayangi Isel, tapi tidak bisa bohong jika dia juga mencemaskan putranya.
Dia mampu dewasa dan sangat mendukung di waktu yang tidak terduga, lelaki yang memilikinya seseorang yang paling beruntung.
"Satu tahun juga terlalu lama untuk Dean mengubah perasaanya, aku menunggu hari yang paling membahagiakan itu," gumam Angga pelan.
Aira melangkah ke kamar Isel, melihatnya sedang asik tidur tidak memikirkan nasib Dean sama sekali.
Tepukan Aira diabaikan, Isel tidak ingin bangun. Matanya juga tidak ingin terbuka, hati Isel bahagia karena bisa mengejar cintanya.
"Sel," panggil Aira.
"Ada apa? ganggu mimpi indah orang saja," balas Isel sinis.
"Kamu mimpi indah, tapi Dean mimpi buruk." Aira menarik tangan Isel kuat.
__ADS_1
Mata Isel masih terpejam, duduk di hadapan Aira. Tidak peduli apapun yang Ai katakan, dari A sampai Z tidak ada yang tertinggal.
"Aku sudah berusaha, tapi gagal lalu aku harus bagaimana?" tanya Isel dengan mata terbuka sebelah.
"Menikah secara terpaksa menyakitkan Sel," ujar Aira memberikan nasihat agar Isel tidak masuk ke dalam cinta yang menyesatkan.
"Kak Ai, apa aku salah mencintai Uncle, salahnya Isel di mana?"
Kepala Aira menggeleng, memang tidak salah namun kasihan Dean karena harus menikah dengan wanita yang tidak dicintai.
Aira tahu rasanya memaksa diri sendiri, tidak ingin Dean dan Isel terluka lebih baik berhenti dari awal.
"Kak Ai lihat ini, pernikahan ini untuk melindungi Uncle. Benar, Isel sangat mencintai dia, tapi jika satu tahun ke depan Uncle tidak bahagia maka Isel siap mundur. Apa Kak Ai pikir aku bisa menyakiti dia, biarkan orang membenci aku Kak, tapi Isel tidak rela jika lelaki yang aku cintai jatuh ke tangan orang yang salah." Isel menujukkan rekaman saat Hairin mengikuti Dean sampai ke hotel, dia juga sengaja menggunakan nama Yandi agar bisa bertemu Dean.
Sehebat apapun Dean menghindar, dia tidak akan mudah lolos jika keluarga Yandi meminta Dean bertanggung jawab dengan sesuatu yang di manipulasi oleh Hairin.
"Menikahlah Sel, aku setuju. Hairin sialan, kita juga tidak bisa menjatuhkan dia karena hubungan baik keluarga. Maka kamu harus secepatnya menikah agar bisa terus bersama Dean." Ai berbalik haluan mendukung Isel, dia bisa membantu Isel agar pernikahan di percepat.
Tawa Isel terdengar, Aira tenyata masih menyimpan dendam kepada Hairin, apalagi dia mengejar Dean sampai keluar negeri.
"Bagaimana hasil rapat keluarga?"
"Keluarga merestui, tapi Mommy Anggun minta jika satu dua tahun kalian tidak bahagia selama dia masih hidup, kalian harus pisah." Ai yakin seluruh orang sepakat.
"Isel tidak mau cerai," ucap Isel ingin menangis.
"Bodoh, menikah dulu baru memikirkan cerai." Ai memukuli Isel yang sudah tertawa merasa sangat bahagia karena akhirnya dia akan berjuang menaklukan suami.
Ai yakin Isel memiliki pikiran buruk, kasihan Dean yang pasti akan dipeluk dicium sesuka hatinya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira