SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
HUKUMAN


__ADS_3

Tangan Aira melambai mengantarkan suaminya yang pergi untuk meeting di perusahaan, Ai sengaja tidak ikut pergi karena dia ada urusan bersama Isel.


"Good morning Kak, di mana Mami dan Papi?"


"Di rumah Kak Juan, di sana sedang repot ada dua baby." Ai memakai high heels terbaiknya untuk segera berangkat.


"Sudah izin suami belum?"


"Jika aku izin memangnya diizinkan?" kening Aira berlipat-lipat karena ucapan Isel tidak masuk akal.


Tawa Isel terdengar, meminta Aira memakai topinya karena Isel sedang tidak ingin repot membantu Aira jika dilabrak penggemarnya yang terlalu antusias.


"Di mana dia sekarang Sel?"


"Pemotretan brand ambassador." Isel menunjukkan isi ponselnya yang membuat Aira memicingkan mata.


Tanpa diketahui siapapun, Isel melaju pergi bersama Aira untuk menemui Wenda yang mereka ketahui baru saja mendapatkan penawaran brand ternama.


Sesampainya di gedung, Isel melangkah keluar lebih dulu, barulah Aira menyusul demi keamanan dirinya.


"Kak Ai ada pemotretan sore ini, Isel temani?"


"Emh ... boleh.' Senyuman Aira terlihat tidak biasanya keduanya akur dan sangat kompak.


Mata Aira terbelalak besar saat melihat Wenda sedang tertawa bersama staf yang bertugas menjaganya.


Terdengar pembicaraan jika Wenda bergabung dengan Agensi yang sudah diambil alih oleh Blackat, Wenda mengumumkan jika Blackat meminta Wenda secara langsung agar menjadi aktris di perusahaanya.


"Benarkah, kenapa aku tidak tahu?" Aira menatap Wenda dengan senyuman yang sangat manis.


"Siapa kamu sehingga harus tahu?" Wenda tidak mengenali siapa Aira padahal nama Ai jauh di atasnya.


Manager Wenda menegur, memperkenalkan jika Aira istrinya Blackat, mereka dua artis besar yang menjalin hubungan cukup lama, dan berakhir di pelaminan.

__ADS_1


Senyuman Wenda terlihat meremehkan, dia sudah tahu lama dunia selebriti, apa yang dulunya dikabarkan lama sebenarnya tidak benar.


Banyak Aktris yang menjalin hubungan hanya ingin menaikan namanya, dikagumi dan disebut sebagai pasangan paling sempurna, tapi dibalik layar keduanya memiliki kehidupan masing-asing.


"Kamu sedang menyindir siapa, diri kamu sendiri yang secara tiba-tiba mengungkap jika kamu dan Angga memiliki hubungan spesial. Bukannya kamu juga sedang mencari nama?" Ai duduk santai melihat hasil foto yang nampak biasa saja di matanya.


Semua staf keluar meninggalkan Aira dan Wenda juga Isel. Ketiganya duduk santai membicarakan foto Wenda yang terlihat sangat biasa apalagi tubuhnya tidak indah.


"Kamu tidak tahu siapa Blackat dahulu, aku tahu semua masa lalunya, aku berharap akan ada film bersamanya dan tunggu saja, Black akan segera menceraikan kamu." Ancaman Wenda terdengar membuat Aira dan Isel tertawa kecil.


Jika kamu mencari lawan lihat dulu siapa orangnya, apa yang kamu ketahui soal masa lalu Kak Black bukan faktanya." Isel geleng-geleng karena Wenda benar-benar tidak tahu siapa Aira.


Wajah Wenda nampak tersentak kaget, tangan Aira mencekik memberikan peringatan jika dirinya tidak main-main jika ada yang mengusik rumah tangganya.


Aira tidak peduli apapun yang dilakukan oleh Wenda, tapi jika sampai menganggu dirinya apalagi membawa nama suaminya maka sikap iblis Aira akan muncul, dia bisa melenyapkan Wenda dengan sangat mudah.


"Aku tidak takut sama kamu, aku akan melaporkan pengancaman ini!" seru Wenda dengan nada yang sangat tinggi, dia idak terima dengan peringatan Aira apalagi sudah menyakiti fisik.


Senyuman Aira terlihat, menganggukkan kepalanya tidak masalah jika Wenda tidak ingin mendengarkan. Rencana Aira memberikan tiga peringatan, tapi berubah menjadi satu kali peringatan.


Mata Aira melihat ke arah Isel, memintanya untuk tahan diri, orang seperti Wenda terlalu kecil, dia baru saja muncul mungkin akan segera menghilang kembali.


Apa yang pernah terjadi kepada Silvia seharusnya cukup menjadi tamparan bagi siapapun yang mencoba menantang, dia kehilangan ketenaran dan hidup dalam persembunyian.


"Aira, jangan karena kamu terkenal bisa mengancam aku, tidak ada yang aku takuti di dunia ini," ujar Weda begitu yakin.


"Aku hanya memperingati, aku tahu kamu teman lama Angga, tapi hargai jika dia suamiku, selain sebagai aktor dia juga memiliki keluarga. Siapa kamu yaang berhak wawancara di beberapa media menyebutkan hubungan lama kalian. Kamu tidak menghargai keberadaan aku." Ai masih bicara santai tidak ingin tersebut emosi sehingga melayangkan pukulan.


"Memang aku tidak peduli, aku tidak ingin tahu soal rasa kamu. Sebaiknya kalian berdua pergi, aku muak melihat wajah kamu." Mata Wenda tajam memalingkan wajahnya merasa Aira hanya sampah.


Tangan Aira tergempal, mendekati wajah Wenda karena hari terakhir baginya untuk ada dibalik layar kamera.


"Kita pergi dari sini Sel, aku masih ada pemotretan." Ai langsung melangkah keluar dari ruangan kerja Wenda.

__ADS_1


Langkah Isel mendekati Wenda, hanya bisa geleng-geleng karena sikap sombong dan berlaga kuat hanya akan merugikan dirinya sendiri.


"Aku peringatkan, jika kamu mengalami kecelakaan, ingat wajah aku." Isel melambaikan tangannya langsung berlari kecil mengejar Aira.


"Kalian pikir aku takut dengan ancaman." Wenda tersenyum sinis langsung beranjak pergi karena pemotretan sudah usai.


Panggilan terdengar di ponsel Wenda, seorang wartawan ingin bertemu karena ada beberapa hal yang ingin dibahas.


Senyuman penuh kebahagian, Wenda pergi sendirian tanpa tim karena pekerjaannya sudah usai.


Sepanjang perjalanan dia bernyanyi kecil, merasa sangat bahagia karena banyak uang yang masuk karena ada banyak wawancara.


"Aira Aira, kamu tidak mengenal dunia keartisan lebih dalam. Beraninya kamu mengancam senior." Wenda melewati jalani sepi, kecepatan cukup tinggi karena buru-buru.


Kecepatan semakin tinggi tanpa mampu Wenda kendalikan, wajahnya langsung panik karena mobilnya sangat cepat seperti dikendalikan menggunakan remote.


"Aku tidak menekan apapun, tapi kenapa kecepatannya sangat tinggi? aku belum ingin mati," teriakkan Wenda terdengar meminta tolong.


Mobil terjun bebas ke bawah jurang, Wenda berhasil lompat dari mobil karena pintunya berhasil terbuka.


"Tolong, tolong selamatkan aku," pinta Wenda berderai air mata.


Darah mengalir di kepalanya, tangan Wenda hanya mampu berpegangan di pohon tanpa bisa bergerak.


Suara mobil meledak terdengar, Wenda semakin gemetaran tubuhnya sudah penuh luka karena terhempas bersama mobil.


Dari atas jurang Aira dan Isel berdiri, melambaikan tangannya kepada Wenda yang sangat ketakutan saat bertemu mata dua iblis yang berencana membunuhnya.


"Seharusnya aku meledak saj di dalam mobil, ternyata dia berhasil keluar." Isel menggeleng sambil tertawa.


"Apa kamu masih ingin bermain-main denganku, aku bicara baik kalian remehkan maka bertahanlah di sana sampai kamu mati perlahan." Ai bertepuk tangan karena sangat menyenangkan melihat Wenda menangis takut jatuh.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2