SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
CALON TAMU


__ADS_3

Senyuman kecil Helen terlihat, tidak bisa berkata-kata lagi karena isel langsung bicara pada inti masalah kedatangan mereka.


"Maaf Sel, Aunty sudah tidak mampu mengendalikannya, begitupun dengan Uncle. Lakukan apa yang menurut kamu baik juga tidak mempermalukan nama baik kita semua." Helen hanya memberikan peringatan jika ingin melakukan sesuatu tidak melibatkan keluarga karena mereka kepercayaan masyarakat tidak baik jika keluarga tidak harmonis.


Senyuman Isel terlihat, tidak ingin menimpali hanya ada rasa kasihan kepada Helen yang pastinya sangat menyayangi putrinya, tapi tidak mampu menggenggamnya.


Ai dan Isel pamit, tidak tega jika terus menyalahkan ketua orangtua Hairin karena tidak ada orangtua yang ingin anaknya keluarga jalur.


"Sel, kamu tega sekali bicara begitu kepada Aunty?" Ai memukul lengan Isel.


"Harus bagaimana lagi, aku tidak punya pilihan?" Isel saja kesal melihat Irin, apalagi orangtuanya yang sudah kecewa.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?"


"Haruskah kita ke lapangan tembak, aku ingin menguji kemampuan menembak aku yang sudah cukup lama tidk terasa, siapa tahu aku bisa menembak kepala Hairin," ujar Isel yang membuat Aura bahagia.


Kedua tangan Aura tergempal sangat menyukai kawasan menembak sehingga Aira selalu membawanya untuk bermain di lapangan tembak.


Dari jauh Isel melihat Dean ada di lapangan mengarahkan senjatanya tepat sasaran, bukan hanya Dean ada Mora dan Mira yang juga sudah ahli menembak.


"Inilah awal aku jatuh cinta padanya, Uncle terlihat keren sekali juga tampan." Isel melangkah ke lapangan bersama Aira yang mendorong kereta putrinya.


Teriakan Aura terdengar sangat menyukai senjata, Dean tersenyum saat mendengar suara Aura yang sudah sejak kecil menyukai senjata mengikuti jejak kakeknya.


"Asmara Aura, kamu ingin memegang ini?" Dean mengeluarkan peluru menyerahkan kepada Aura yang langsung memeluk senjata kesukaannya.


Suara tepuk tangan terdengar saat Isel melepaskan tembakan, Mora langsung berlari ke lapangan meletakkan apel di atas kepalanya meminta Isel menembaknya.


"Mira boleh ikut tidak Aunty?"


"Belum, kamu bisa melakukanya lima tahun lagi," ucap Isel yang sudah melepaskan tembakan tepat mengenai apel di atas kepala Mora.


Kedua tangan Mora bertepuk, meminta Isel yang berdiri menggantikan dirinya. Mora juga akan melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Tidak, bagaimana jika kamu menembak kepala aku?"Isel menggeleng karena ddia ingin menikah bukan mati.


Mira langsung lari, berdiri tegap, Mora mengarahkan senjata membuat Isel deg-degan begitupun dengan Aira yang belum pernah bisa melakukanya.


Suara tembakan terdengar, buah langsung jatuh hingga pecah. Ai tergagap kagum karena anak remaja yang terkenal ketua geng di sekolahnya bisa mengendalikan senjata.


"Mira bisa juga melakukanya?' tanya Ai penasaran.


"Lupa jika aku anaknya Genta Leondra?" tanya balik Mira sombong.


Tiga susun buah apel tepat di attas kepala Mora, Isel langsung berjalan ke tengah lapangan berdiri tepat di depan Mora berdiri sejajar agar Mora aman.


Senyuman Dean terlihat karena dia tahu segitu baiknya seorang Ghiselin kepada keponakannya.


Tiga kali tembakan lepas, buah apel atas kepala Mora jatuh semua, Isel tersenyum menyentuh rambutnya yang terkena peluru.


Semuanya bertepuk tangan kagum, Isel juga memberikan jempolnya karena Mira memang ahlinya dalam menembak.


Dean tidak terkejut sama sekali lebih khawatir jika Isel yang akan mencelakai Hairin karena tidak ada sejarahnya Isel diam saja disakiti.


"Isel akan menemui Hairin?"


"Dia langsung menemui orangtua Hairin untuk meminta izin jika terjadi sesuatu kepada Hairin berharap tidak merusak hubungan baik kita," ujar Aira meminta Dean tidak menunda pernikahan sedikit lebih lama.


"Kenapa kalian semua setuju aku menikahi Isel, tidak ada khawatir sama sekali?" Dean yang takut jika dirinya tida mampu menjaga rumah tangganya.


"Ayang Angga berkata seperti ini, dia tahu Isel wanita yang keras, tapi hatinya sangat lembut dan penuh kasih sayang. Ada waktu dan tempat dirinya begitu dewasa menyingkapi masalah." Ai awalnya tidak percaya karena mereka kenal Isel sejak kecil dan tahu betapa buruknya karakter Isel, tapi orang baru seperti Angga paham dia dan sangat mengerti.


Beberapa waktu bersama Isel tanpa bertengkar dan beriringan secara dewasa ucapan Angga benar, Aira membuktikan sendiri saat Isel yang biasanya akan melayangkan pukulan kepada siapapun, tapi tidak kepada orang lemah apalagi orang yang pernah ada dalam bagian hidupnya.


"Orang lain boleh menyakitinya, tapi Isel tidak merenggut kesempatan dari orang yang menyakitinya. Jangankan menuntut, pukulan tangan Isel juga tidak melayang, hanya saja orang yang menyakitinya kehilangan kesempatan berhubungan baik." Ai pikir Isel sangat dewasa hanya karena mereka saling kenal sehingga hanya tahu buruknya saja.


Senyuman Dean terlihat, berharap dirinya suatu hari bisa menyadari apa yang istimewa dari Isel.

__ADS_1


"Menikahlah dengan bahagia Dean, meskipun ini sangat membingungkan hanya kamu lelaki terbaik untuknya," ucap Aira tulus berharap kebahagiaan untuk kedua adiknya.


Kepala Dean mengangguk, Dean sudah menerima meskipun masih membutuhkan waktu untuk mengubah perasaan dan cara berpikirnya soal Isel.


"Uncle, undangan sudah disebar, tapi kenapa Isel tidak punya undangannya?"


"Aunty pengantinnya, bego," balas Mora sambil geleng-geleng.


"Aku tahu itu, Isel juga punya teman. Kenapa teman Isel tidak ada yang di undang?"


"Teman Aunty nakal semua dan suka mabuk, di pesta tidak ada minuman keras adanya minuman gas." Mira langsung berlari sebelum sebelum Isel mengamuk kepadanya.


Bibir Isel cemberut langsung berjalan ingin pulang melakukan protes kepada Mommy Anggun dan Diana yang memilih tamu khusus untuk pestanya.


"Sel kamu ikut Uncle, kita masih ada fitting baju terakhir." Dean pamit kepada Aira yang sudah dijemput suaminya.


Hentakan kaki Isel terdengar, dia tidak butuh baju paling penting bagi Isel undangannya karena teman-temannya juga harus menjadi tamu kehormatan.


Di dalam mobil, Isel masih membahas soal undangan yang tidak sampai kepadanya padahal Isel sangat berharap.


"Kamu baru saja dikhianati teman, bagaimana bisa kita memberikan tempat untuk orang asing mengenal keluarga kita?" Dean tidak setuju karena dalam pertemanan tetap saja ada pengkhianat.


"Kenapa teman Uncle boleh, sedangkan Isel tidak?"


"Boleh saja teman kamu datang, tapi harus teman kerja," ucap Dean menatap tajam tidak menerima protes Isel.


Kening Isel berkerut karena teman kerjanya hampir orang gila semua, senyuman jahil Isel terlihat akan membuat kegaduhan dengan kedatangan satu rumah sakit jiwa untuk makan gratis karena rekan kerja Isel hampir rata-rata gila.


Senyuman Isel terlihat membuat Dean khawatir, tidak paham rencana apa yaang sedang Iseel buat untu membuat Dean jantungan.


"Isel akan mengundang teman kerja," ucap Isel sambil tersenyum.


***

__ADS_1


__ADS_2