SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
TIDAK ADA RASA


__ADS_3

Melihat Isel meringis kesakitan setelah kalah bertarung dari Shin hanya bisa berjalan pelan pulang ke rumah.


Pandangan Isel melihat ke arah mobil yang berhenti tepat di depan rumah, seorang pria keluar namun tidak melihat ke arahnya.


Dean masih menatap berkas yang ada di tangannya, melangkah pergi ke rumahnya karena ada barang yang ingin diambil.


Aira sudah kembali ke rumahnya,Isel duduk di bawah pohon menatap ke arah langit yang sudah berwarna kemerahan pertanda siang akan berganti malam.


Suara mobil melaju pergi kembali terdengar, tidak membuyarkan konsentrasi Isel yang masih memikirkan soal Hairin.


"Apa yang kamu lakukan di sini, sudah mulai gelap cepat pulang ke rumah." Dean kaget melihat bibir Isel pecah, pipinya biru.


Wajah Isel disentuh, Dean tidak bisa berkat-kata lagi melihat wajah Isel babak belur.


"Siapa yang melakukannya? Usia kamu berapa Sel, apa masih pantas bertarung di usia setua ini?" Kemarahan Dean terdengar, tidak terima wajah keponakannya terluka.


Tidak ada jawaban dari Isel, dia masih saja diam meskipun Dean memaksanya untuk bicara.


"Ayo pulang." Dean jongkok menepuk pundaknya meminta Isel naik.


Senyuman Isel terlihat, langsung melingkarkan tangannya di leher Dean berjalan pulang bersama-sama.


Dari lantai atas rumahnya, Angga melihat Adiknya dan Isel yang saling peduli dan menjaga.


Dean sudah melaju pergi, tapi saat melihat Isel duduk sendirian tidak ada pekerjaan yang penting selain menemuinya.


'Hidup memang serumit itu, berlarian dan menghindar sekuat apapun jika yang maha kuasa berkehendak maka bisa apa?"


"Ayang, hari ini baby bangun.Aira bisa merasakan pergerakannya." Senyuman Aira terlihat memeluk erat suaminya yang bahagia mendengarnya.


"Alhamdullilah, sehat terus sayang. Jadi anak baik," ujar Angga dengan senyuman terlepasnya.


Kepala Aira menggeleng, dia tidak percaya jika anaknya sangat baik, Ai yakin anaknya mungkin nakal.


"Apapun kita syukuri, tugas kita sebagai orang tua mengajarkan hal baik kepadanya." Angga merangkul istrinya untuk kembali ke kamar.


Suara tawa Angga dan Aira terdengar, bercanda bersama mengisi waktu sebelum waktunya tidur.

__ADS_1


Panggilan dari Dean terlihat meminta Kakaknya pulang sebentar karena ada sesuatu yang ingin dibicarakannya.


"Sayang, ayo kita ke rumah Mommy sebentar." Angga turun dari ranjang beranjak ingin pergi.


"Ayo Ayang." Ai berdiri di pinggir ranjang ingin lompat, saat melihat wajah suaminya langsung diurungkan.


Ai turun perlahan, mengikuti suaminya ke rumah mertuanya. Angga langsung masuk ke kamar Dean yang penuh buku, tapi terasa sangat nyaman.


"Kenapa kamu meminta Kakak datang?" Angga menatap punggung Adiknya yang sedang melamun.


"Kak,aku memiliki banyak pekerjaan, bisa tidak bantu Dean agar Kak Angga yaang menemani Daddy dalam acara di keluarganya Uncle Yandi soalnya Dean tidak nyaman jika Daddy ada di sana tanpa salah satu anaknya." Dean sudah meminta Diana namun dia ada operasi dadakan, sedangkan Altha pergi bersama Aliya, tapi akan terlambat.


"Ada seseorang yang kamu hindari, ada apa?"


Kepala Dean menggeleng, tidak ingin angkat bicara karena tidak terlalu penting. Dean hanya tidak bisa pergi.


Kening Angga berkerut, duduk di atas meja. Angga sudah puluhan tahun berada di dunia peran dia tahu ekspresi adiknya yang tidak begitu baik.


"Bekerja bagus Dean, tapi ada batasannya. Kamu sedang menghindari seseorang?" tanya Angga sambil tersenyum lebar.


Kepala Angga mengangguk, dia akan datang bersama Daddy dan Mommy ke pesta, Dean tidak harus khawatir tidak akan ada pembicaraan soal perjodohan.


Senyuman Den terlihat, langsung memeluk Kakaknya yang sangat pengertian juga paham apa yang Dean pikirkan. Bersandiwara di depan Angga hal yang mustahil karena dia bisa paham dari mimik wajah.


Angga meminta Dean duduk,dia bukan remaja lagi yang pubertas, tapi sudah menjadi pria dewasa juga wajib memiliki pendirian.


"Dek, soal masa depan kamu jangan main-main. Jangan karena kamu mapan sehingga memilih wanita sesuka hati kamu soal cinta belakangan, jangan Dean. Nikahi wanita yang membuat kamu nyaman, bukan menikah hanya untuk menutupi kekurangan dari pertanyaan banyak orang." Angga tahu jika Dean lebih mementingkan pekerjaan, tap tidak suka dengan pertanyaan banyak orang karena hanya dirinya yang belum menikah.


"Aku binggung Kak, sampai sat ini aku belum merasakan yang namanya tulusnya cinta. Dean belum waktunya menikah, ini terlalu cepat atau Dean terlambat?"


Tawa kecil Angga terlihat merasa lucu dengan tingkah adiknya yang tidak paham dengan perasaanya sendiri.


Pelukan Angga sangat lembut, tidak mengizinkan adik kesayangan salah memilih. Angga akan menjadi orang yang menentang jika Dean memilih menikah dengan seseorang yang hanya menjadi pernikahan bisnis.


"Kak Angga tahu kasus ini, bukanya ia seorang selebriti?" Dean akhirnya membahas kasus yang sedang dia tangani.


"Apa kasusnya?"

__ADS_1


"Korupsi dan penipuan," balas Dean menunjukkan hasil penyidikan kepolisian.


Kening Angga berkerut, Dean mengalihkan pembicaraan mereka. Pemuda pintar, sukses namun banyak menyimpan perasaanya,


"Dek, bagaiman soal Isel sekarang?"


"Kenapa Isel? Kak Angga lihat wajahnya, dia bertarung dengan Kak Shin sampai babak belur," ujar Dean yang kewalahan melihat tingkah Isel.


"Dia pasti sedang melakukan sehingga latihan bersama Kak Shin, jangan menilainya hanya sekedar anak nakal. Kak Angga tahu kamu satu-satunya yang memahaminya." Kepala Angga langsung menoleh ke arah suara.


Dean sudah lari lebih dulu, melihat Isel yang bertengkar dengan Aira hanya karena emas batangan yang perlahan terkikis oleh Ai yang mencurinya.


"Sel, jangan kasar." Dean merangkul Aira membuat Isel semakin marah.


"Dia yang mulai duluan, tidak menggunakan akal sehatnya. Aku mencari tiap batang dan dia yang mengikis ranjang." Isel mengambil kembali tiap emasnya.


Tangisan Aira terdengar, meminta emasnya untuk dikembalikan. Akai tarik terlihat, keduanya tidak ada yang ingin mengalah.


"Aira berhenti, itu memang milik Isel<" teriak Angga meminta istrinya berhenti.


Tangisan Isel juga terdengar, memukuli Aira yang dipeluk oleh Angga. Isel melempar emas batangan ke arah Angga, tapi Dean melindunginya sampai emas tepat jatuh di kepala Dean.


"Uncle, kepala Uncle bocor." Isel menujuk darah yang mengalir.


"Ya allah, inilah alasan aku malas pulang ke rumah tidak mungkin bisa konsentrasi ujungnya pecah kepala." Dean menyentuh darah yang mengalir di keningnya.


Tawa Aira terdengar merasa lucu melihat Dean yang hampir pingsan menahan sakit. Isel sudah panik menutupi luka begitupun dengan Angga yaang cemas melihat adiknya terluka.


"Uncle, maafkan Isel ini hanya luka kecil belum keluar otak." Isel sangat yakin lemparannya pelan.


"Jika otak aku keluar pasti mati Isel, kamu tega?" Dean menepis tangan Isel, dia harus pergi ke apartemennya karena tidak sanggup berlama-lama di rumah.


***


follow Ig Vhiaazaira


Tamat akhir bulan, kita lanjut kisah Isel

__ADS_1


__ADS_2