
Tangannya terkepal, rahang pria tampan itu mengeras manakala ucapan Gian membuatnya benar-benar bungkam. Jika saja Raka tak berada di sana, sudah tentu ia akan melampiaskan amarahnya pada meja tiada salah itu.
"Ck, apa kalian tidak lelah begini terus?"
Baru kali ini, dengan begitu dinginnya Raka menelisik manik kedua putranya bergantian. Ia tahu, baik Gian maupun Haidar berada di posisi yang benar berdasarkan versi mereka, berbicara tentang hak yang memang menjadi milik Gian, tapi Haidar juga belum melepas tentu saja.
"Haidar! Bukankah semua ini kau yang merencanakan? Lalu kenapa liburanmu kau isi dengan hal-hal yang semakin membuatmu terluka?"
Di luar dugaan Haidar, bahkan sang Papa tak melepaskan dirinya. Hal-hal konyol yang Haidar lakukan dapat Raka ketahui lewat Randy yang juga khawatir Haidar akan melakukan hal gila nantinya.
"Dan untukmu, Gian!! Bukankah seharusnya kau menjaga sikapmu? Kalaupun kau bahagia, bisa sedikit lihat ke arah adikmu?"
Keduanya terdiam, Gian tak mampu berkutik ketika Raka telah bicara demikian. Begitupun Haidar, pria itu kini menunduk dan enggan menatap balik netra tajam sang Papa.
Raka tak marah, hanya saja memang cara Gian menunjukkan sikap berlebihan akhir-akhir ini. Seorang pemerhati seperti Raka dapat mudah menilai orang dengan mudah, walau telah dewasa kedua putranya tetap menjadi fokus yang takkan ia lepaskan.
Bukan ia tak suka Gian menemukan kebahagiaan, tapi melihat betapa sakit putra bungsunya, Raka merasa bersalah. Karena bagaimanapun akhirnya, luka yang kini Haidar rasa itu berasal darinya.
"Mengertilah, Gian ... kau sudah dewasa, Papa tidak pernah mengajarkanmu untuk membunuh karakter orang seperti ini," tutur Raka seraya membuang napas perlahan, kedua putranya sama berharga, tak ada pembeda dan Raka mencintai mereka sama besarnya.
"Mas ... selesaikan dulu, bicarakan lagi nanti." Jelita turut bicara, karena merasa saat ini bukan tempat yang tepat untuk mengatakan hal itu pada putranya.
Raka menatap sejenak ke arah istrinya, memberi isyarat untuk diam sejenak. Mungkin bagi Jelita ini bukan saat yang tepat, tapi tidak bagi Raka. Sebuah kebetulan membuatnya memutuskan untuk mengatakan hal ini sekaligus.
Karena Radha kini berada di kamar, keputusan Raka untuk menegur kedua putranya ia rasa adalah saat yang tepat. Karena jika dibiarkan berlarut-larut, sampai kapan Haidar akan terus tersiksa dengan tindakan Gian yang di sengaja membuat batin adiknya tertekan terus menerus.
__ADS_1
"Pa ...." Gian ragu untuk berucap, sebenarnya ia merasa tak terima dengan kalimat sang Papa yang membuatnya terdengar jahat.
"Bukan hanya Gian, tapi kau juga, Haidar ... bukan kali pertama, Papa minta maaf karena ini semua memang salah Papa ... Papa hanya tidak mau, hadirnya Radha membuat darah yang mengalir di tubuh kalian seakan tiada artinya."
Hanya itu yang Raka khawatirkan, manakala hubungan keduanya makin renggang, karena memang sejak Gian resmi menjadi suami Radha tidak ada kata damai yang sesungguhnya.
Tanpa perlu Raka meminta orang untuk memata-matai putranya, ia menyadari bahwa memang hubungan mereka tidak lagi sewajarnya. Gian yang selalu mencari cara melemahkan Gian, sedangkan Haidar juga berusaha mematahkan Gian dengan membawa sejuta kenangan masa lalunya bersama Radha.
"Iya, Pa ... aku mengerti," ucap Gian memberanikan diri menatap wajah sang Papa, sadar betul bahwa apa yang Raka katakan memang tak sepenuhnya salah.
"Hm, Gian yang Papa kenal memang tidak punya nurani, tapi untuk Haidar kau redam sedikit egomu itu, Nak."
Ia tersenyum miring, sepak terjang putranya memang patut di banggakan. Raka seakan memberikan semuanya untuk Gian, tanpa sisa putranya itu benar-benar sama seperti dirinya.
"Kau paham semua yang Papa katakan, Haidar?" Raka kini beralih pada putra bungsunya, walau sedikit tersayat menatap wajah sendu yang sejak tadi hanya tertunduk lesu, Raka hanya mencoba membuat putranya kembali kuat.
"Paham, Pa."
Ada senyum disana, walau sedikit terpaksa namun Raka tahu seberapa sulitnya Haidar menunjukkan itu. Matanya memerah, memang putra bungsunya ini lebih lemah dan mudah terbawa suasana seperti istrinya, berbeda dengan Gian yang bahkan tak bisa dibedakan dia tengah bahagia atau berduka.
"Hentikan tangismu, Haidar ... kebahagiaan untukmu masih menanti, bukankah kau menjadi pemeran utama bersama idolamu?"
Haidar terperanjat, bagaimana Raka dapat peduli dengan hal semacam itu. Ingin ia menghambur ke pelukan sang Papa detik ini juga, senyum hangat sang Mama membuatnya luluh seketika.
Selama terjun di dunia hiburan, tak sedikitpun Raka memberikan dukungan secara langsung padanya. Dan kini, entah terlalu berlebihan atau bagaimana, Haidar merasa berbeda walau hanya sebuah kalimat tanya dari seorang Papa.
__ADS_1
"Iya, Mas ... siapa namanya?"
"Jesica, Jenifer atau siapa aku lupa."
"Jeny, Pa."
Dengan senyum leganya, Haidar membenarkan jawaban Papanya. Meski ia tahu, tentu Randy yang menyampaikan hal semacam itu pada mereka. Walau, hatinya masih sedikit tersentak dengan apa yang Raka ucapkan, tapi ia membenarkan fakta itu.
Bagaimanapun saat ini, Gian dan dirinya adalah saudara kandung yang seharusnya tak boleh pecah hanya karena perkara cinta. Meskipun ia tahu, bahwa mengalah itu teramat sakit, namun Haidar akan memilih jalan itu.
Sakit, ia rela karena tak mungkin keduanya harus menjadi tanggung jawab Radha yang juga sama-sama korban dalam hal ini. Mungkin benar kata sang Mama, bahwa jika Radha bersamanya pun, mungkin tak akan sebaik bersama Gian.
Tuhan telah mengatur, apa dan siapa yang ditemui di dunia telah ia kehendaki jauh sebelum manusia itu ada. Menerima kenyataan dan berdamai dengan keadaan memang sulit, tapi akan lebih sulit lagi jika menolak keduanya yang pada akhirnya harus di terima jua.
Layaknya Haidar mencoba tersenyum dengan luka, Randy menatap jauh dari pintu kamarnya. Hembusan napas perlahan menenangkan jiwa, tiada cinta tanpa rasa sakit, sebesar apapun kebahagiaan yang dilahirkan atas nama cinta, walau sedikit sakit itu pasti tercipta.
Dan perihal harapan, memang tak selamanya hidup berjalan seperti apa yang terbayang dalam angan. Yang ada hanya realita, jangankan sesuai harapan. Bahkan ia berbanding terbalik dari apa yang di impikan.
..................... 😌❣️
Sehat selalu kalian semua, yang sering begadang terumata, aku lihat jam 2 an malem ada yang baca, kalian ngapain epribadiii jam segitu belum tidur.
Terima kasih, buat yang lom baca Alvino mampir di My Bastard Husband ya. Buat yang udah, ya makasih masih mau nunggu aku up walau seadanya mueheh. Love You🎤
MT, Bisakah kau promoin karya aku di beranda??!! Aku capek pembacanya ga nambah"-_
__ADS_1