SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
CUCU BARU *


__ADS_3

Di rumah diadakan penyambutan untuk dua boy yang baru saja lahir di tengah malam, kelahiran keduanya sangat spesial karena bersamaan dengan lahirnya Ayahnya juga Aunty dan Uncle.


"Alhamdulillah menambah lagi personil." Mommy Anggun dan Aliya menggendong bayi yang mendapatkan banyak kado atas kelahirannya.


"Nenda Aliya, Ajun punya tidak kadonya?"


"Kamu sudah tua Ajun, ini khusus untu bayi," jawab Aliya menatap si kecil yang sangat penasaran dengan tumpukan kado.


"Ajun masih kecil Nenda, waktu Ajun lahir tidak ada kado." Wajah cemberut juga kesal terlihat, memicingkan matanya sinis.


"Ada Jun, kamu saja yang lupa. Ingat, tidak boleh iri, dosa," ucap Aliya menenangkan Ajun yang sedang marah.


"Mana, ajun tidak ingat, Nenda bohong. Pelit sama Ajun, dedek bayi ada kadonya, tapi Ajun tidak ada." Kasur bayi diinjak-injak lalu dibuang jauh.


Aliya hanya melihat Ajun mengamuk hanya bisa terdiam, tidak mungkin Ajun ingat hadiah dia waktu bayi.


Ada banyak makanan di dalam rumah, ada beberapa menu kesukaan Juan dan Aira juga Dean yang disediakan untuk perayaan ulang tahun ketiganya.


"Mi, sudah ada kado untuk Aira, dia sudah minta di rumah sakit." Juan memeluk Maminya dari belakang.


"Buat Aira ada, buat Juan juga ada, tapi sekarang hadiahnya jatuh kepada istri kamu." Mami mengecup kening putranya yang sangat dicintainya.


Suara berlari terlihat, menarik Juan meminta kado untuk Aira sebelum mereka bertemu. Bisa mengamuk Ai jika kadonya belum disediakan.


"Kak, punya Dean mana?"


"Aku belum sempat membelinya Dean, salah kamu sendiri setiap tahun aku yang membayar atas nama kamu." Juan memukul kepala Dean yang belum juga berubah.


"Dean lupa, seharusnya Kak Juan ingat, habislah aku jika Aira selesai makan terus masuk." Tatapan mata Dean tidak berkedip langsung melamun.


"Dean, ini punya kamu, Juan juga punya dan berikan ini pada Aira." Angga memberikan tiga paper bag.


Dean langsung mengambil dua paper bag, berlutut sampai sujud syukur karena dirinya tidak terkena amukan Aira jika bertanya di mana hadiahnya.


"Uncle, Ajun juga mau," pinta Ajun dengan wajah memelas.


"Memangnya tugas Ajun sudah selesai? Uncle tidak memberikan hadiah secara cuma-cuma." Angga mengusap kepala Ajun yang sangat mirip Kakaknya Mira sangat menyukai hadiah meksipun hanya satu permen.


Melihat wajah sedih Ajun akhirnya Angga mengeluarkan dompetnya, mengambil plester yang dia letakkan di dalam dompet.

__ADS_1


Plester di berikan membuat senyuman Ajun sangat lebar, cepat dia berlari pamer kepada Vino yang juga menginginkan hadiah yang sama.


Di halaman depan Aira asik makan bersama Isel yang juga makan dengan lahap, tidak memperdulikan sekitar mereka.


Mira dan Mora juga datang membawa semangkok makanan hangat, meletakkan di atas meja mengibas tangannya yang kepanasan.


"Panas sekali, tapi ini enak." Mira meniup kuah makanannya, mengunyah perlahan.


"Enak ya Mira, ini makanan kesukaan Mora. Namanya kuah bakso." Mora mengunyah ondel kesukaannya.


Belum habis satu makanan, Mira sudah pergi lagi mencari makanan yang lain sampai satu meja penuh begitupun dengan Mora yang membawa banyak minuman.


"Kalian berdua ini serakah sekali, meja sampai penuh belum satupun yang kosong." Isel membantu menghabiskan makanan di atas meja.


"Isel! kamu rakus sekali." Mira memukul kepala Isel yang mengambil miliknya.


Tawa Isel terdengar, meminta Mira mengambil buah untuk cuci mulut. Cepat kedua bocah kecil bergegas untuk mengambil buah-buahan.


"Sel, kamu sudah melihat berita belum?"


"Iya sudah, aku sudah meretas puluhan akun agar berhenti menyebarkan gosip, namun masih saja tidak terkendalikan." Mata Isel melirik ke arah Aira yang tertawa Kecil.


"Kak Ai mengenal Wenda?"


Kepala Aira menggeleng, dia tidak tahu dan tidak pernah bertemu langsung namun Aira tahu jika dia dan Angga dulunya memiliki hubungan yang sangat baik.


Ai tidak takut jika Wenda hanya menumpang tenar, namun takutnya Wenda ingin naik puncak dengan dikasihani sehingga menjatuhkan orang lain.


"Dia akan mempublikasikan masa lalu Kak Angga, pasti alasannya mensuppor, tapi nyatanya dia mengungkap hanya untuk dikasihani?" Isel mengambil ponselnya, melihat berita terbaru yang memang masih penuh dengan berita Wenda.


"Bagaimana jika aku yang mengungkap hubungan dengan Angga? kita sudah mengenal sejak lama, bahkan sebelum Angga menjadi aktris." Senyuman Aira terlihat menunjukkan beberapa foto masa remaja Angga, Aira dan Anggrek.


Aira sempat bermasalah bersama Angga saat mereka remaja karena kecelakaan yang menimpa Aira dan Anggrek.


Tangan Isel bergerak cepat, sebelum Wenda berulah Aira akan mengkonfirmasi jika hubungan keduanya sudah jauh ke lebih lama.


"Bertengkar dengan publik tidak ada akhirnya Kak, apa kak Aira tidak lelah?" Gion ikut duduk setelah meletakkan makanan Mora dan Mira.


"Tidak ada yang bertengkar Gion," ucap Ai meyakinkan.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan serangan kalian, semakin Kak Aira menantang maka maka namanya akan terus dibicarakan." Lirikan mata Gion tajam, menurutnya Aira tidak harus pusing, cukup percaya kepada Angga maka semuanya akan baik.


Jika Aira bertindak semena-mena maka dia akan akan kesulitan sendiri karena membuat berita Angga dan teman lamanya layaknya pasangan kekasih.


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Temui saja wanita itu, lihat secara langsung wataknya maka Kak Ai pasti tahu apa yang harus dilakukan." Gion beranjak pergi dari duduknya.


"Kita temuin dia besok, Isel akan kembali dua hari lagi dan kita akan bertemu kembali tahun depan. Sebelum Isel pergi lama, kita bereskan dia." Senyuman licik Isel terlihat yang langsung disambut senyuman licik Aira.


Dua anak kecil duduk kembali, menyerahkan makanan mereka lanjut menikmati betapa enaknya makanan.


"Kak Isel kapan pulang lagi?" Mora memperhatikan Isel.


"Pergi juga belum sudah ditanya kapan balik lagi?"


Mora menatap mata Isel, dia memiliki sikap yang sangat peka dan tahu apa yang sedang ada dalam pikiran dua wanita yang memiliki rencana busuk.


"Kakak Isel pulang tahun depannya lagi, katanya akan menikah?"


"Tahu dari mana kamu Mira?"


Tawa Mira terdengar, dia sengaja menguping pembicaraan Isel dan Papanya apalagi soal penawaran harus mengalami Ghiandra.


Pengumuman untuk pemberian nama bayi terdengar, Aira langsung berlari ke dalam diikuti oleh Isel, Mira dan Mora.


Mata Mora melirik Dean dan Isel, senyumannya terlihat karena tahu jika keduanya memiliki hubungan lain.


"Bayi pertama bernama Andri Andara Rahendra, sedangkan Adiknya bernama Andra Andrea Rahendra." Papi Altha mengumumkan dua cucunya yang paling kecil.


Keluarga Rahendra memiliki delapan cucu, dari Arjuna m, Almira, Al Hasan, dan Ajun sedangkan dari Atika Almora, Al Husein dan Alvino. Ditambah anggota baru Andri dan Andra.


"Tahun depan Kak Aira menyusul namanya Meisya Anggara Dirgantara." Mora tersenyum menatap Ai.


"Kenapa perempuan?" Ai menatap Mira dan Mora yang nakal jika anaknya perempuan sungguh bahaya.


"Amin," balas Angga berharap doa Mora terkabulkan.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2