
Tangan Isel meremas kebaya yang dia kenakan, beranjak dari duduknya untuk menemui Angga yang ada di tempat makanan.
"Ingin pergi ke mana?" Dean menatap Isel yang berdiri, langsung duduk lagi.
"Hanya membenarkan baju," jawab Isel berusaha untuk tenang.
Dean duduk di samping Isel, menatap fokus ke depan yang hanya sisa beberapa menit lagi akan ada acara lamaran. Di depan tamu yang berdatangan Dean dan Aira akan saling mengikat.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Isel, dia hanya duduk diam menatap tajam ke depan.
"Kepala Dean dan Isel menoleh secara bersamaan melihat Lea dan Juan berjalan bersama untuk naik pelaminan.
Gaun mewah yang Lea kenakan membuat senyuman Isel terlihat, dia juga ingin segera menikah. Merasakan gaun mewah seperti seorang ratu yang menjadi pusat perhatian.
"Cantik, sangat cantik." Isel menatap ke depan kembali karena dia akan segera menyaksikan Dean dan Aira lamaran.
Dean tersenyum melihat Juan nampak bahagia menyambut para tamu yang mulai berdatangan. Jantung Dean berdetak cepat, tangannya mengusap pelan merasakan degup karena di depan banyak orang Dean akan melamar selebriti terkenal yang memiliki jutaan penggemar.
"Sel, kamu tidak ingin menenangkan Uncle?"
"Batalkan saja Uncle, hubungan kalian tidak akan bahagia. Isel mengatakan ini karena peduli kepada Uncle." Isel menatap wajah Dean dengan matanya yang tajam dan berkaca-kaca.
Kepala Dean tertunduk, beranjak pergi meninggalkan Isel tidak ingin mendengar ucapan Isel yang berusaha menghentikannya.
Air mata Isel menetes, dia sangat kecewa dengan Dean yang keras kepala. Biasanya Dean yang memiliki pemikiran paling logis, dewasa juga tidak pernah bertindak melewati batas.
Pertama kalinya Dean bersikap tidak peduli, dan tidak berpikir akhir dari perbuatannya bisa menyakiti banyak hati.
"Semakin dewasa seseorang, bertambah besar juga keegoisan. Kalian hanya akan menyakiti seseorang, dan terserah kalian saja." Isel mengusap air matanya langsung beranjak pergi tidak ingin melihat pertunangan yang membawa sakit.
Dari tempat yang berbeda, Mora memperhatikan Isel yang berbicara dengan Dean sampai menangis. Isel berjalan menarik tangan seorang pelayan diikuti oleh pelayan lain.
Mora berlari mengejar Isel, menatap Black yang ternyata menepati janjinya untuk kembali.
"Uncle, Mora kangen." Teriakan Mora terdengar langsung memeluk Angga.
"Almora, kenapa kamu di sini sayang?" Angga mengusap kepala Mora yang tersenyum lebar.
Ekspresi Isel sudah tidak bersahabat, matanya dan Mora bertemu. Hentakan kaki Isel terdengar langsung pergi tidak mengatakan apapun.
Kepala Isel geleng-geleng sudah pasrah jika sampai ketahuan, Isel tidak yakin mereka bisa lolos jika Mora sudah menemukan.
__ADS_1
"Kenapa anak ini sangat peka sama seperti Maminya." Isel menghidupkan ponselnya untuk mengecek keamanan.
Bukan hanya Mora yang menemui Angga, disusul oleh Mira dan Haidir yang terus membahas soal Angga.
Haidir menceritakan jika Black harus dirawat intensif, bahkan melakukan operasi besar yang sangat berbahaya.
"Uncle kucingnya kita sudah besar,"
"Sayang, jangan katakan kepada siapapun Uncle di sini." Angga menatap si kembar dan Haidir yang menjadi penggemar Blackat.
Kepala tiga anak kecil mengangguk, berjanji tidak akan mengatakan kepada siapapun soal keberadaan Blackat yang menyamar menjadi pelayan.
Tangan Mora meminta Angga menunduk, mengusap dada Angga yang dulu sering sakit. Haidir menceritakan dada Angga dibelah.
"Uncle baik-baik saja? dada uncle sehat?"
"Iya sayang, Uncle sekarang sudah sehat. Semua ini berkat kalian." Angga pamit untuk pergi, membiarkan anak-anak berlarian pergi menemui orang tua mereka.
Tamu undangan semakin ramai, keluarga fokus menyambut tamu hanya Aira yang tidak muncul karena demi keamanannya dan tidak dikenali banyak orang.
Senyuman sepasang pengantin lebar, didampingi oleh Altha Aliya dan Dimas Anggun.
"Pi, kenapa perasaan Mami tidak enak?"
Suara gitar terdengar, semua pusat mata melihat ke atas panggung. Melihat Aira dengan gaun kebaya cantik, rambutnya disanggul rapi.
Wajahnya yang cantik terpancar sinar lampu, tepuk tangan dan sorak ramai tamu undangan terdengar.
Suara merdu Aira terdengar, bernyanyi dari hatinya. Senyuman lembut Aira terlihat, tapi matanya memancarkan kesedihan.
"Kenapa Aira muncul?" Dean merasa jantungnya semakin berdegup kencang menatap kedua orangtuanya.
Beberapa orang meneteskan air mata merasa terharu dengan lagu Ai untuk Blackat yang selalu trending setiap tahun mendekati hari kepergian Black.
Sudah dua tahun, lagi ciptaan Ai masih menusuk hati. Tidak ada satupun orang yang mengambil rekaman video demi menjaga privasi Aira.
Angga menatap wajah Aira yang sangat cantik, senyumannya menenangkan hati. Ai melangkah turun untuk ikut rebutan bunga.
"Kamu harus bahagia Ai, Dean lelaki paling tepat untuk membahagiakan kamu. Jujur aku kehilangan, tapi jalan kita terlalu rumit untuk bersama. Aku tidak ingin kamu melalui rasa sakit bersama aku." Air mata Angga terlihat, melihat bunga terlempar dan jatuh ditangan Dean yang sedang duduk.
Pertunangan akan diadakan secara kekeluargaan, tapi Aira sudah muncul secara publik.
__ADS_1
Senyuman seluruh keluarga terlihat, meminta Dean segera naik ke atas panggung bersama Aira.
Dean berdiri, mengulurkan tangannya. Ai langsung menyambut berjalan bersama Dean naik ke atas panggung.
Pengumuman dari MC acara terdengar, Aira dan Dean akan melangsungkan tunangan di depan banyak orang tanpa menyebutkan identitas keluarga Aira.
"Kenapa tangan kamu dingin?"
"Malu dilihat banyak orang," jawab Dean.
Sebenarnya Dean tidak malu, dia hanya merasakan kegelisahan dengan perasaannya yang tidak tenang.
Seseorang berjalan mendekat memberikan cincin pertunangan yang sudah disiapkan, Dean mengambil cincin, membukanya dan melihat betapa indahnya cincin yang menjadi pilihan kedua orangtua Dean.
Tepuk tangan banyak orang terdengar, Ai juga tersenyum meksipun hatinya sedang menangis. Ai menyembunyikan kesedihannya karena sepenuhnya akan melupakan Blackat.
Air mata Aliya menetes, meminta Altha menghentikan pertunangan karena Putrinya menahan kesedihan. Aira tidak mencintai Dean, dia masih menyimpan Black dihatinya.
"Papi, mereka berdua tidak akan bahagia,"
"Biarkan saja, mereka yang memilih saling menyakiti." Alt menatap mata Putrinya yang memang memaksakan diri bertarung dengan perasaannya.
MC meminta suasana tenang agar Aira bisa memasangkan cincin terlebih dahulu, dia tidak ingin Dean yang memulai.
Tangan Dean terulur, cincin terpaksa di jari manis Dean. Suara tepuk tangan meriah terdengar, menyambut bahagia Ai menemukan cinta sejatinya.
Langkah Angga mundur, sudah waktunya dia pergi dan menghilang selamanya. Air mata Isel juga menetes, melangkah pergi untuk segera meninggalkan pesta.
"Maafkan aku Aira, aku sayang kamu sebagai saudara." Dean melepaskan cincin yang dipasangkan oleh Ai.
Dean memeluk Aira lembut sambil tersenyum, Dean tidak ingin Aira terluka dan memaksa dirinya mencintai.
"Ai, kita lahir di hari yang sama, tumbuh dan besar bersama. Aku sangat menyayangi kamu melebihi rasa cinta, tapi perasaan cinta ini bukan untuk memaksa bersama. Aku ingin kamu bahagia Ai, kita bersaudara dan tidak boleh saling menyakiti." Pelukan Dean erat sangat memahami hati Aira yang hancur karena mencoba melupakan Blackat.
Tangisan Aira pecah, memeluk Dean dengan sangat erat. Menangis bersama karena cinta mereka hanya sebatas saudara.
"Inilah alasan Dean meminta maaf kepada kita karena akan ada hari dia mengecewakan." Anggun mengenggam tangan suaminya yang tersenyum melihat Putranya yang tulus melepaskan cintanya.
Tidak peduli ada tidaknya Black, mereka hanya akan menjadi saudara.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira