Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Dia Hanya Kesalahan (Maya)


__ADS_3

Cukup lama Gian menelusuri jalan berbatu itu, Radha bahkan merasa sakit pinggang lantaran jalan yang mereka tempuh seburuk akhlak Gian. Iya, begitulah Radha menganalogikan keadaan saat ini.


"Kak, kita tidak salah jalan?"


Radha merasa aneh dengan jalan yang di tempuh Gian, karena seingatnya jalan menuju desa kelahiran Bundanya tidak seburuk ini. Jelas Gian salah, meski sudah lama tidak mengunjungi Maya, ia ingat meski sedikit-sedikit.


"Hm, tidak, kalaupun salah, itu karena Mama salah memberi petunjuk."


Seorang Gian, tak menerima fakta bahwa ia salah. Baginya, tidak ada yang salah dengannya, dan itu adalah prinsip hidupnya.


Masih dengan percaya diri luar biasa, Gian terus melajukan mobil itu bak kura-kura masuk angin. Bahkan lebih cepat dari jalannya bayi yang baru bisa berjalan.


"T-tapi jalannya aneh, Kak. Seingatku, tidak ada jurang sedalam ini di sisi kiri jalan menuju desa Bunda."


Gian terdiam sejenak, ia tatap jauh kedepan sana. Memang jalan itu terlihat sangat aneh, bahkan terlihat jelas tak pernah di lewati. Radha yang mulai panik menatap Gian dengan berjuta ketakutan di benaknya.


"Kak, bagaimana? Mundur aja ya, sepertinya Kakak salah pilih jalan."


Radha mulai berani berpegang pada lengan Gian, ia benar-benar takut. Suara hutan yang begitu khas membuatnya berdesir, Radha sejenak menoleh, mungkin Gian salah ambil jalan kala di persimpangan beberapa saat lalu, pikir Radha.


"Ehm, baiklah," jawab Gian mengiyakan, wajah panik dan pucat Radha membuatnya mengalah dan memilih untuk menuruti ucapan sang Istri.


Tentu saja dengan berjalan mundur, mana mungkin mereka putar balik di jalan yang hanya bisa satu arah itu. Tak dapat dipungkiri, Gian juga sama paniknya, hanya saja ia harus menyembunyikan hal itu agar Radha tak semakin takut.


*******


"Huft, akhirnya," ujar Radha bernapas lega, segera ia melepaskan pegangan tangannya kala mobil itu telah berhasil keluar dari jalan kecil nan menyiksa itu.

__ADS_1


Gian sadari, sedari awal masuk jalan itu, tak ada signal sehingga mereka tidak mampu menghubungi Jelita dan juga Raka. Wajah tenang Radha sejenak Gian tatap, cukup bersyukur lantaran istri kecilnya itu baik-baik saja kini.


Senja mengiringi perjalanan mereka, kejadian di perjalanan cukup membuat mereka terlambat. Hilal pedesaan kini terlihat sudah, jejeran rumah sederhana dengan banyaknya anak kecil bermain bersama membuat Radha berbinar.


Meski sesaat binar itu hilang kala rumah megah di tengah desa itu mulai terlihat. Radha membeku kala kecepatan mobil mulai berkurang, ia tatap Gian sejenak meminta ketenangan.


"Ada apa?" tanya Gian kala Radha menahan tangannya ketika Gian hendak keluar.


"Tidak apa, tunggu sebentar saja," ujar Radha menghela napas perlahan. Ia memejamkan sejenak mata indahnya, ia hanya takut menemui Maya hanya akan menyayat luka lama.


"Kau kenapa, Zura?" tanya Gian merasa aneh dengan perubahan sikap Radha ketika tiba di depan rumah Ibunya.


Tak ada jawaban, ia juga takkan menceritakan banyak hal lebih dulu pada Gian. Biarlah nanti semua akan paham tentang dirinya tanpa penjelasan yang harus ia uraikan.


Senyum kelu itu menimbulkan tanya, ia memutuskan untuk akhirnya turun kala Gian membukakan pintu mobil. Ia tatap wajah sendu Radha, kerinduan dan nestapa terbesit di dalamnya.


Suasana dingin menyambut mereka, entah karena sejuk atau karena senyuman Maya yang kini menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.


"Radha ...."


Bibir itu bergetar kala langkah putrinya semakin mendekat, menatap putrinya adalah sebuah luka untuk Maya. Penghianatan Ardi semakin tergambar jelas, dan Maya tak kuasa menahannya.


Ia menghentikkan langkahnya, mengalihkan pandangan dan kini menyilangkan tangannya. Jelita yang mewanti-wanti hal ini akan terjadi menatap Raka meminta pertolongan.


"Pergilah."


Sakit, Radha membeku mendengar ucapan dingin Maya yang terlontar begitu saja. Dimana letak hati seorang Ibu, bagaimanapun ia adalah anaknya, darah dagingnya. Sungguh hanya itu yang Radha sakitkan saat ini.

__ADS_1


"Maya."


Suara lembut Jelita begitu menenangkan, ia tahu betapa sakitnya Maya dulu. Ia tahu seberapa dalam lukanya Maya, namun bukan berarti keputusannya mengatakan Radha adalah sebuah kesalahan adalah hal yang benar.


"Kau merindukan putrimu bukan, lihat dia sudah besar ... dan kini janji kita terlaksana, anak kita telah berhasil menyatu dalam ikatan suci layaknya impianmu."


Radha mendengar samar ucapan Jelita, sedari tadi kristal bening telah menanti kapan waktunya akan tumpah. Perkataan Jelita yang secara jelas menjelaskan bagaimana Maya menganggapnya adalah luka terdalam untuknya.


Kemana lagi ia akan mendapat cinta, bahkan orang yang melahirkannya enggan menerimanya. Ternyata benar apa yang Dewi katakan tentangnya, hanya seonggok daging tak di inginkan.


Gian menatap lekat istrinya yang kini menunduk, menggenggam erar jemarinya dan menyalurkan ketenangan untuknya. Menatap Radha di perlakukan demikian, Gian mendapat jawaban dari pertanyaannya di mobil tadi.


"Tidak, Mba, putriku hanyalah Jingga dan Aruni. Bukankah Mba tau akan keputusanku ini?!!"


"May-"


"Bawa pergi dia dari hadapanku, aku tidak memiliki putri seperti dia!!" pekik Maya menunjuk Radha begitu sadisnya.


Plak!!


Ucapan itu terlalu menyakitkan untuk Radha, takkan ia biarkan perempuan mungil tanpa dosa itu merasakan sakit untuk kesekian kalinya.


"Jaga mulutmu!! Kau lupa bagaimana perjuanganmu memiliki dia?!!"


Ya, kali ini Raka bertindak. Ia merasa kesal lantaran Maya tak dapat menjaga lidahnya. Sangat amat tajam bahkan bisa di pastikan menantunya itu luka bersimbah darah.


"Papa,"

__ADS_1


Tbc


__ADS_2