
Tiga bulan di rumah akhirnya Isel sudah bisa keluar, tidak ada yang dicemaskan karena ketiga anaknya dijaga oleh neneknya dan baby sitter.
"Sudah lama tidak melihat orang gila, waktunya kerja." Isel berjalan masuk ke rumah sakit.
Teriakkan Isel terdengar, kedatangannya disambut oleh pria muda yang mengalami depresi ditinggal menikah.
"Dokter Isel sudah kembali."
"Berisik, kapan kamu ini sembuhnya?" Isel menendang bokong agar segera pergi.
Tawa terdengar melambaikan tangannya kepada Isel yang berjalan ke arah ruangan rapat.
Beberapa dokter, perawat menyambut kedatangan Isel yang akhirnya kembali setelah cuti lama.
"Apa kabar Dokter Isel?"
"Baik, kita mulai saja rapatnya." Isel duduk di antara para dokter lainnya.
Tarikan napas Isel terdengar melihat satu pasien yang terlihat semakin tersiksa, tanpa ada yang peduli.
"Kita larikan saja ke rumah sakit, bagaimanapun juga dia berhak mendapatkan pengobatan," ucap Isel.
"Sudah, tapi dia memberontak hingga membuat kekacauan, Dokter spesialis juga meminta dipulangkan."
Kepala Isel tertawa tertunduk, sudah tahu apa yang terjadi. Salah satu pasien tidak bisa dirawat lagi, apalagi ada penyakit mematikan berkurang di tubuhnya.
"Izinkan aku menemuinya sebelum dia diakhiri." Isel meminta laporan medis.
Sepanjang jalan ke kamar pasien, Isel masih fokus kepada laporan medis. Langkahnya terhenti melihat seorang pria berbadan tinggi menatap ke arah ruangan salah satu pasien.
"Bian, apa yang kamu lakukan di sini?"
Bian menoleh ke arah Isel, kaget melihatnya karena datang ke tempat yang tidak seharusnya dirinya kunjungi.
Tatapan Isel ke arah seorang wanita yang nampak menyedihkan, infus terpaksa berkali-kali disuntik bius agar tidak mengamuk.
"Aku dari mengunjungi seseorang, tidak sengaja lewat sini. Aku pergi dulu Sel," pamit Bian tanpa menunggu jawaban Isel.
__ADS_1
"Dia tidak akan hidup lama, para Dokter sudah merembukkan jika pasien ini untuk diakhiri hidupnya," ucap Isel yang masih fokus melihat ke arah depan.
"Kenapa, dia masih sehat. Kenapa harus di bunuh?"
"Ini bukan di bunuh Bian, tapi menyudahi rasa sakit. Wanita ini sudah berada di sini selama tiga puluh lima tahun, sepuluh tahun yang lalu dia divonis mengidap penyakit mematikan." Isel menarik napas karena merasa sangat kasihan, tapi tidak ada pilihan. Dirawat juga tidak menyembuhkannya karena sudah stadium akhir.
Kedua tangan Bian tergempal, tatapan matanya tajam penuh kemarahan, tapi tidak ada tempat meluapkannya.
Isel melihat ke arah Bian yang terlihat sangat terpukul, bisa paham dengan tatapan matanya. Tidak ada yang tahu bagaimana kisah hidup Bian, apa kebenarannya mungkin dirinya juga tidak tahu.
"Siapa dia?"
"Tidak tahu, aku tidak bisa mengingatnya." Air mata Bian menetes menyentuh tralis besi yang menjadi pembatas.
Bian berlutut, andai dirinya bisa bertanya siapa yang melahirkannya, ingin tahu mengapa dirinya dilahirkan hingga akhirnya hidupnya hancur.
"Bukannya orang tua kamu sudah meninggal, bukannya kamu ...." Isel mengurungkan niatnya karena setiap orang memiliki rahasia pribadi.
"Selama satu tahu aku mencarinya, tapi langkahku dibawa ke sini. Kenapa Mama di situ, kenapa tidak Bian saja yang mengantikan?" tangisan terdengar menyayat hati, lelaki yang hancur mentalnya, mencoba memperbaiki diri namun terpukul kembali dengan kenyataan.
Tatapan mata tajam dari seorang wanita tua memeluk boneka bayi untuk diamankan. Tidak mengizinkan ada yang menyentuh anaknya.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Isel melihat tubuh kurus.
Tidak ada jawaban, hanya gerakan menimbang bayi agar tidak takut ada orang yang datang.
"Ma, apa aku sudah terlalu terlambat untuk datang? Lihat aku Ma," pinta Bian menyentuh tangan yang tersisa kulit.
Tangisan meraung-raung terdengar, Isel menoleh ke arah lain meneteskan air matanya karena pertama kali melihat Bian menangis.
Beberapa penjaga berlarian, tapi kepala Isel menggeleng membiarkan Bian melepaskan rasa rindunya.
"Kenapa aku harus selalu berakhir begini?" pukulan tangan kuat mengenai lantai.
"Aduh sakit, sabar ya Nak." Suara terdengar membuat Bian semakin teriris melihat wanita yang melahirkannya meletakkan boneka bayi, lalu memegang perutnya yang terasa sakit.
"Sakit ya Ma, kita ke rumah sakit dan obati sakitnya. Tidak apa jika tidak mengenali Bian, cukup kita bisa hidup sebagai keluarga." Tangan Bian menyentuh kaki sampai bersujud memohon agar Mamanya bertahan.
__ADS_1
Obat yang Isel suntikan membuatnya tenang hingga perlahan tidur, obat sakit juga sudah disuntikkan.
Usapan tangan Isel pelan dipunggung Bian menyemangatinya, meminta Bian lebih kuat lagi.
"Sel, bantu aku mengeluarkan Mama dari sini. Aku mohon Sel." Bian berlutut di hadapan Isel sambil menangis.
Tidak peduli sebesar apapun karma hidup karena banyaknya dosa, Bian siap menanggungnya, tapi ingin satu kali saja berbakti kepada orangtuanya.
"Jangan katakan tidak ada peluang, aku mohon Sel. Aku akan berlutut kepada seluruh keluarga kamu untuk mengobatinya, sekalipun kalian menginginkan nyawaku akan aku berikan, setidaknya izinkan aku mengobati satu kali saja." Kedua tangan Bian terlipat sambil memohon.
Kepala Isel mengangguk, sebesar apapun kesalahan Bian tidak sedikitpun Isel membenci, dirinya sudah memaafkan.
"Tunggu di sini, aku akan mendapatkan surat izin untuk membawa ke rumah sakit. Kita berjuang satu kali lagi, tapi jika takdir tidak merestui maka jangan pernah berubah." Senyuman kecil Isel terlihat meminta Bian berdiri.
Kepala Bian mengangguk, menatap Mamanya. Mengenggam tangan erat memohon untuk sehat.
"Ma, Bian keluar dulu. Nanti Bian temani untuk berobat, Mama jangan menyerah dulu." Hati Bian terasa hancur karena harus keluar.
Isel mengunci kembali pintu, melangkah kembali untuk mendapatkan izin. Langka Isel terhenti menatap kembali ke arah Bian yang masih menunggu di depan pintu.
"Sejahat apapun setidaknya dia punya hati, tidak berbakti kepada orang lain, tapi dia begitu memuliakan ibunya." Air mata Isel menetes tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Bian.
Permintaan izin Isel tidak diterima, terjadi perdebatan karena Isel mempertaruhkan statusnya.
Apapun yang terjadi menjadi tanggungjawabnya, tidak peduli sebesar apapun kerugian Isel akan tetap membawa ke rumah sakit.
"Sel, jangan gegabah. Karir kamu bisa hancur, dia akan mengamuk hingga merusak nama baik rumah sakit ini," jelas Dokter meminta Isel tidak melakukan hal yang merugikan.
"Aku akan tetap membawanya pergi, dan mempertaruhkan status yang hanya tertulis di selembar kertas. Orang tuaku saja tidak mampu menahan, mengancam dan menghentikan aku, lalu apa yang aku takutkan di hadapan orang lain." Isel melangkah pergi mengambil surat izin dan meletakkan tanda tangannya menjadi penanggung jawab.
Senyuman Isel terlihat menatap Bian masih berdiri menatap wanita yang baru dirinya temukan, wanita yang mengalami gangguan jiwa karena dipisahkan dari anaknya sejak bayi.
"Orang tua mana yang mampu dipisahkan dari buah hatinya, dan anak mana yang sanggup melihat Ibunya merasakan sakit."
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1