SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
KERJA SAMA


__ADS_3

Tatapan mata Isel dan Ai masih sama tajamnya, Lea yang ada ditengah keduanya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Saudara sepupu, memiliki sikap yang sama, namun sukanya berkelahi.


"Apa yang kamu temukan di perusahaan?"


"Putuskan dulu Blackat,"


"Kalian berdua tidak berhak atas Kak Black. Aku Adiknya, tanpa restu aku kalian berdua tidak ada yang bisa memilikinya." Mata Lea sinis merasa kehadirannya tidak dihargai.


"Sepertinya kita berdua harus bekerja sama menyingkirkan dia." Kedipan mata Isel terlihat meminta Aira ikut dengannya melenyapkan Lea agar tidak menjadi penghalang mendekati Blackat.


Tawa Aira terdengar, membenarkan ucapan Isel. Mereka tidak membutuhkan Lea, maka sudah waktunya untuk menyingkirkannya.


Bibir atas Lea terangkat, dia mengakui jika Aira dan Isel sama liciknya, tapi bukan berarti dia tidak bisa melawan karena tahu banyak kelemahan keduanya.


Jika Aira berani bermain dengannya, maka identitas keluarga Rahendra akan segera terpublikasi. Dan Ai akan kehilangan pekerjaannya karena pernjanjian dengan Maminya tidak boleh sedikitpun nama keluarga terseret ke dalamnya.


Sedangkan Isel, jika Mamanya tahu dia seorang hacker yang banyak merugi sudah pasti seluruh aksesnya akan dimatikan.


Kedua tangan Aira dan Isel tergempal, diamnya Lea tidak bisa mereka remehkan. Dia memang memiliki kemapuan menghacurkan masa depan orang.


"Baiklah, kita ambil jalan tengah untuk saling mendukung, bukan menjatuhkan. Bantu aku untuk segera menahan Ira dan Elo, juga menyingkirkan perusahan Gilang." Secepat mungkin Lea ingin menyelamatkan perusahaan, tanpa campur tangan keluarganya lagi.


"Apa kamu sekarang mulai serakah?"


"Mungkin, aku ingin segera mengembalikan Blackat ke posisinya, dan menjaga para artis lain agar tetap aktif." Lea khawatir jika tidak secepatnya diselesaikan, artis yang berada dalam naungan perusahaan akan kehilangan banyak jobs.


Ucapan Lea dibenarkan oleh Aira, memang terlalu bahaya jika Lea tidak segera mengambil alih perusahaan.


"Seharusnya kamu segera pulang, Papi dan Mami kamu pasti cemas sekali." Isel meminta Lea menghasut Papinya untuk segera mengeluarkan Ira dan Elo dari jabatan jika tidak bukan hanya prusahan agensi yang hancur, tapi perusahaan lain yang tidak bisa beroperasi.


"Ucapan anak kecil ini benar juga, aku harus kembali." Lea melangkah pergi, tangan Isel mengenggam jam tangan menempel sesuatu.


Tatapan Lea langsung ke arah Isel, melepaskan jam tangannya dan melihat sebuah stiker kecil yang sebenarnya alat perekam canggih.


"Aku tidak akan mudah kamu tipu." Lidah Lea terjulur mengejek Isel.


"Itu demi keamanan kamu Lea, kita juga harus mencurigai kedua orang tua kamu." Ai meminta Lea memakai jam jika ingin bekerja sama.

__ADS_1


Akhirnya Lea pergi sambil membawa jam tangannya, tidak ada jawaban dari Lea untuk merespon ucapan Ai.


Setelah Lea pergi, Isel menarik kursi Aira untuk mendekatinya jika ada satu hal yang membuat Isel binggung. Hubungan Lea dan Blackat bukan kandung.


Kepala Aira mengangguk, dia sudah tahu jika keduanya bukan kandung. Kematian Anggrek memang sudah bisa dipecahkan, tapi kematian ibu Black belum.


"Sebenarnya apa yang Blackat inginkan? dia menghancurkan dua perusahaan. Jika ingin langsung saja membocorkan soal rekaman video, lalu membersihkan namanya?"


"Tidak semudah itu monyet!"


Jika Black hanya ingin membongkar kejahatan Elo, itu memang hal yang mudah tidak harus menghacurkan karirnya.


Ai yakin ada yang Blackat dan Dean sembunyikan, keduanya pasti tidak ingin ada pihak luar yang ikutan masuk hingga membahayakan salah satu pihak.


"Pihak itu siapa Kak?"


"Aku dan Lea, juga bantuan Dean dan Juan. Alasan Blackat ingin segera keluar dari dalam perumahan kita karena takut melihat lebih banyak orang." Ai berbisik pelan, meminta Isel tidak terlalu banyak ikut campur.


Apa yang dia ketahui cukup tahu, tidak membocorkan ke pihak manapun. Jika sampai keberadaan Blackat bocor, dia bisa dalam bahaya. Bukan hanya Black, tapi mereka semua.


Tangan Isel langsung hormat, senyuman terlihat. Blackat pasti meminta Dean menunda mengirim Isel ke luar negeri demi keamanan.


Suara panggilan Dean terdengar, Blackat langsung menemuinya untuk melihat hasil pekerjaan Dean.


"Apa yang harus Isel lakukan di sekolah bodoh itu?"


"Jadilah siswa berprestasi di sana, pihak sekolah akan merekomendasikan kamu untuk masuk ke gedung pertemuan para pejabat negara. Selidiki siapa Papi Lea." Senyuman Aira terlihat, dia tahu jika Isel sebenarnya sangat cerdas.


"Lalu apa yang kama kamu lakukan?"


"Pastinya mencari uang, bertahun-tahun aku berjuang ingin menjadi artis ini waktunya untuk membuktikan, lagian masih ada drama yang sudah panas harus aku panaskan lagi." Tawa licik Aira terdengar, dia memiliki urusan pribadi.


Bisikan Lea membuat Aira melotot, melemparkan menggunakan sepatu, tapi Isel berhasil menghindar.


Suara lari Isel terdengar, melompati kepala Dean yang sedang memainkan laptopnya. Satu tangan Dean terangkat menahan perut Aira untuk berhenti.


"Apa lagi yang membuat kalian ribut?"

__ADS_1


"Apa ini berkas yang kamu maksud Dean?" Blackat menatap Isel yang berlari ke arahnya.


Isel melompat mengecup pipi kanan dan kiri Blackat, teriakan Aira terdengar begitu dengan Blackat yang menutup kedua Pipinya.


"Isel sialan! binatang kamu!" Ai menghentak kakinya berjalan ke arah Blackat.


"Ini bukan salah aku, lagian kalian berdua kenapa mencium aku?" Black yang seharusnya marah dan kesel.


"Ah sial! Ghiselin aku sangat membenci kamu." Ai mengacak rambutnya, pipi Blackat bukan miliknya lagi gara-gara Gisel.


"Aku juga sangat membenci tindakan kalian,"


Suara teriak Isel menang terdengar, mengejek Aira yang merengek seperti anak kecil karena bisa mengambil ciuman Blackat.


"Pipi Ayang punya Isel, ini juga punya Isel." Kecupan mendarat di kedua pipi Dean.


Suara Isel berlari hampir menangis terdengar, Dean mengejarnya karena tidak suka disentuh oleh wanita.


Tawa Black dan Aira terdengar, melihat dari lantai atas Isel berlari keluar rumah. Dean terus mengejarnya karena tidak suka dicium.


"Kurang ajar sekali kamu!" Dean memukul kening Isel kuat sampai dua kali.


Tangisan Isel terdengar, marah karena Dean tidak bisa bercanda. Dia hanya bermain, bukan maksud melecehkan.


"Dean memang tidak lembut kepada wanita?"


"Iya, dulu dia membuat wanita menangis, mempermalukannya di depan umum karena menulis surat cinta." Dean tidak memiliki perasaan jika menyangkut wanita, baginya sama saja menganggu hidupnya.


Senyuman Black terlihat, Dean dan Juan dua orang yang tumbuh bersama, tapi memiliki sikap berbanding terbalik.


"Hanya Juan yang lembut kepada wanita?"


"Siapa yang mengatakannya? dia jauh lebih kejam. Menganggap wanita seperti hantu, tidak terlihat dan tidak berperasaan." Ai tidak merekomendasikan Juan ataupun Dean, keduanya anti wanita.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2