
Tubuh Juan didorong, Aira meletakkan telinganya di dada Lea. Kedua tangan Aira memompa jantung mengembalikan detak.
"Minggir!" Juan mengambil alih memompa jantung Lea, Aira meminta secepatnya ambulans datang.
"Kamu tidak boleh mati sekarang Lea, tidak boleh!" Ai memanggil Lea dengan suara yang sangat kencang.
Darah di kepala Juan menetes di wajah Lea, teriakan Juan terdengar merasakan detak jantung Lea kembali, dan Juan jatuh pingsan.
Gemal menggendong Lea, tidak ada waktu bagi mereka menunggu mobil. Ai langsung mengikuti Gemal untuk menuju rumah sakit.
Perasaan Ai tidak enak sejak Lea memutuskan pergi sendiri, melacak keberadaannya saat tiba keadaan sudah tergeletak.
"Imel memang gila, dia sangat berbahaya Ai." Gemal menatap Aira yang menggenggam tangan Lea.
"Ya Uncle, dia memang sangat berbahaya. Seharusnya Ai menyadari ini sejak awal. Kita hanya fokus jika keluarga Taher yang jahat, tapi ternyata Imel yang paling berbahaya." Ai mengusap wajah Lea yang penuh darah, hanya maaf yang bisa Aira katakan karena gagal melindungi sahabatnya.
Napas Lea semakin kecil, Ai hanya bisa memohon agar Lea bertahan setidaknya sampai mereka tiba di rumah sakit.
Beberapa dokter sudah menunggu, Diana sudah berada di ruangan rawat Dean. Sedangkan Juna menyambut Lea yang dalam keadaan kritis.
"Kak, napasnya,"
"Diamlah, jangan menangis." Juna memasangkan alat, meminta perawatan ke ruangan yang sudah Juna minta disiapkan.
Tidak berapa lama satu mobil lagi datang membawa Juan, dokter langsung menyambutnya untuk dilarikan ke ruangan rawat.
Aira terduduk lemas, tidak peduli jika ada yang mengenalinya. Mood Ai sedang jelek ingin rasanya dia mencabut nyawa orang.
Ai menghubungi Gilang untuk membawa Black ke rumah sakit tanpa mengatakan apa yang terjadi.
"Aira, apa yang kamu lakukan di sini?" Black berada di rumah sakit sedang mengecek kondisinya.
"Kakak Hitam." Aira langsung berdiri memeluk Black erat. Tangisan Aira langsung pecah di dalam dekapan pria yang membuatnya merasakan kenyamanan.
Mendengar cerita Aira membuat dada Black terasa sesak, perasaannya sakit mengetahui jika Lea dalam keadaan kritis bukan hanya Lea, tapi Juan dan Dean juga menjadi korbannya.
"Kamu baik-baik saja, tidak ada luka." Black terlihat sangat mencemaskan Aira yang ada bercak darahnya.
__ADS_1
"Ai baik-baik saja,"
Kepala Blackat mengangguk, langsung memeluk Aira kembali. Dia tidak ingin wanita yang dicintainya tersakiti, meksipun perasaan Black tidak akan pernah bisa dia utarakan.
Pintu ruangan Dean terbuka, Diana berlari ke ruangan Juna. Kondisi Lea pendarahan hebat, dan membutuhkan banyak darah.
"Aira, bagaimana keadaan Dean?" Mommy Anggun memegang kedua tangan Aira.
Pintu ruangan rawat terbuka, Dean berjalan keluar dalam keadaan infus masih di tangan. Pikiran Dean masih memikirkan Imel yang melarikan diri.
"Mom, apa penjahatnya sudah tertangkap?" Dean berjalan tertatih.
Black membantu Dean untuk duduk, melihat banyaknya bekas luka. Kepala Dean juga dibalut kain karena mengalami benturan cukup kuat.
Tangan Dean menggenggam jemari Aira yang masih menunggu kabar kakaknya juga Lea, tatapan mata Ai menunjukkan kesedihan menatap tangan Dean yang menenangkannya.
Perlahan tangan dilepaskan, Aira memilih menggenggam tangan Black yang duduk di sampingnya.
Anggun memperhatikan hubungan tiga orang yang bertentangan, Anggun tahu Black juga mencintai Aira dan begitupun sebaliknya.
"Bagaimana keadaan kamu Dean? kenapa keluar dari kamar rawat?" suara lembut Mommy terdengar mengusap kepala Putranya.
Lama belum ada tanda-tanda Dokter keluar, baik Juan maupun Lea belum menunjukkan perkembangan apapun.
Suara high heels Aliya dan Atika terdengar, keduanya baru mendapatkan kabar jika Juan mengalami kecelakaan.
"Siapa yang melukai adikku? serahkan rekamnya Dean?" tangan Tika terulur meminta melihat siapa pelakunya.
"Dean tidak memilikinya, Kak Gemal yang menyusut kasus ini,"
"Ternyata ini kejahatan kelas berat, apa ada sangkut-pautnya dengan keluarga Taher?"
"Ini pasti perbuatan Imel, dia mencelakai putraku." Aliya menatap tajam ke arah ruangan yang terbuka.
Suara Juan berteriak terdengar, memaksa diri untuk keluar karena dia harus melihat Lea. Aliya langsung melangkah masuk menatap putranya yang penuh luka.
Aira dan Tika sama kagetnya melihat kondisi Juan yang ternyata sangat parah, tulang juga mengalami keretakan.
__ADS_1
"Ya Allah wajah tampan adikku hancur, wanita ini mencari mati." Tika memegang wajah Juan yang penuh luka.
Satu mata Juan tertutup karena cedera di wajahnya, tulang rusuk mengalami keretakan. Pergelangan tangan Juan juga patah.
Ai menutup mulutnya, dia tidak menyadari jika kondisi kakaknya sangat buruk. Demi Lea, Juan tidak merasakan sakit tubuhnya yang juga mengalami luka parah.
"Mami, bagaimana dengan Lea Mi? dia tidak boleh pergi seperti ini Mi." Kepala Juan menggeleng, memaksa untuk melihat ke ruangan Lea.
"Mencintai boleh Nak, tapi tidak boleh berlebihan. Kamu akan terluka jika terlalu mencintai,"
"Aku mencintai dia Mami, pikiran aku tidak bisa terkontrol apalagi hati aku." Air mata Juan menetes menatap Maminya yang juga meneteskan air mata.
Diana melangkah meminta Juan tetap berada di ranjangnya, percuma dia melihat Lea langsung karena tidak bisa melakukan apapun.
"Ini kondisi dia, membiarkan dia hidup berarti menyiksanya." Di menunjukkan foto Lea yang kritis dan dinyatakan koma.
"Dicek lagi Aunty, Lea bisa bangun lagi. Juan mohon lakukan sekali lagi,"
"Apa ini yang kamu pelajari dalam medis? kita bukan tuhan Juan untuk memaksa sesuatu." Suara dingin Juna terdengar, menatap kodisi adik lelakinya.
Mata Juan terpejam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Hatinya hancur, dan sakitnya membuatnya merasa hidup tidak berguna.
Juan menjelaskan kondisi Lea kepada Black, dia kemungkinan sulit bertahan dalam hitungan hari. Juna sudah melakukan yang terbaik, tapi hidup dan mati tidak bisa Juna janjikan.
Tangan Black gemetaran, tidak ada harapan bagi adiknya karena benturan kuat dibagian dada, dan kepalanya menbuat beberapa organ tubuh bagian dalam mengalami cedera.
"Pasti bisa bangun, aku juga bisa bertahan dengan peluru yang pernah tertanam di dada. Juna, aku tidak tahu sampai kapan kehidupan? tapi Lea memiliki mimpi yang besar, dia ingin memiliki keluarga bahagia karena selama hidupnya tidak merasakan keluarga yang utuh." Black tahu dia tidak berhak memaksa takdir, tapi dirinya ingin egois untuk tidak menyerah menyelamatkan Adiknya.
Harapan tulus Lea hanya bisa Black aminkan. Setelah kehilangan seluruh keluarganya, Lea masih memiliki impian memiliki keluarga sendiri.
"Pasti bisa bangun, Lea akan bangun karena dia ingin mengejar apa yang diimpikan. Tolong jangan menyerahkan Kak Juna, Black memohon sebagai keluarga." Air mata Black menetes tidak tertahankan.
Pintu ruangan Lea terbuka, seorang pemuda masuk membuka kacamata melihat catatan kondisi pasien.
"Kakak tidak punya harapan hidup, tapi Ian ingin Kakak bangun agar Ian bisa meminta maaf karena bersikap lancang dan tidak sopan." Senyuman Ian terlihat, menyuntikan sesuatu ke infus Lea.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira