
Suara high heels menggema memasuki rumah sakit, jam jenguk sudah berakhir namun Weni masih berkunjung tanpa peduli jika tidak diizinkan masuk.
Sampai di ruangan yang dituju hanya diam di depan pintu, tidak tahu cara mengatakan turut bersedih.
Ketukan pintu terdengar, kenop pintu terbuka. Bian menatap ke arah pintu, melihat kaki yang menggunakan high heels tinggi, rok mini dan baju yang terlihat pusat.
"Selamat malam tuan Bian, aku datang tidak berencana melayani kamu hanya berkunjung atas keinginan Isel." Weni melangkah ke ranjang kamar melihat wanita yang sudah tiga hari tidak sadarkan diri.
Tangan Bian masih menggenggam erat, merasa puas selama tiga hari bisa mengutarakan isi hatinya meksipun tidak mendapatkan respon apapun.
"Terimakasih atas bantuannya, jika bukan kamu yang memberikan informasi pasti tidak akan berhasil." Bian tersenyum kecil menatap Mamanya.
Weni duduk di sofa, meletakkan makanan yang dibawanya. Menatap punggung Bian yang menolak meninggalkan Mamanya.
"Aku rasa kamu juga gila," gumam Weni membuat Bian menoleh.
Perlahan genggaman tangan terbuka, Bian melangkah mendekati Weni yang menatapnya sangat tajam.
Senyuman sinis dan jahat terlihat, kehidupan Bian hancur diawali oleh keluarga Weni. Dirinya tidak mungkin kehilangan Mamanya jika wanita keparat yang melahirkan Weni hadir.
"Aku ingin sekali melenyapkan kamu, tapi lebih bahagia melihat kamu tidak memiliki siapapun."
"Lakukanlah sesuka kamu, dari awal sudah aku katakan jika tidak peduli." Weni berbohong kepada Isel jika Bian yang melenyapkan keluarganya, tapi sebaliknya jika hidup Bian hancur karena perebutan harta.
Tawa Bian terdengar, Weni sudah mulai berani tidak menunjukkan rasa takut lagi. Berbeda dengan beberapa bulan yang lalu saat ketakutan ketika tahu kebenarannya.
"Aku ingin melihat kamu mati mengenaskan, sama seperti kondisi Mama saat ini," ancam Bian.
Kepala Weni mengangguk, dirinya sudah pasrah dan tidak peduli lagi dengan hidup dan matinya.
Kedatangannya bukan untuk menghibur, tapi mengantarkan nyawa untuk menembus kesalahan di masa lalu.
Makanan yang dibawa Weni dilempar sampai berhamburan, Bian memintanya memunguti dengan mulut.
"Lakukan perintahku." Tangan Weni ditarik, lalu dilempar ke lantai.
Tanpa peduli, Weni berdiri lagi langsung duduk di sofa. Tidak ingin mengikuti perintah Bian.
__ADS_1
"Aku tidak akan menjilat seperti anjing, tidak akan pernah. Lebih baik aku mati daripada terlihat rendah." Tatapan mata tajam masih berpendirian teguh.
Tawa Bian terdengar, sungguh unik wanita di sampingnya yang tidak bisa diperintah. Mati secara terhormat jauh lebih baik daripada memohon belas kasian.
"Kamu tidak ingin melakukannya?"
"Tidak akan," jawab Weni tenang.
Rambut langsung dijambak, kepala Weni didorong ke lantai. Cengkraman Weni kuat, menahan dirinya agar tidak terpancing emosi.
"Kenapa aku harus yang melakukannya, padahal aku tidak pernah memperlakukan ibu kamu begini. Jika ibuku yang salah maka cari dia di alam kubur, bukan mencari aku." Kepala Weni terbentur di lantai, Bian langsung berdiri melangkah ke arah Mamanya.
Di dalam hati Weni mengumpat Bian, berdiri kembali merapikan rambutnya yang tidak boleh berantakan.
"Mama dengar apa yang wanita itu katakan, haruskah aku mengirimnya ke alam kubur untuk menuntut ibunya?"
"Oh tidak perlu, aku akan mati lima puluh tahun lagi, mungkin keduluan kamu yang mati karena sudah tua." Weni menyisir rambutnya yang kusut.
Kepala Bian geleng-geleng, tidak heran Isel wanita sinting pertemanannya tidak kalah gila.
"Diamlah di sini," perintah Bian yang melangkah pergi untuk mencari udara segar karena terasa sesak melihat wajah Weni.
Pintu terbuka, Bian kaget melihat seseorang yang duduk di ruang tunggu. Kepala Dean terangkat menyerahkan bungkusan makanan.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Dean berjalan lebih dulu dari Bian yang memegang makanan.
"Kapan kamu datang?" Bian mengikuti langkah kaki jaksa muda yang masih berkeliaran meksipun tengah malam.
"Beberapa saat setelah Weni masuk, anggap saja aku tidak mendengar apapun." Dean pamit pulang karena anak istrinya menunggu.
Panggilan Bian terdengar, meminta Dean memberikannya sedikit waktu untuk mengobrol.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Tentu, turun ke taman." Dean dan Bian turun menggunakan lift. (namanya hampir sama, author salfok.)
Di taman Bian mengeluarkan minuman yang dibawa, meneguknya karena merasa stres melihat tingkah Weni.
__ADS_1
"Menghadapi wanita model dia harus ekstra sabar, tidak bisa kamu perlakuan dengan keras karena bisa menjadi batu." Dean sudah merasakan dengan mengatasi Isel sejak kecil, dia dari usia tiga tahun sudah suka pukul-pukulan, hingga dewasa sikapnya tidak berubah.
Isel pernah bercerita jika dirinya memiliki empat teman, tapi Dean tidak mengenal yang satunya. Saat masih muda, Isel bercerita ada temannya yang hidup sederhana, meminta Dean memberikan sejumlah uang setiap bulan, dan ada dua temannya yang kaya raya, namun tidak bahagia.
"Wanita sederhana itu Vio, aku memberikan beasiswa untuk Vio meksipun dia bodoh, padahal aku tidak akan tahu wajahnya. Isel meminta guru bela diri agar mengajari mereka bertarung sehingga ketiga temannya bisa menyelamatkan diri sendiri."
"Siapa yang paling keras?"
"Isel dan Weni, jika Isel terbentuk dari orang-orang hebat, sedangkan Weni terbentuk dengan mental yang kuat. Kamu tidak akan bisa menindas nya." Dean tahu dirinya tidak punya hak ikut campur, tapi ucapan Weni benar dirinya tidak salah.
Meksipun Bian sangat membenci Weni jangan salahkan dia, tapi masa lalunya karena dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Sejak dirinya lahir, kekacauan sudah terjadi.
"Kamu menyalahkan aku?"
"Tidak, aku hanya menasihati kamu agar tidak menyesal. Apa yang terjadi tidak perlu dibalas, tapi terima," ujar Dean yang meminta Bian menerima bukan menyalahkan.
Jika terus menyalakan hidupnya yang hancur, semakin Weni disakiti maka kenangan menyakitkan akan terus membekas.
"Memaafkan tidak mudah Bian, tapi gunakan logika. Jika kamu ada di posisi Weni, bagaimana kamu bertahan?" Dean meminta maaf jika dirinya banyak bicara hanya mencoba mengubah pola pikir.
Senyuman Bian terlihat, dirinya tidak tahu harus mengatakan apa, Dean memahami pikirannya yang merasa sangat terluka.
Setiap hari melihat Mamanya sungguh membuat hati hancur, tapi tidak ada yang bisa dirinya salahkan.
"Aku puas melihat dia tidak menangis."
"Dia menangis Bian, tapi tidak di depan kamu. Wanita mandiri bukan karena dirinya kuat, tapi mentalnya yang terguncang." Dean sangat yakin Weni sedang menangis, tapi Bian tidak perlu melihatnya.
"Kamu tahu dari mana? Apa Isel juga begitu?"
"Siapa yang berani membenturkan kepala Isel begitu, mati dia tanganku?" Dean menendang kaki Bian karena membuat kaget.
Membayangkan saja tidak mampu, apalagi melihat langsung. Jangankan Isel terbentur, lecet juga tidak boleh.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1