Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Wisata Masa Lalu


__ADS_3

Gian tidak bercanda, memang dia benar melakukannya. Membawa Radha menghabiskan waktu dengan caranya, bagi beberapa yang menyaksikan hal itu terlihat manis, namun tidak dengan Radha.


"Memalukan," gerutunya dalam hati, walau sejak tadi Gian memintanya untuk tak peduli dengan sekitar, tetap saja Radha merasa malu.


Di luar memang begitu nyaman, merdunya suara ombak dan putihnya pasir pantai begitu menggoda. Tak begitu terik, namun juga tidak mendung.


Gian yang berencana pergi berdua saja nyatanya tidak demikian pada akhirnya. Randy yang tak mengerti keadaan Gian turut bersama mereka. Alhasil, wajahnya yang terkenal sebagai aktor luar biasa itu menjadi pusat perhatian banyak orang di sana.


"Sudah ku katakan akan repot, Om, masih saja."


"Ah diam kau, kau pikir dirimu saja yang ingin bersenang-senang, aku juga mau, Gian."


"Ya sudah, jangan protes kalau ini maunya Om."


Memang benar, Randy tak mampu berkutik. Berusaha bersikap ramah seakan tak terusik dengan kehadiran penggemarnya adalah hal biasa baginya. Tak memiliki privasi yang utuh adalah hal yang Randy alami sejak dahulu.


Radha mulai menikmati, sesekali ia bentangkan kedua tangannya untuk menikmati suasana lebih dalam. Dan hal itu jelas membuat Gian panik karena takut istrinya akan jatuh ke belakang.


"Pegangan, Ra."


"Ih, apa Kakak tidak panas aku nempel terus?" tanyanya sedikit tak terima kesenangannya Gian batasi.


"Tidak, cepat lakukan."


Wajah cemberutnya sempat menarik perhatian Randy, sungguh ia merasa tengah melihat sosok itu di hadapannya. Sebegitu miripnya, bahkan caranya menatap balik membuat Randy semakin rindu.


"Sebentar, Om lihat apa?" Gian menghentikan langkahnya, sadar kini Randy tengah memperhatikan istrinya.


"Istrimu sangat cantik ... persis ibunya, Gi."

__ADS_1


Gian mengernyit, begitupun Radha yang kini terdiam mendengar pernyataan itu. Apa yang Randy maksudkan, kenangan di masa kecil jelas tak dapat Gian ingat dengan baik, belum lagi Randy fokus dengan karirnya sejak lama hingga mereka berpisah sejak dirinya masih begitu kecil.


"Om kenal Mama?"


"Haha iya, kami bersahabat waktu SMA ... dia sangat lucu, dan menggemaskan."


Randy sejenak terdiam, deburan ombak kini menyapa kakinya. Terasa dingin bersamaan, dan ia tertawa sumbang sembari menghembuskan napas kasar.


Tak pernah ia duga, ucapan itu keluar dari bibirnya kala semua telah terlambat dan tak ada celah untuk mengulang. Lucu, menggemaskan bahkan ia rindu hal-hal yang dahulu ia anggap menganggu.


"Sabar, Om ... jangan mikirin istri orang, cari yang lain saja ya."


Turut berduka cita, Gian dapat merasakan kedukaan Randy kini. Setelah sempat terkejut kala mendengar kenyataan bahwa Maya tidak lagi menjadi janda seperti yang pernah ia dengar, Randy hanya mampu diam mengubur sejuta kenangan.


"Hm, aku hanya berharap ini adalah cinta terakhir Maya ... Ardi terlalu jahat untuk wanita setulus Maya," ujarnya lagi-lagi membuat Radha bungkam.


Radha tak buta, ia dapat mengerti bagaimana Ayahnya walau dulu kejadian-kejadian itu terjadi ketika ia belum dewasa. Bahkan fakta ketika Maya turut membenci dirinya dapat Radha terima, mungkin kebencian pada Ardi terlampau besar hingga membuat Mamanya turut membawa Radha dalam kesakitannya.


"Ck, pertanyaan apa itu, Gian!! Jangan bercanda kau."


Jelas ia malu, karena kini ada putri Maya yang dahulu sempat Randy temui ketika ia masih bayi. Jika bicara cinta, memang Randy tak membantahnya, namun hanya sekadar itu.


"Hahah aku tidak bercanda, Om ... bahkan kata Mama, kau hampir saja menikahinya, iya kan?"


Semakin malu, Randy benar-benar putus asa jika lawan bicaranya adalah Gian. Pria itu masih saja sama, mulutnya asal ceplos dan bicara seenaknya seakan tak dapat hilang, memang tabiatnya demikian.


Radha mulai mengerti, beberapa foto usang yang dahulu kerap menjadi sebab marahnya Ardi mungkin adalah Randy. Tak ia duga Randy sebegitu dekat dengan orang tuanya. Dunia sangat kecil ternyata.


"Ra, bagaimana menurutmu?"

__ADS_1


"Hah? Tentang apa?" Radha terperanjat karena ia tengah berpikir keras tentang bagaimana kehidupan mamanya dulu.


"Pria gila ini hampir menjadi ayah tirimu, hah untung saja tidak terjadi, kalau tidak ... semakin malang nasib istriku," ujar Gian mendramatisir keadaan dan membuat emosi Randy naik seketika.


"Dasar bocah laknat!! Kau yang gila, Gian."


Sungguh ia tak habis pikir, kenapa Gian dapat tertawa selepas itu seakan menjadikan penderitaannya sebagai hiburan. Keponakannya satu ini benar-benar bentuk Jelita yang terlahir kembali dalam wujud laki-laki.


"Kau lihat, dia gila kan, Ra?" semakin membuat panas Randy, pria itu benar-benar membuat habis kesabaran Randy.


"Kakak, jaga bicaramu," bisik Radha merasa Gian memang keterlaluan walau ya memang lucu dan ia sempat tertawa mendengar ucapan Gian.


"Radha, sungguh malang nasibmu ... masih sekolah, di paksa menikah, dapat suami seperti dia pula."


Bergantian, kini Randy yang memutar fakta dan membuat Gian menghentikan langkah. Memang begitu ulahnya, Gian adalah manusia paling menyebalkan yang mau mengganggu tapi tak suka di ganggu.


"Maksudnya apa ya?" tanyanya menatap tajam Randy yang juga sengit menatapnya.


"Ya begini ... seenaknya, mau menang sendiri, mulutnya sembarangan, suka mengancam, egois dan hal-hal lain yang sungguh menyebalkan."


"Aha itu sangat tidak benar ... iya kan, Sayang?"


Radha mencebik, memang nyata apa yang Randy ucapkan. Tak ada yang salah sedikitpun, jika saja boleh memberi hadiah, ia akan memberikan hal itu untuk Randy karena berani mengungkapkan fakta yang berusaha ia terima walau sedikit menyiksa batin.


"Hahah istrimu saja membenarkan, huu ... semangat, Radha!!! Hadapi manusia ini sampai tua!!"


Merasa terancam karena mata Gian semakin tajam, usai memberikan semangat 45 Randy berlalu tanpa permisi, bahaya jika berada di tempat ini lebih lama, pikirnya.


............... 🌻

__ADS_1


Makasih Vote nya temen-temen, love You. Untuk kembalinya aku kali ini, semoga bisa menuntaskan kisah mereka. Walau alurnya sedikit lambat, dan memang kalau untuk pembaca, level dan lain sebagainya Gian memang jatuh dari beberapa bulan lalu. Tapi gapapa, untuk nulis kali ini aku tidak mikirin dapat apa dan berapa, tulus aku kelarin dan buat pembaca yang dah setia nungguin walau aku sering kabur berbulan-bulan.


Babay🌻


__ADS_2