SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
MENGENANG MASA LALU


__ADS_3

Tiba di pantai langsung rusuh karena melihat air laut yang nampak tenang dan indah. Ura bersemangat langsung buka baju ingin mandi.


"Pipi, Ura mau mandi terus berenang jauh sampai ke tengah," pinta Ura bersemangat.


"Memangnya kamu bisa berenang palingan tenggelam," sindir Aira yang terheran-heran melihat semangat Ura.


Mobil berhenti di parkiran. Angga keluar untuk menyapa para penjaga yang sudah menyiapkan segala keperluan.


"Bagaimana penjagaan?" tanya Dean yang meliaht ke arah Villa.


"Aman tuan, tidak akan ada pengunjung yang akan datang ke sini," balas penjaga memastikan khusus untuk keluarga.


Suara Hasan dan Husein berlari terdengar karena mengejar Ura yang sudah lari kencang ke arah pantai.


"Belum boleh Ura, ini masih siang tunggu sore saja." Hasan menangkap tubuh Ura untuk segera kembali.


"Tidak mau Kak, aku mau mandi. Ura mau kenalan dengan Ikan hiu dan putri duyung." Ura berteriak histeris, dua lelaki yang memegangnya tidak mengizinkan.


Husein mencoba menjelaskan jika putri duyung hanyalah mitos daan tidak mungkin muncul ke pantai, sedangkan ikan hiu salah satu hewan berbahaya. Jika sampai ada hiu pasti alarm peringatan pantai akan berbunyi.


"Nanti nanti sore sekarang kembali ke tempat keluarga," pinta Hasan tegas.


Senyuman Angga terlihat mengusap dadanya setidaknya aman karena Ura sangat takut dengan Hasan Husein.


Terpaksa Ura kembali ke tempat peristirahatan yang sudah disiapkan, naik ayunan setelah memakai bajunya.


"Ini anak satu tidak paham dengan bahaya, tidak sadar jika masih kecil dan membutuhkan pengawasan." Ai mencubit pipi Ura karena kesal melihat tingkah lakunya.


Semua orang melihat ke arah pantai, ternyata Mimor sudah terjun lebih dulu menjadi tontonan anak-anak yang lain.


Kepala Ura panjang melihat kedua kakak perempuannya yang tidak mengajaknya bermain.


"Rasanya Aira ingin pergi ke pantai bermain selancar, posisinya air laut sanga cocok untuk bermain." Wajah sedih nampak murung


"Ayolah Mi kita main, Ura juga mau, tapi takut sama Hahu."


"Siapa Hahu?" tanya Isel penasaran.


"Hasan Husein, Ura takut jika Hahu marah, matanya seperti api neraka," keluh Ura bernegosiasi dengan Umi-nya.


"Nanti saja Ura, kamu mandi bersama Pipi kamu." Ai tidak ingin repot harus menjaga.


Suara tepuk tangan terdengar, melihat Mimor bermain selancar. Terlihat sesekali jika kakaknya sangat hebat dalam bermain.

__ADS_1


Ai menitipkan anak-anaknya kepada suaminya karena ingin bermain air, Ura tidak berani karena Hahu masih duduk memantau Mimor.


"San turun sini," teriakan Mira terdengar meminta adiknya turun.


"Pergilah Sein," pinta Hasan.


Kepala Husein menggeleng menolak untuk keluar karena masih panas, kulitnya bisa gosong karena angin pantai dan panas bisa lebih cepat menghitamkan apalagi terkena air asin.


"Jika aku turun kamu juga turun," pinta Hasan memaksa.


"Bawa Ura saja turun, Ura mau lo Kak." Bibir Ura manyun melihat Aira dan Isel sudah turun untuk berselancar.


Tangan Hasan terulur membawa Ura yang ingin bermain di pantai karena sudah memelas dengan wajah sedih.


Isel dan Aira turun ke air mengalahkan Mimor yang memang ahlinya dalam menaklukan gelombang.


"Ternyata Aunty juga hebat dalam berselancar." Mira mengangumi Aira yang memiliki wajah cantik, berdiri di atas gelombang.


"Aku pikir yang di film bohong, ternyata asli dia bisa." Mora melihat Aira dan Isel yang tertawa bersama.


"Hasan cepat turun, mana Husein?" Mira menatap Husein masih berada di tempat istirahat memantau menggunakan kacamata hitam.


Teriakan semua orang histeris saat Hasan yang biasanya berada di ruangan hening, menatap layar komputer ternyata memiliki kemampuan juga.


"Ura mau ikut Kak," teriakkan Ura terdengar memakai pelampung, histeris melihat Mimi-nya bersaing dengan Isel dan Hasan.


"Pipi bisa, ayo Pi."


"Jika jatuh jangan menangis Ura," tegur Mira yang melihat Mora sudah duduk memantau.


Blackat mendorong papan selancar, Ura sudah duduk di atasnya, teriakan Ura terdengar saat tubuhnya berdiri bersama Pipi-nya yang juga berdiri di papan selancar.


Semua orang teriak panik karena Ura masih terlalu kecil sudah bermain bahaya, Aira langsung berhenti karena takut terjadi sesuatu.


"Takut tidak Ura?'


"Tidak Pi, Ura suka. Ura mau buat lautan di rumah kita biar bisa main selancar." Tawa Ura terdengar merasa senang melihat semua orang menatapnya.


Senyuman Angga terlihat tidak menyangka jika putrinya memang pemberani, dia bisa mendengarkan instruksi.


"Awas Ayang, membuat Ura jatuh," teriakkan Ai kuat karena cemas.


Ura dan Pipi Angga terjatuh, tubuh Ura hilang di dalam air, Angga langsung mengangkatnya, tapi bukan tangis yang terdengar melainkan tawa.

__ADS_1


"Lagi, Kakak Hasan bawa Ura."


"Tidak boleh Kakak Hasan masih dibawah umur, tidak boleh membawa anak-anak." Angga menggendong Ura di lehernya.


Kedua tangan Aira memegang dadanya karena panik, Ura di nasihati tidak boleh melakukan kecuali bersama Pipinya.


"Membuat panik saja, jika dia minum air bagaimana?" Ai memukul dada suaminya.


"Sengaja aku jatuhkan, pikirnya akan menangis ternyata minta lagi." Kepala Angga geleng-geleng karena melihat Ura yang tidak ada takutnya.


"Bawa Aira juga," pinta Ai untuk bermain lagi seperti beberapa tahun yang lalu saat pertama bertemu.


Tangan Angga terulur, menyambut tangan istrinya untuk bermain berdua, sedangkan Isel bersama dengan Hasan yang tidak kalah hebat.


Husein juga turun, menarik tangan Kakaknya Mora untuk bermain bersama, keduanya terlihat sudah biasa melakukannya.


"Aunty Isel turun, cari suami Aunty. Mira yang dari tadi panggil Hasan." Lidah Mira terjulur langsung pergi bersama Hasan untuk bermain.


Helaan napas Isel terdengar, melihat ke arah suaminya yang tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.


"Dean mana bisa bermain selancar karena dia hanya menyukai duduk diam seperti batu."


"Menyebalkan sekali Isel juga mau."


"Main sendiri saja Mi, jangan manja." Ura membuat gunung dari tanah yang sudah basah sambil menunggu giliran.


Tawa Aira daan Blackat terdengar, Isel serasa melihat kemarin di masa dahulu saat keduanya masih musuh bebuyutan.


Tidak disangka menjadi pasangan terfavorit bahkan sampai memiliki tiga anak. Isel yang dulunya mengidolakan Blackat ternyata hanya sebatas penggemar dan ipar.


"Sayang, awas." Aira menutup matanya.


"Kamu ingat jika dulu hanya beban?" tawa Angga terdengar karena shooting lambat ulah Aira yang tidak pena casting, tahunya main film hanya karena dia memiliki banyak penggemar.


"Kamu pasti kesal sekali bermain film dengan Ai?"


"Banget, sampai rasanya aku ingin batalkan kontrak karena cerita Action berubah romance karena kamu." Pelukan Angga erat tidak menyangka jika wanita yang dulunya beban tim menjadi istrinya.


Wanita yang sangat dicintainya, juga ibu dari ketiga anaknya. Sungguh pertemuan yang luar biasa indahnya setelah bersama.


"Blackat, aktor yang paling ingin aku hancurkan," gumam Aira menatap suaminya.


"Jangan lupa aku ayah dari anak-anak kamu." Angga mengecup bibir istrinya sekilas.

__ADS_1


***


Ada novel baru KINARA DAN PARA PENGACAU. jangan lupa mampir tayang di NOVELTOON


__ADS_2