
Pagi-pagi Dean sudah membuatkan sarapan, menunggu Isel yang tidak kunjung bangun. Dean juga tidak tega ingin membangunkannya karena nampak lelah.
Hidung Isel mengendus membau nasi goreng kesukaannya, Dean sengaja meletakkan di atas meja kamar agar Isel bangun sendiri.
Kepala Isel terangkat, matanya terbuka sebelah melihat Dean berdiri dipinggir ranjang mengulurkan tangannya.
"Isel, kenapa tidur lagi?" Dean menatap ponsel Isel yang berdering panggilan dari Diana.
Dean langsung menjawab, tersenyum melihat kakaknya yang juga tersenyum karena merindukan Dean dan Isel yang sudah berbulan-bulan tidak pulang.
"Di mana Isel?" Diana mengecup pipi suaminya yang sedang bermain senjata.
"Masih tidur, di sini baru jam sembilan pagi Kak." Dean mendekati Isel memintanya bangun.
"Mama ini tidak tahu aturan, ini masih pagi sudah menelepon, seperti tidak ada waktu lagi?" Isel menarik selimut menutupi kepalanya.
"Anak kurang ajar, bukannya menyapa orang tua, dia marah-marah. Mama hanya ingin tahu kondisi kalian karena mendengar kabar soal Hairin." Diana meminta Dean menjelaskan kasus yang membuat Dean menjalankan misi secara diam-diam.
Senyuman Dean terlihat, dia lega karena korban berhasil ditemukan, tapi tetap ada rasa kecewa karena dirinya gagal menangkap Bian.
Gemal sudah mengingatkan, setengah dari pejabat di wilayah tempat Dean berada ada di pihak Bian.
Dia akan menghilang sesaat, cepat atau lambat pasti muncul lagi. Tertangkap atau tidaknya Bian bukan sesuatu yang bagus.
"Dean, kejahatan itu memang harus dihentikan, tapi satu tertangkap ada sepuluh penjahat baru. Jangan kecewa dengan hilangnya Bian, jika sudah waktunya kita akan tahu akhir hidup Bian." Gemal meminta Dean melanjutkan tidurnya agar beristirahat sejenak dari urusan Bian.
Diana hanya terdiam, dia mengenal baik siapa lawan Dean, tapi Di tidak ingin ikut campur. Kejahatan Bian dirinya yang menciptakan.
Panggilan mati, Dean mengangguk pelan karena dia juga tidak ingin terlalu berlarut dengan hilangnya Bian.
"Sampai kapan kamu bergulung seperti itu?" Dean menarik selimut agar Isel mengeluarkan kepalanya.
"Uncle ingat tidak apa yang terjadi semalam?"
"Memangnya apa yang terjadi, aku tidak tahu?" Dean menujukkan wajahnya yang polos.
Kening Isel berkerut, dia sangat yakin jika Dean ada di atas tubuhnya. Mereka melakukan malam pertama, tidak mungkin Isel hanya bermimpi.
"Kenapa Isel sudah menggunakan baju, bukannya Isel tidur tanpa baju?"
"Isel sadar, apa yang sedang kamu bicarakan?" Dean menepuk wajah Isel agar sadar dari mimpi kotornya, Dean tidak tahu apapun yang sedang Isel bicarakan.
Bibir Isel manyun, matanya berkaca-kaca membuat Dean tertawa lepas karena gemes melihat Isel menangis hanya karena Dean melupakan kejadian malam.
__ADS_1
Dia tidak sadar jika semuanya nyata karena Dean bersikap santai tidak merasa canggung tapi Isel yang merasa canggung dan malu.
"Kenapa menangis?" Dean mengusap air mata Isel yang kesal.
"Masa iya Isel mimpi?"
"Mimpi apa?"
"Uncle," panggil Isel sambil menangis karena dikerjai.
Dean menatap mata Isel, menanyakan saat Isel menangis keluar dari kamar sebelum dia pergi ke pesta.
Rekaman CCTV ditunjukkan agar Isel berkata jujur, Dean masih merasa terganggu dengan dua ekspresi Isel padahal saat Isel pulang dirinya sedang tidur.
"Kenapa kamu menangis?"
"Emh ... Uncle mengatakan tidak akan pernah jatuh cinta, Uncle tidak mungkin bisa mencintai." Tatapan Isel fokus ke depan tidak ingin melihat wajah Dean.
"Hanya itu, lalu masalahnya?" Dean masih belum paham dengan kekecewaan di mata Isel.
"Kenapa Uncle tidak peka sekali, Isel sudah mengatakan jika Isel mencintai Uncle, tapi Uncle bicara seperti itu jika tidak bisa mencintai. Lalu bagaimana hubungan pernikahan kita, apa tahun depan Uncle akan menceraikan Isel?"
Ekspresi Dean kaget, hanya bisa geleng-geleng karena pikiran Isel sungguh jauh dan tidak sepemikiran dengan Dean.
"Apa pernikahan sesimpel itu di mata kamu? kenapa kita menikah jika tahun depan bercerai?" Dean tidak pernah memikirkan sebuah perceraian dia hanya berusaha menata hati dan perasaan agar bisa menerima jodoh yang ditakdirkan.
Setelah menikah, Dean hanya memiliki doa agar rumah tangganya bahagia, hatinya bisa mencintai lebih dari apapun. Dean tidak terpikirkan sebuah perpisahan, kecuali maut memisahkan.
"Sel, aku hanya takut menyakiti kamu, jika orang lain yang melakukannya aku bisa marah, memukulnya dan melindungi kamu, tapi jika aku yang melakukan. Uncle harus melakukan apa?"
"Bagaimana hubungan Uncle dan Kak Irin?" Isel memeluk erat Dean tidak ingin memberikan jarak sedikitpun.
"Hairin, ada apa dengan Hairin?"
"Bukanya Uncle mencintai Kak Irin?"
Kedua kalinya Dean terkejut, dia tidak pernah mengatakan jika mencintai Hairin. Hubungan keduanya dekat karena memang pekerjaan yang melibatkan banyak komunikasi dan bertemu.
Saat Daddy dan Papa Irin ingin menjodohkan Dean menyerahkan segalanya kepada Daddy Dimas karena saat itu Dean hanya fokus dengan pekerjaan.
"Aku harus mengambil kasus Hairin bukan karena hubungan keluarga kita dan Uncle Yandi baik, tapi ini permintaan khusus seorang ayah. Apa kamu pikir aku melakukan ini karena mencintai Hairin?"
Isel langsung bungkam, memang benar Dean tidak pernah mengatakan langsung. Isel hanya berasumsi sendiri jika suaminya mencintai wanita lain.
__ADS_1
"Uncle hanya mencintai Kak Aira?"
"Astaghfirullah Al azim Isel, tidak ada obrolan lebih bagus lagi. Kenapa aku mencintai istri Kakakku?"
"Bukan begitu Uncle, dulunya." Isel tertawa karena wajah kesal Dean menatapnya.
"Iya dulu," balas Dean yang membuat bibir Isel manyun.
Tatapan mata Isel tajam, tidak suka mendengar jawaban Dean yang mengatakan tanpa berpikir.
"Kenapa manyun, kamu bertanya aku jawab." Dean mendekati wajah Isel yang cemberut.
Senyuman Isel terlihat mengecup bibir Dean, menyentuh lehernya mengecup pelan membuat Dean memejamkan matanya.
"Uncle, apa yang terjadi semalam?" Isel memeluk erat karena Dean membuka bajunya.
Suara bel terdengar, Isel menahan Dean agar tidak pergi. Isel memulai lebih dulu sampai Dean tidak konsen dengan suara bel rumah.
Suara Isel terdengar, mengulangi kembali hubungan panas yang terjadi saat malam. Isel dan Dean sadar sepenuhnya apa yang sedang mereka lakukan.
"Kamu menyesal tidak Sel?"
"Kenapa, Uncle menyesal? Isel menatap wajah Dean yang meneteskan keringat.
"Tidak, aku hanya takut?" Dean memeluk erat, mengecup kening Isel lembut.
Setelah bel berhenti berbunyi, panggilan di ponsel Dean juga terdengar pangggilan dari Mommy, tidak mungkin dirinya menjawab saat sedang bercinta.
"Kenapa mereka menghubungi di saat seperti ini?" Dean mengambil ponselnya langsung dimatikan.
"Apa yang Uncle takutkan?" Isel meminta Dean berada di bawah.
Dean hanya diam, tidak ingin menjawab pertanyaan Isel, dirinya risih berhubungan sambil mengobrol.
"Uncle," panggil Isel tidak ingin bergerak.
"Diamlah Isel, aku hanya takut ketagihan." Dean menarik tubuh Isel ke dalam pelukan.
Tawa Isel terdengar, Dean ternyata memiliki hasrat yang jauh di atas Isel. Jika Isel hanya hobi menggoda, tapi suaminya yang tidak sanggup digoda.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1
***
happy dulu sebentar sebelum konflik lebih berat lagi.